VENGEANCES – My Name Is Jang Mari

VENGEANCES
Author : elship_L || Cast : Bae Sooji/Jang Mari, Kim Myungsoo|| Genre : Drama, Romance, Sad, Mystery, Crime || Rating : PG-19 || Type : Chapter

-My Name Is Jang Mari-

“ahh! Sial!”

Keributan kembali terjadi di dalam sebuah ruangan berpetak yang hanya berukuran 10 x 5 meter tersebut, sang pemilik mengatakan ruangan kecil nan pengap itu adalah sebuah rumah tapi melihat dari sudut pandang orang lain ruangan itu hanyalah tempat yang bahkan tidak layak dikatakan sebagai sebuah tempat tinggal.

Akan tetapi, sang pemilik-alias gadis yang sedang berlari kesana kemari untuk memakai pakaiannya itu mengatakan bahwa ruangan itu terasa lebih nyaman untuk ditinggali dibandingkan dengan sebuah suite room di hotel berbintang yang sering dilihatnya. Tidak peduli betapa kecilnya rumah tersebut dan betapa tidak layaknya tempat itu, setidaknya sudah dua tahun dia menghabiskan hidupnya di tempat itu dan sama sekali tidak pernah merasakan kerugian dengan tinggal di tempat seperti itu.

“astaga! aku benar-benar telat!” Teriakan tersebut mengakhiri keributan yang terjadi di pagi hari yang cerah ini, sang gadis dengan terburu-buru memakai sepatu boot kesayangannya dan kemudian keluar dari rumah. Setelah memastikan pintu rumahnya terkunci dengan rapat-meskipun dia ragu bahwa akan ada seseorang yang berminat untuk merampok isi rumahnya-gadis itu meletakkan kunci rumah ke dalam sebuah pot tanaman hias yang berada di samping pintu.

Kaki jenjangnya kemudian dia kayuh untuk menuruni tangga, ya–rumah miliknya adalah salah satu rumah atap yang sering disewakan kepada para perantau yang datang dari kota kecil untuk mengadu nasib di kota besar ini sendirian, sama seperti dirinya. Menyewa sebuah rumah atap sekaligus mendapatkan pekerjaan part time di coffee shop yang berada tepat di bawah rumah yang ditinggalinya adalah sebuah keberuntungan untuk perantau macam dirinya.

Akan tetapi semua pemikiran tentang keberuntungan yang dimilikinya seakan sirna sejak gadis itu bangun pagi ini.

“oh Mari, kau sudah akan berangkat?” Seorang pria keluar dari coffee shop tepat saat gadis itu-Mari menginjakan kakinya di anak tangga terakhir.

“aku sudah terlambat. Oppa, aku pergi eoh!” Seru gadis itu berusaha untuk berlari secepat mungkin agar dapat meminimalisir keterlambatannya, pria itu hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum geli melihat kelakuan gadis tersebut.

“oh, oh tunggu! paman tunggu dulu!” Mari berteriak sekencang mungkin saat melihat bus yang hendak dinaikinya sudah menutup pintu dan berjalan.

“paman, tunggu-haaah”

Saat bis tersebut akhirnya berhenti, Mari segera naik ke atas dan mengambil tempat untuk duduk. Nafasnya naik turun akibat berlari untuk mengejar bis, ditambah lagi kepanikannya karena terlambat. Dia mengutuk dirinya mengapa harus bersikap sok baik semalam dengan menggantikan shift salah satu pegawai di cafe sehingga membuatnya kelelahan dan tertidur seperti orang mati sampai pagi ini.

“ahh, sepertinya aku akan gagal lagi” Gumam Mari dengan wajah lesunya, kepalanya tersandar di jendela bis dan mengamati laju kendaraan yang berlalu lalang di hadapannya.

Jang Mari, itu adalah nama yang kudapatkan sejak aku berumur 10 tahun. Bagaimana tepatnya, aku tidak bisa mengatakan hal tersebut, tetapi aku bisa mengatakan bahwa nama itu aku dapat dari ayah kandungku. Tidak, bukan karena ayahku membuangku atau meninggalkanku. Aku masih sangat mengingat kata-katanya dulu, saat dia membawaku ke sebuah rumah di desa terpencil yang sama sekali tidak diketahui oleh siapapun kecuali kami berdua.

“Jang Mari, itulah namamu. Mulai saat ini dan seterusnya namamu adalah Jang Mari. Jangan bertanya atau mengatakan apapun, setelah kau dewasa kau akan tau mengapa namamu harus menjadi Jang Mari”

“Ingat pesan ini, jangan percaya pada siapapun. Jangan mendengarkan perkataan orang asing dan jangan membawa dirimu dalam bahaya”

Dan setelah itu dia menidurkanku di atas ranjang empuk. Aku sempat berpikir, ah, mungkin ayahku sedang ingin bermain, mungkin bermain rumah-rumahan di mana kita bisa mengganti nama sepuas hati. Itulah yang dipikiranku saat itu, hmm bagaimanapun aku masih berumur 10 tahun, jadi pemikiran seperti itu terdengar wajar untukku kan?

Tapi, aku sadar bahwa pemikiranku mulai salah. Ayah tidak ingin bermain denganku. Aku menyadarinya saat aku terbangun keesokan harinya di mana rumah yang kutempati saat itu sudah kosong. Ayah pergi, entah dia pergi ke mana, tapi aku tetap di sana dan menunggunya sampai dia datang padaku dan mengambilku kembali.

Dan sekarang aku mulai mengerti tentang isi pesan yang disampaikan olehnya dulu, mengapa aku tidak harus percaya pada siapapun, mengapa aku tidak boleh mendengarkan perkataan orang asing dan mengapa aku tidak boleh menjerumuskan diriku dalam bahaya. Sekarang aku tahu itu.
Saat ini aku sedang dalam misi untuk mendapatkan sebuah pekerjaan tetap, hanya dengan bekerja sebagai pelayan di coffee shop tidak akan bisa membuatku bisa menabung untuk bisa membeli sebuah rumah nanti. Jadi melamar di sebuah perusahaan yang cukup berprospek sepertinya bisa membantu keuanganku selama aku hidup sendiri.

Bruuugh~

“auhh, astaga!” Mari berseru saat dirinya tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang, akibat lamunannya dia sama sekali tidak melihat dengan jelas sehingga bisa menabrak orang tersebut.

“gunakan mata jika anda berjalan” Dengusan itu membuat Mari menghentikan rengekan kecilnya akibat perih yang terasa di telapak tangan kanannya dan mendongak untuk menatap siapa gerangan yang sudah ditabraknya.

Mata Mari menyipit saat pantulan cahaya memasuki kedua retinanya, tangannya yang tidak perih terangkat untuk melindungi matanya dari pancaran sinar matahari dan sedikit demi sedikit dapat melihat sosok pria yang berdiri tegap di hadapannya.

“nona apa anda akan duduk di situ seharian? Menyingkirlah, saya harus lewat”

Bayangan Mari tentang seorang pria berwajah tampan dan berhati malaikat yang akan membantunya sirna begitu saja hanya dengan satu kalimat tersebut. Mari mendengus kemudian beranjak dari tempatnya terjatuh.

“hei paman, setidaknya meminta maaflah karena telah menabrakku. Apa kata-katamu tidak terlalu kasar” Tegur Mari sembari melipat kedua tangannya di depan dada, pria itu mengerutkan alisnya meneliti penampilan Mari yang terlihat cukup berantakan tersebut.

Celana jeans kusam melekat sempurna dikakinya, dengan menggunakan atasan kemeja kebesaran yang melapisi sebuah kaos berwarna putih didalamnya, di tambah lagi sepatu boot yang butut dan tatanan rambut acak-acakan. Pria itu berdecak kemudian menggelengkan kepalanya dengan senyuman miring tercipta dibibirnya.

“paman? Cih” Pria itu berjalan melewati Mari begitu saja tanpa mengucapkan permintaan maaf seperti yang diharapkan oleh gadis itu, menyadari bahwa perlakuan tidak sopan dilakukan oleh pria itu, Mari langsung menoleh dan menatap dengan tajam punggung pria tersebut.

“apa-apaan? hei! Kau belum meminta maaf, Itu tidak sopan, kau tau huh!” Telunjuk Mari yang tadinya menunjuk punggung pria itu kini di singkirkan oleh salah seorang pria yang berbadan kekar.

“ap-apa yang kalian lakukan?” Cicit Mari ketika menyadari bahwa banyak pria berjas yang berada disekitarnya tengah menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi.
Mari mengerutkan keningnya saat pria-pria tersebut hanya berdiri di hadapannya tanpa melakukan sesuatu, seolah sedang menghadang dirinya agar tidak melangkah lebih jauh lagi untuk mendekati pria arogan tadi.

“aku sama sekali tidak berminat dengan atasan kalian. Tapi tolong sampaikan pesanku, jangan terlalu sombong jadi manusia! Cih, apa-apaan dia pergi begitu saja tanpa meminta maaf lebih dulu. Sopan santunnya di mana?” Mari mengoceh kepada kawanan pengawal tersebut, dan seperti yang dipikirkannya bahwa sama sekali tidak ada respon yang dia dapatkan dari pengawal itu sehingga Mari hanya bisa mendengus dengan kesal.

“oke! Kalian menang, aku pergi!” Seru Mari dengan wajah galaknya, dia kemudian berbalik dan berjalan menuju ke mana arah tujuannya tadi.

***

“tuan, silahkan lewat sini” Seorang wanita muda mengarahkan pria yang menjadi atasannya itu untuk masuk ke dalam sebuah ruang meeting, dia tersenyum lebar menyambut kedatangan atasannya akan tetapi sang atasan sama sekali tidak tertarik untuk membalas senyuman yang diberikan olehnya.

“jam berapa kita memulainya?” Tanya pria yang telah duduk di singgahsananya, wanita tadi menghampiri CEOnya dan membuka note book miliknya.

“10 menit lagi tuan” Jawabnya dengan cepat, pria tersebut hanya menganggukan kepalanya mengerti lalu mengibaskan tangannya pertanda bahwa dia menyuruh wanita tadi pergi untuk meninggalkannya sendiri di ruangan ini.

“saya permisi” Wanita tadi yang telah mengerti isyarat dari atasannya itu membungkukkan badannya sejenak kemudian keluar dari ruang meeting.

“heh, merepotkan” Gumam pria tersebut dengan wajah datarnya, tangannya bergerak untuk mengambil map yang berisi file untuk calon karyawan yang akan dia interview hari ini. Wajah datarnya masih terpampang dengan jelas ketika tangannya dengan lincah bergerak untuk membuka dan membaca lembar demi lembar data-data dari calon pegawainya.

Hingga raut mukanya perlahan berubah saat membaca data dari seorang gadis muda yang cukup familiar untuknya.

“paman, setidaknya meminta maaflah karena telah menabrakku. Apa kata-katamu tidak terlalu kasar”
Pria itu tersenyum menyeringai saat mengingat gadis yang menabraknya di halaman parkir gedung kantornya adalah gadis yang sama dengan pemiliki data yang tengah dibacanya tersebut, “ck, gadis kampung”

“tuan, kami akan memulai interviewnya” Suara dari seorang wanita membuyarkan fokus pria itu dari data dihadapannya, matanya bergerak ke arah pintu dan mengangguk kecil mempersilahkan sekertarisnya untuk memulai interview.

Satu persatu calon karyawan bergiliran untuk masuk ke dalam ruangan ini dan melakukan interview secara pribadi bersama dirinya, pria itu terus menanyakan beberapa hal yang memang layak untuk ditanyakan kepada calon pegawai yang nantinya akan bekerja di perusahaannya tersebut.

Hingga, giliran dari gadis yang sejak pagi tadi itu menyita perhatiannya itu untuk masuk. Senyumnya terulas saat melihat gadis tersebut berjalan menghampiri kursi yang tersedia dengan kepala tertunduk.

“Jang Mari-ssi?” Pria itu berucap memanggil nama gadis di hadapannya membuat gadis tersebut mengangkat kepala untuk menatap dirinya.

“pa-man?” Mari berseru kaget saat melihat wajah pria tersebut, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mengecek keadaan sekitar namun dia sama sekali tidak menemukan siapapun yang berada di dalam ruangan ini. Hanya dirinya dan pria itu.

“nah, Mari-ssi mulai sekarang jangan panggil saya dengan sebutan itu karena usia saya masih belum pantas untuk mendapat panggilan tersebut. Sekarang mari kita mulai interviewnya” Pria itu bersuara dengan nada yang terkesan dingin dan tanpa emosi di dalamnya membuat Mari membatu di tempat. Setelah memikirkan kejadian yang begitu sial pagi tadi sepertinya dia benar-benar akan gagal untuk mendapatkan pekerjaan kali ini.

“ah, sebelum kita mulai. Bisakah saya bertanya?” Pria itu menjentikan jarinya sebelum meyimpan lembar data milik Mari dan meletakkan kedua sikutnya di atas meja untuk menyanggah tubuhnya yang sedikit mencondong ke depan dengan tatapan tajam menatap Mari.

“i-iya silahkan pak” Cicit Mari, nyalinya benar-benar menciut setelah tau siapa pria tersebut. Tatapan tajam yang diberikan kepadanya membuatnya merinding dan sedikit takut, sementara pria itu hanya tersenyum kecil melihat gadis yang terlihat begitu pemberani saat pertemuan pertamanya tadi berubah menjadi seperti seekor tikus yang terpojok.

“apa yang anda kenakan saat ini?” Tanya pria itu dengan alis yang mengerut, Mari menatapnya dengan bingung kemudian mengecek penampilannya saat ini, celana jeans, kemeja dan sepatu boot. Pakaian yang sering dikenakannya, apa ada yang salah dengan pakaian tersebut? Mari mengerutkan keningnya dan berpikiran keras. Apa maksud pria tersebut bertanya seperti ini kepadanya.

“maksud anda?” Mari memiringkan kepalanya memasang wajah yang tidak mengerti membuat pria tersebut mendengus kemudian menarik dirinya dan bersandar di kursi dengan tangan yang bersedekap.

“apa anda tidak memperhatikan penampilan calon pegawai yang lainnya? Bukankah anda melamar pekerjaan di perusahaan ini untuk dijadikan seorang pegawai?” Tanya pria itu lagi, semakin mendengar pertanyaannya semakin membuat Mari bingung.

Gadis itu berpikir sejenak, penampilan calon pegawai lainnya? Seingatnya tadi dia melihat semua calon yang akan di interview memakai pakaian yang hampir sama, untuk pria memakai kemeja yang dilapisi oleh sebuah jas dengan celana bahan, dan untuk wanita mereka memakai celana bahan atau rok dengan atasan sebuah kemeja dan ada beberapa yang memakai blazer.

“mereka-” Mari menggantungkan ucapannya saat mencoba untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan pria tersebut, saat matanya beralih untuk menatap pria di hadapannya. Dia melihat pria itu menatapnya dengan senyum mengejek.

“oh astaga!” Mari memekik histeris setelah mengetahui kebodohannya kali ini, dia memejamkan matanya dan menepuk jidatnya beberapa kali.

“sudah mengetahui jawabannya nona Jang Mari?” Mari tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia memasang wajah pasrah dan mendesah dengan panjang.

“maafkan saya, pagi tadi saya telat bangun jadi saya terburu-buru untuk memakai pakaian dan tidak sempat memilih pakaian yang rapi, sekali lagi maafkan saya” Mari berdiri dari tempatnya kemudian membungkukan badannya sedalam mungkin agar permintaan maafnya tersalurkan dengan benar.

“saya tidak membutuhkan permintaan maaf anda. Kerapihan dan kedisiplinan adalah hal utama dan saya tegaskan pada seluruh pegawai yang bekerja di bawah saya dan setelah memperhatik-”

“arrggghh! Baiklah aku mengerti, sudah tidak perlu di perjelas lagi. Aku tidak akan diterima di perusahaan inikan? Baiklah bapak direktur yang terhormat, maafkan saya karena sudah tidak memperhatikan kerapihan dan kedisiplinan saya sebagai seorang calon pegawai di perusahaan bapak. Jadi terima kasih atas waktunya dan saya permisi!”

Pria tersebut hanya bisa melongo tidak percaya saat mendengar Mari menyela kalimatnya dengan sebuah teriakan yang cukup kencang, ditambah dengan raut wajah Mari yang sepertinya sedang marah tersebut. Dan akhirnya mata pria itu mengerjap saat dengan tidak sopannya Mari malah meninggalkan ruangan tersebut tanpa mendengar sepatah katapun darinya.

“hah, gadis yang tidak tau sopan santun!” Geram Pria itu sembari memejamkan matanya, dia cukup merasa kesal karena baru pertama kalinya ada seseorang yang berani menyela ditengah-tengah saat dia sedang berbicara dan bahkan meninggalkannya begitu saja tanpa membiarkan dirinya berbicara terlebih dahulu ataupun menyelesaikan kalimat yang hendak dikatakannya.

“gadis kampung!” Pekiknya dengan kesal sembari menarik lembar data Mari lalu menyobeknya menjadi kecil-kecil dan melemparnya hingga berserakan di lantai. Dia sama sekali tidak bermaksud menolak Mari sebagai pegawainya hanya karena penampilannya tersebut, dia hanya ingin memberikan peringatan lebih awal dan akan mempertimbangkan akan menerimanya atau tidak setelah melakukan sesi wawancara tapi sepertinya pilihannya benar-benar salah untuk mempertimbangkan gadis yang bahkan tidak memilih etika seperti Mari.

“Jiyeon!” Pria itu berteriak dengan keras sehingga membuat wanita yang sejak tadi mengurus segala jadwalnya itu masuk ke dalam ruangan dengan tegesa-gesa.

“anda memanggil saya tuan?” Wanita itu-Jiyeon menunduk dengan ngeri saat menyadari bahwa mood atasannya sedang tidak baik jadi dia memilih untuk tidak melakukan kontak mata dengannya atau sesuatu yang buruk akan terjadi.

“selesaikan interview ini, dan berikan padaku hasilnya sore nanti” Ucap pria tersebut membuat Jiyeon mengangguk mengerti.

“bagus, kerjakan segera!” Perintahnya, lalu beranjak berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut.

***

“ah sial, sial, sial!” Gadis itu merengek tidak jelas sembari membenturkan kepalanya di meja kasir yang sudah dua tahun terakhir dia tempati tersebut, sementara rekan kerjanya hanya menatap dirinya dengan pandangan yang bingung.

“kenapa Mari? Di tolak lagi?” Mari mengangkat kepalanya dan menatap seorang gadis yang sebaya dengannya dengan pandangan yang kesal, dia menggerutu pelan sebelum melemparkan tinju di udara pada gadis tersebut.

“sudah tau aku ditolak jangan bertanya lagi Lee Yubi!” Pekik Mari dengan kesal, gadis berparas ayu tersebut-Yubi hanya meringis dengan kikuk lalu beradu pandang dengan rekannya yang lain.

“jangan mengganggunya noona, dia pasti sedang kesal, biarkan dia sendiri” Bisik salah seorang pria yang berseragam sama dengannya dan Mari, dia lebih muda 3 tahun dari kedua gadis tersebut dan bisa dikatakan dia adalah pegawai termuda di cafe sehingga dia memanggil para pegawai wanita dengan panggilan noona dan pegawai pria dengan panggilan hyung.

“hei, kenapa kalian malah berisik siang-siang begini. Layani pelanggan sana” Seorang pria lainnya keluar dari pintu dapur dan menegur tiga sekawan tersebut yang terlihat santai di depan meja kasir sementara pelanggan cafe siang ini cukup ramai.

“kau tau Mari noona sepertinya sedang dalam suasana hari yang buruk. Jangan mendekatinya eoh, kau akan di cakar nanti” Pria tersebut hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.

“Kim Taehyung! Jangan mengatakan yang tidak-tidak, cepat antar pesanan ini ke meja 10” Pria yang bernama Taehyung memasang senyuman andalannya dengan memamerkan seluruh permukaan gigi putihnya tersebut kemudian meraih nampan yang berada di tangan pria dihadapannya.

“siap komandan!” Seru Taehyung lalu bergegas menuju meja nomor 10, sementara pria yang ditinggalkannya hanya terkekeh lalu menoleh pada Yubi juga ikut terkekeh dengannya akibat ulah Taehyung.

“ada apa dengannya? di tolak lagi?” Yubi meringis kemudian mengangguk kecil, matanya melirik kepada Mari yang sama sekali tidak tertarik untuk mendengar percakapan mereka berdua itu.

“tapi aku tidak tau kali ini alasannya karena apa” Jawab Yubi sembari berbisik pelan, pria tersebut mengangguk mengerti lalu menggeser tubuhnya untuk berdiri tepat dihadapan Mari yang berada di balik meja kasir.

“hei Jang Mari. Ini waktunya kerja. Aku tidak menggajimu hanya untuk meratapi nasibmu di saat jam kerja” Pria itu meletakkan telunjuknya di atas kepala Mari dan kemudian menggerakkan jempolnya untuk menjepit beberapa helai rambut Mari diantara telunjuk dan jempolnya, setelah itu dia menarik ke atas rambut Mari membuat kepala gadis itu ikut terangkat ke atas.

“Jang Mari-”

“ya ya ya, aku tau. Lepaskan rambutku” Dumel Mari dengan kesal, dia merapikan rambutnya dengan wajah yang cemberut lalu melemparkan tatapan sinis pada pria tersebut.

“nah, sekarang tersenyumlah jangan sampai membuat pelangganku ketakutan dengan wajahmu itu” Mari memutar bola matanya lalu mencebik dengan kesal.

“Seo Kangjoon-ssi, bukankah tempat anda ada di dapur? jadi tolong menyingkir dari hadapanku” Mari tersenyum dengan paksa lalu mengulurkan tangannya ke arah pintu dapur membuat pria tersebut membalas senyum Mari dan tersenyum lebar.

“aku mengerti” Kangjoon mengedipkan satu matanya pada Mari kemudian kembali ke tempat asalnya-dapur, Mari memasang wajah jijiknya sementara Yubi hanya tertawa melihat kelakuan mereka berdua.

“berhenti tertawa, cepat catat pesanan pelanggan yang baru masuk” Tegur Mari dengan ketus, Yubi berdehem pelan untuk menghentikan tawanya dan menegakkan badannya yang tadinya bersandar di meja kasir.

“ya, saya mengerti agasshi” Ucap Yubi dengan nada sesopan mungkin lalu berjalan dengan cepat menghampiri pelanggan yang baru saja duduk tersebut, Mari yang melihatnya hanya mencibir pelan.

Mari dan Yubi seumuran, hanya saja Yubi lebih tua beberapa bulan dari Mari tetapi dia selalu bertindak seolah dirinyalah yang lebih tua dari Yubi dan Yubi melakukan hal yang sebaliknya. Meskipun baru bertemu tetapi mereka sudah cukup dekat untuk dikatakan sebagai teman baik. Sementara Taehyung dan Kangjoon, kedua saudara sepupu itu juga sudah cukup dekat dengan Mari. Karena Taehyung-lah yang awalnya menawarkan pekerjaan kepada Mari sebagai kasir di cafe milik kakaknya saat mereka tidak sengaja bertemu di stasiun kereta api, sementara Kangjoon beberapa kali memberikan Mari makanan ketika gadis itu kehabisan makanan di rumahnya.

***

Yubi menyeruput ramyun yang masih mengepulkan asap dari dalam panci dengan terburu-buru, sementara Mari hanya meringis menatap gadis yang tidak merasakan kepanasan tersebut.

“hmm, jadi ceritakan padaku mengapa kau di tolak kali ini?” Tanya Yubi disela kunyahannya.

“sudah kukatakan, pertemuan pertamaku dengan direktur itu sangat tidak baik. Jadi dia membuat alasan yang tidak-tidak untuk tidak meloloskanku” Jelas Mari, dia mengikuti jejak Yubi untuk memakan ramyunnya namun dia masih memiliki indra perasa panas jadi dia meniup kuahnya dulu lalu melahapnya.

“ah begitu, lalu darimana kau bisa tau kalau dia sedang mencari alasan untuk memojokkanmu?”

“eisshh, aku sudah tau dari tatapannya itu. Dia bahkan terlihat begitu mengintimidasi, aku yakin dia akan segera menolakku bahkan sebelum melakukan interview makanya sebelum dia menjatuhkanku, aku yang mengambil tindakan lebih dulu” Yubi berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penjelasan Mari, meskipun matanya hanya berfokus pada panci ramyun dihadapannya tetapi telinganya menangkap dengan jelas apa yang dikatakan oleh Mari.

“astaga, kau sudah salah mengambil langkah noona” Mari mencebik lalu menolehkan kepalanya ke samping, dia menatap Taehyung yang sedang bersandar di kaki ranjangnya dan duduk dengan santainya untuk menonton acara di tv berlayar kecil yang dibelinya setahun lalu dengan menggunakan gajinya selama bekerja di cafe.

“apa yang kau lakukan di sini sebenarnya?” Tanya Mari menatap Taehyung dengan tatapan mencela, pria itu hanya tersenyum lebar lalu menggaruk kepalanya.

“Kangjoon hyung sedang keluar dan aku takut jika harus tinggal sendiri di rumah” Jawab Taehyung tanpa dosa membuat Mari dan Yubi memutar bola matanya secara bersamaan.

“ck, apa kau ini pria? Tinggal sendiri saja sudah ketakutan begitu” Sahut Yubi membuat Taehyung hanya melipat bibirnya ke dalam tanpa membalas perkataan Yubi.

“setelah kakakmu datang segeralah pulang, jangan mengacau di dalam kamarku”

“aku mengerti, aku akan segera pulang. Jadi nikmati saja makanan kalian noonim” Mari berdecak lalu mengalihkan perhatiannya lagi pada Yubi.

“aku harus mencari lowongan kerja di tempat lain lagi” Ucapnya membuat Yubi menghentikan gerakannya untuk mengambil ramyun dan menatap Mari dengan tatapan menyelidik.

“apa bekerja di cafe tidak cukup untukmu? Lihatlah, keperluanmu tidak banyak. Kenapa harus mencari pekerjaan di tempat lain?” Tanya Yubi dengan alis mengkerut, selama berteman dengan Mari dia tidak pernah melihat gadis itu memiliki kebutuhan yang banyak. Hanya membayar sewa tempat tinggal serta makan sehari-hari rasanya sudah cukup jika dia hanya bekerja di cafĂ©. Mari juga bisa dikatakan biasa, tidak seperti perempuan-perempuan lain diluar sana yang selalu ingin memakai pakaian atau barang-barang yang bermerk. Mari tidak terlalu memusingkan masalah itu, lalu mengapa dia menginginkan pekerjaan lain?

“Aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan ilmu yang kudapat setelah selesai bersekolah, lagipula jika aku memiliki pekerjaan yang lebih baik, aku tidak perlu mengkhawatirkan masa depanku. Aku akan memiliki jaminan untuk diriku sendiri. Sementara jika aku hanya bekerja di cafe, aku hanya bisa menjamin diriku saat ini saja, tidak dengan nanti” Jelas Mari dengan jelas.

“tapi kau akan menikah, tidak perlu khawatirkan masa depanmu. Calon suamimu yang akan memusingkan hal itu” Sahut Taehyung membuat Mari dan Yubi serentak menoleh padanya.

“eissh, jangan ikut campur pembicaraan orang dewasa. Kau nonton saja” Omel Mari membuat Taehyung kembali mencebikkan bibirnya dengan kesal.

“aku hanya memberikan pendapatku, kau ini wanita jadi tidak harus memiliki pekerjaan yang berat. Serahkan semua pekerjaan yang akan menghasilkan uang pada calon suamimu nanti, dan kau hanya perlu bekerja di rumah” Ucap Taehyung retoris, Mari dan Yubi melongo menatap pria di hadapan mereka. Ucapan yang dikatakannya benar-benar tidak sesuai dengan kepribadian yang dimilikinya selama ini, mereka tidak menyangka bahwa Taehyung akan mengatakan hal yang sedewasa ini, mengingat selama ini dia hanya bermain-main dan tidak pernah memiliki pemikiran yang serius sekalipun.

“aku juga harus menjamin diriku. Meskipun aku akan memiliki calon suami yang akan menunjang hidupku tapi kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Setidaknya akan lebih baik jika aku memiliki jaminan untuk hidupku sendiri” Taehyung hanya tersenyum lebar saat mendengar ucapan Mari, dia mengangguk setuju dan menggerling pada Yubi yang hanya diam saja sejak tadi.

“sekali-kali cobalah berpikiran realistis seperti Mari noona. Ckck, kau bahkan tidak tau kau akan jadi apa di masa depan nantinya” Ejek Taehyung sembari menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Yubi dengan mata yang menyipit.

“apa katamu? Hei!” Taehyung terkekeh melihat wajah Yubi menekuk, dia segera bangkit dari tempatnya saat menyadari bahwa Yubi akan memukulnya kali ini.

“Awas kau anak nakal!” Yubi berseru saat melihat pergerakan Taehyung, dengan cepat dia menghampiri pria itu, namun dengan gesitnya Taehyung berlari menghindar sembari memakai jaketnya.

“noona, terima kasih sudah meminjamkan kamarmu untukku. Mungkin kakakku sudah kembali” Ucap Taehyung pada Mari saat kakinya berlari menuju pintu, “aku pergi, selamat malam. Good night!”

“hei Kim Taehyung!” Pekikan Yubi menggelegar di dalam rumah Mari membuat sang pemilik rumah harus menutup kedua telinganya karena pengang, sementara pria yang membuat kesal Yubi sudah hilang di balik pintu membuat gadis itu mendengus dengan kesal.

“eishh, tidak perlu menanggapi ucapannya” Tegur Mari, Yubi mencebik dan melirik Mari dengan ujung matanya. Dia semakin menekuk wajahnya karena Mari malah lebih membela Taehyung daripada dirinya.

“tapi tetap saja, kata-katanya itu seolah sedang menghinaku” Gerutu Yubi melipat kedua tangannya di depan dada, melihat itu mau tak mau Mari tertawa kecil karena kelakuan Yubi yang tidak beda jauh dari Taehyung.

“dia tidak mungkin berniat untuk menghinamu, dia melakukan itu hanya untuk menggodamu saja. Kayak tidak mengenal anak itu saja”

“yah, teruslah bela adik kesayanganmu itu. Ck, kau bahkan tidak sedikitpun membela teman baikmu ini” Yubi memasang wajah cemberutnya, gadis itu memiliki perasaan cemburu yang sangat besar jadi wajar kalau dia mudah kesal disaat Mari lebih memilih untuk membela Taehyung dibandingkan dirinya.

“eih baiklah baiklah, besok aku akan menegur Taehyung untuk menjaga kata-katanya. Kau puas kan?” Ucap Mari akhirnya, Yubi melirik Mari sekilas mencoba melihat ekspresi wajah teman baiknya itu. Setelah memastikan bahwa Mari tidak berbohong barulah kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang manis.

“nah, kau terlihat lebih cantik jika tersenyum seperti itu. Sekarang ayo bersihkan ini dan tidur” Sahut Mari membuat Yubi mengangguk antusias. Mereka berdua kemudian membereskan piring makan yang telah mereka gunakan tadi hingga bersih.

“ibuku akan mengomel terus jika aku lebih sering menginap di tempatmu daripada di rumah sendiri” Ucap Yubi disaat mereka sedang menyiapkan tempat untuk tidur, mendengar itu Mari tersenyum dan memberikan bantal untuk Yubi pakai.

“lain kali aku yang akan menginap di tempatmu agar ibumu tidak selalu mengomelimu” Yubi mengangguk antusias mendengar ucapan Mari, dia tersenyum lebar dan menepuk bantalnya dengan semangat.

“benarkah? kau harus berjanji untuk itu”

“ya, aku janji”

“selamat tidur”

Mari tersenyum saat membaringkan tubuhnya, matanya yang masih menatap langit-langit kamarnya perlahan menutup dengan senyuman yang masih tersinggung di bibirnya.

“selamat tidur Yubi”

***

“Kim Myungsoo”

Pria yang sedang menikmati sarapan paginya itu menoleh saat mendengarkan sebuah suara familiar dari seorang wanita memanggilnya, dia tersenyum saat melihat wanita itu menghampirinya dan berdiri tepat di sampingnya.

“eoh noona, kau sudah bangun” Myungsoo tersenyum lebar pada kakak perempuannya itu, berbanding terbalik dengan wanita itu. Dia malah memasang wajah seriusnya dan sama sekali tidak tersenyum menanggapi sapaan Myungsoo.

“apa yang sudah kau lakukan?” Tanya wanita itu membuat Myungsoo meletakkan alat makannya yang sedari tadi dia pegang dan menoleh untuk menatap kakaknya dengan pandangan yang bingung.

“apa yang ku lakukan?” Tanya Myungsoo balik, wanita itu mendesah kemudian memejamkan matanya. Dia benar-benar terlihat sedang kesal saat ini, apalagi adiknya bertingkah seolah tidak habis melakukan suatu kesalahan.

“Jang Mari, apa yang kau lakukan padanya? Mengapa namanya tidak ada dalam daftar karyawan baru kita?” Myungsoo mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan kakaknya itu, karyawan baru?

“ah, karyawan baru? Memangnya apa aku salah menerima pegawai?” Wanita itu mendesah menatap adiknya dengan wajah tidak percaya, bagaimana bisa pria itu tidak menyadari potensi yang dimiliki oleh gadis yang sudah ditolaknya untuk bekerja di perusahaan?

“Tentu saja kau melakukan kesalahan, bagaimana kau bisa menolak Jang Mari? Astaga Kim Myungsoo, kau benar-benar-”

“Kim Taehee, Kim Myungsoo, kenapa begitu berisik sepagi ini” Kakak beradik itu sontak berbalik untuk menatap pria paruh baya yang baru saja memasuki ruang makan keluarga Kim pagi itu, Myungsoo tersenyum menyapa ayahnya sementara wanita itu-Taehee hanya mendengus dan menekuk wajahnya.

“ahbeoji, lihatlah kelakuan putra kesayanganmu ini. Dia sudah membuat kekacauan” Ucap Taehee mengadu.

“aku tidak mengacau noona, aku hanya melakukan tugasku” Sela Myungsoo membela dirinya, Kim Minsuk-ayah dari kakak beradik itu-hanya menggelengkan kepala saat dirinya duduk di kursi makannya.

“kekacauan apa lagi yang dilakukan adikmu Taehee?” Tanya Minsuk, Taehee beralih untuk duduk di dekat ayahnya dan menatapnya dengan serius.

“kau ingat dengan gadis yang kukatakan tempo hari? Jang Mari, dia telah melakukan interview di perusahaan tapi anak ini malah menolaknya. Kau tau ahbeoji aku sudah mengincarnya untuk proyek di Daegu” Jelas Taehee pada Minsuk. Pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya mengerti.

“Kim Myungsoo, apa alasanmu menolak gadis itu?” Tanya Minsuk pada Myungsoo, pria yang ditanyai itu memasang wajah berpikirnya sebentar.

“Dia sepertinya tidak benar-benar layak untuk bekerja di perusahaan kita” Jawab Myungsoo dengan yakin, mendengar itu Taehee menatap Myungsoo dengan mata yang melebar.

“tidak layak? Hei! Apa kau berpura-pura tidak tau atau memang tidak tau? Jang Mari adalah satu-satunya gadis yang memiliki kualifikasi paling baik untuk bekerja di perusahaan kita. Potensi dan kualitasnya sangat tinggi, kau benar-benar tolol” Ucap Taehee dengan kesal.

“Kim Taehee, jangan mengeluarkan kata kasar seperti itu kepada adikmu!” Tegur Minsuk.

“maafkan aku” Gumam Taehee dengan wajah ditekuk, dia sebenarnya tidak berniat untuk mengeluarkan kata itu, tapi emosinya telalu memuncak akibat kebodohan yang dilakukan oleh adiknya tersebut. Semua prestasi Mari bahkan tercatat dengan baik. Mustahil jika Myungsoo tidak mengetahui potensi Mari, kecuali kalau dia memang anak yang bodoh.

“Jang Mari? Kau serius mengatakan hal seperti itu tentang dia?” Myungsoo memandang rendah kakaknya itu seolah meremehkan kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Taehee. Dalam pikiran Myungsoo, Jang Mari tidak lebih dari sekedar seorang gadis kampung yang tidak memiliki sopan santun sedikitpun. Darimana kakaknya bisa melihat potensi diri gadis itu?

“Kim Myungsoo, aku tidak mengerti dengan kinerja otak cerdasmu itu. Dalam data yang dimiliki oleh Jang Mari sudah jelas tertulis berapa banyak prestasi yang telah dia dapatkan selama menjalani studinya di luar negeri. Dia adalah lulusan terbaik Oxford University untuk jurusan Bussiness Management, dan dia telah mendapatkan gelar magisternya hanya berselang satu setengah tahun dari tahun kelulusan strata satunya di Jerman. Lalu bagian mana dari Jang Mari yang tidak layak untuk masuk ke dalam perusahaan kita?”

Myungsoo melongo saat mendengar penuturan kakaknya tentang Jang Mari, gadis itu bahkan lulusan salah satu universitas terbaik di dunia. Sementara Taehee merasa puas melihat raut wajah Myungsoo yang seakan tidak percaya dengan ucapannya tersebut.

“Jang Mari? Kau serius noona? Gadis kampung itu lulusan Oxford?” Tanya Myungsoo tidak percaya membuat Taehee berdecak.

“tentu saja dan apa kau tidak pernah mendengar sebuah perumpamaan yang mengatakan jangan menilai sebuah buku dari sampulnya? Mari memang tidak terlalu memperdulikan penampilannya, tapi otaknya cemerlang dan aku yakin itu akan sangat berguna jika digunakan di perusahaan kita” Ujar Taehee, Minsuk yang sedari tadi hanya diam sembari melahap sarapannya mendengarkan dengan seksama perdebatan yang terjadi antara kedua anaknya.

Diam-diam dia tersenyum kecil mendengar tentang Jang Mari. Jika putri sulungnya, Taehee telah mengakui potensi dari gadis itu, berarti dia memang benar-benar akan berguna untuk perusahaan nanti. Dan dia selaku presdir dari Taeyang Group akan mengusahakan cara apapun untuk mendapatkan anak tersebut di dalam perusahaannya.

“tapi tetap saja noona, dia tidak memiliki sopan santun” Keluh Myungsoo, kembali mengingat pertemuannya dengan Mari yang sangat tidak berkesan dengan baik.

“aku sudah bertemu dengannya beberapa kali sebelum dia melakukan interview di perusahaan kita, dan dari pengamatanku dia adalah gadis yang paling sopan dan ramah yang pernah aku temui. Jika dia tidak sopan padamu, itu berarti kau melakukan hal yang sama kepadanya. Dia akan sopan padamu hanya jika kau juga bersikap sopan kepadanya” Myungsoo memutar bola matanya dengan kesal, bagaimana bisa dia bersikap sopan pada gadis urak-urakan tersebut, tata bahasanya saja tidak terjaga dengan benar.

“Jang Mari harus bekerja di perusahaan bagaimanapun caranya. Dan itu adalah tugasmu untuk memanggilnya kembali” Sambung Taehee membuat Myungsoo menatapnya dengan terkejut.

“tapi–”

“tidak Kim Myungsoo! aku tidak mau mendengarkan alasan apapun. Dapatkan gadis itu sesegera mungkin, kau tau akibatnya jika tidak membawa gadis itu ke dalam perusahaan kita” Sela Taehee menatap adiknya dengan tajam.

“ahbeoji-” Myungsoo merengek kepada ayahnya, mencoba untuk mendapatkan dukungan dari Minsuk. Namun sepertinya dia telah salah mengambil langkah karena saat ini ayahnya malah menatapnya dengan sangat tajam, seperti tatapan yang dilemparkan oleh Taehee kepadanya.

“ikuti kata kakakmu, ini perintah” Ucap Minsuk dengan singkat, lalu beranjak dari kursinya mengakhiri sarapannya pagi itu.

Mendengar ucapan ayahnya Taehee tersenyum dengan lebar dan menatap Myungsoo dengan pandangan mengejek sementara pria itu hanya mendesah dengan pasrah. Titah ayahnya adalah sebuah perintah yang mutlak, dia bisa mendapatkan hal yang terburuk jika berani untuk melanggar perintah itu.

“baiklah, aku akan berangkat sekarang. Semangat adik kecilku!” Taehee menggerling pada Myungsoo dengan senyumannya yang merekah kemudian meninggalkan Myungsoo sendirian di ruan makan.

“ahh, dasar menyebalkan!” Seru Myungsoo menekuk wajahnya sembari menatap tajam punggung Taehee, meskipun memiliki wajah yang cantik tapi kakaknya itu adalah satu-satunya orang terlicik yang pernah ditemuinya, dan julukan itu akan semakin melekat pada Taehee karena telah membuat dirinya harus menurunkan harga dirinya untuk memanggil Jang Mari bekerja di perusahaan mereka.

***

Mari tersenyum lega saat memberikan struk untuk pelanggan terakhirnya, sekarang sudah waktunya makan siang dan dia akan berganti shift dengan kasir lain yang sudah menunggu di belakangnya.

“Jaehyun, aku titip padamu ya” Ucap Mari pada pria muda itu, Jaehyun tersenyum dan mengangguk yakin.

“tenang saja noona, kau bisa beristirahat sekarang” Jawabnya membuat Mari mendesah lega meninggalkan meja kasir untuk pergi ke ruang penyimpanan mereka. Mari melepaskan topinya dan membuka kancing baju seragam yang dikenakannya jika berada dibelakang kasir, menyisahkan baju kaosnya.

“heh, kenapa hari ini terasa lebih melelahkan” Gumam Mari dengan wajah lelahnya, dia mengambil botol minuman dari atas meja dan meneguknya seketika.

Drrtt~ Drrtt~

Mari menggerakkan kepalanya kesana kemari untuk mencari asal dari getaran yang terdengar sampai ketelinganya, sampai matanya menatap ke arah lokernya dan mendekati loker tersebut dengan gerakan cepat. Tangannya mencari-cari ke dalam tas jinjing miliknya dan menemukan ponselnya yang bergetar.

“ahbeoji!” Serunya dengan wajah yang berubah menjadi antusias, dengan segera dia menerima panggilan tersebut.

“halo, ahbeoji” Sapa Mari dengan senang, terdengar kekehan dari seberang saat mendengar sapaan riang dari Mari.

“aku rasa kau sedang dalam mood yang buruk anakku”

“tepatnya tidak seperti itu, aku hanya sedang lelah. Ada apa? tumben kau menghubungiku terlebih dahulu” Tanya Mari, kembali menekuri minumannya hingga tandas. Dia benar-benar lelah, serta kehausan.

“apakah tidak boleh menghubungi anak sendiri?”

“bukan begitu, hanya saja–ya terserahlah. Tapi aku senang kau menelpon, aku merindukanmu”

“same here Mari. Oh ya, aku dengar kau melamar pekerjaan? Apa diterima?”

“ckck, aku tidak tau kau mendengarnya dari siapa tapi ya, aku melamar dan tidak, aku tidak diterima” Jawab Mari dengan malas sembari memutar bola matanya, meskipun ayahnya tidak menyadari dari seberang sana tapi dia merasa bersalah karena sudah berlaku tidak sopan terhadap ayahnya dengan memutar bola matanya.

“bagaimana bisa? Bukankah riwayat pendidikanmu cukup baik?”

“entahlah, aku pikir pemiliknya tidak terlalu menyukaiku jadi mereka tidak menerimaku”

“hmm, kalau begitu maukah kau pulang kerumah?”

Mari terpekur mendengar permintaan ayahnya, setelah dua tahun menetap kembali di Seoul baru kali ini ayahnya memintanya untuk pulang kembali ke rumah. Apakah ada sesuatu yang terjadi sehingga ayahnya memintanya untuk kembali? atau Dia memang benar-benar dibutuhkan saat ini?

“ahbeoji–apa terjadi sesuatu?”

“tidak Mari, hanya saja aku terlalu merindukanmu nak”

“aku tidak percaya” Mari memasang wajah penuh selidiknya, dia mengenal ayahnya. Meskipun tidak tinggal bersama dalam waktu yang lama tapi mereka selalu berkomunikasi sehingga dia bisa tau kapan ayahnya berbohong dan kapan dia berkata jujur.

“ini benar, percayalah. Atau bagaimana jika kita bertemu? Sudah lama kita tidak bertemu lagi semenjak kau kembali ke Korea”

Mari berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan ayahnya, mereka akan bertemu? Sebelumnya mereka tidak pernah bertemu saat dia berada di Korea. Hanya sesekali ayahnya mengunjunginya saat dia masih sekolah di London dan saat dia berada di Jerman. Meskipun tidak begitu memahami mengapa mereka tidak bisa bertemu jika mereka berada di Korea, tapi dia cukup tau bahwa sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi jika mereka melakukan itu karena sejak dulu ayahnya selalu menghindari pertemuan tersebut.

“apakah tidak apa-apa jika kita bertemu? Di Seoul?”

“tidak apa-apa Mari, kalau kau masih belum yakin biar aku yang mengunjungimu di cafe itu. Bagaimana?”

“benarkah?”

“tentu saja, nanti ahbeoji akan mengatur waktu agar bisa datang ke sana”

“baiklah, aku akan menunggu. Terima kasih ahbeoji”

“ya, dan Mari, aku merindukanmu. Sungguh”

“kau sudah mengatakannya, aku juga merindukanmu”

“hanya ingin mengulangnya sayang. Aku mencintaimu nak”

“jangan menjadi aneh seperti ini. Ayolah, kau harus kembali bekerja bukan waktunya mengumbar kata cintamu pada anak tercantikmu ini”

“haha, baiklah, baiklah. Ahbeoji memang harus kembali bekerja, semoga harimu menyenangkan nak. Sampai bertemu nanti”

“Kau juga, sampai jumpa. Aku mencintaimu”

Mari tersenyum lebar setelah menutup ponselnya, begitu bahagia mendapatkan panggilan dari ayahnya. Dia seakan teringat bahwa bulan lalu terakhir dia menghubungi ayahnya dan sekarang baru lagi mereka saling berbicara, Mari begitu senang dengan hal itu. Apalagi ayahnya mengatakan ingin mengunjunginya di sini, dia mendapatkan jackpot sepertinya.

“Mari, kau tidak ingin makan siang?” Kepala Yubi menyembul dari balik pintu membuat Mari terlonjak pelan dengan mata yang mengerjap.

“eoh?”

“makan siang, ayo waktunya sudah hampir habis” Ulang Yubi lagi, Mari menganggukan kepalanya kemudian beranjak dari tempatnya duduk.

“baiklah, aku juga lapar” Ucap Mari meletakkan ponselnya di atas meja kemudian keluar dari ruangan itu menyusul Yubi yang sudah menyiapkan makan siang untuk mereka.

***

CONTINUED.

Pertama, Meskipun FF ini baru aku publish tapi sebenarnya penggarapannya sudah aku mulai sejak tahun 2015 sebelum penggarapan FM, MLMG, dan TP, jadi mungkin gaya penulisan di FF ini sangat berbeda dengan penulisan FF yang aku garap baru-baru ini. Tapi aku harap gak mengurangi rasa antusiasme kalian untuk terus menantikan kelanjutan FF ini ya.

Kedua, FF ini mungkin akan masuk ke dalam deretan list FF terberat yang aku buat setelah Hurt Me, ALIMW, TCOL, dan Begin Again. Karena dari ide FF ini aku sudah berniat buat jalan cerita yang benar-benar Drama-I’m just want to challenge new concept-Genre FF ini bisa dibilang cukup berbeda dari FF”ku sebelumnya, dimana keempat FF yang aku sebutkan tadi itu memiliki genre yang hampir sama yaitu sad-romance tapi di sini aku mencoba tantangan baru untuk mengusung genre yang tidak pernah aku ambil sebelumnya yaitu Mystery dan Slice Of Life. Mystery dalam FF ini bukan sesuatu yang berbau horror atau magis ya, tapi lebih kepada konflik yang penuh dengan teka-teki serta karakternya yang tidak mudah ditebak (entah apa aku berhasil melakukannya nanti). Ide FF ini muncul karena terinspirasi dari drama Yongpal dan Healer jadi kalau nanti kalian nemu adegan yang hampi mirip atau bahkan mirip dengan dua drama itu jangan heran.

Keempat, Aku sebenarnya agak ragu kalau cerita ini akan berhasil seperti yang aku rencanakan, semoga kedepannya sampai FF ini selesai aku bisa mempertahankan main idea yang sudah aku usung sejak awal dan kalaupun akan melenceng, aku harap tidak akan melenceng sangat jauh dari rencana. (Meskipun sebenarnya aku sudah agak lupa-lupa ingat sama idenya)

Terakhir, aku sangat excited untuk melihat respon kalian tentang FF ini. Meskipun baru pembuka tapi aku harap kalian sudah bisa mendapatkan bayangan bagaimana FF ini akan berakhir (meskipun aku rasa cukup mustahil)

P.S : FF ini punya alur yang sangat-sangat lambat, mungkin akan lebih slow dari Begin Again kemarin. Dan aku harap kalian tidak memberikan ekspektasi yang terlalu tinggi untuk romancenya, karena aku tidak berencana buat FF ini full sweet romance seperti yang lain. Romancenya akan muncul seiring cerita ini berlangsung.

EXTRA NOTE : BACA FF INI HARUS PELAN-PELAN JANGAN BURU-BURU AGAR BISA PAHAM JALAN CERITANYA.

Thankyou.xoxo
elship_L
.
.
September, 12th 2016

9 responses to “VENGEANCES – My Name Is Jang Mari

  1. Masih bingung sama asal usul nya jang mari -.- Ihh simyungsoo harus ngalah saa eonninya heheeh semangat myung oppa cri jang mari. Hihi
    Btw crtanya bikin pensaran.. semoga next chapternya bkln terbuka asal usulnya sedikit dmi sedkit..
    Semangat ya thor buat ngelanjutinnya..
    Jngn lm lm ya thor lnjutnya…hihi

    Liked by 1 person

  2. yah benar apa yg dikatakan kim taehee, jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja. mary memang benar berpenampilan acak acakan tpi waaawww dia lulusan oxford :O (Y) hihi rasain tuh si myungsoo, dia harus menurunkan gengsinya yg setinggi langit itu untuk mengajak kembali mary bekerja di perusahaannya. penasaran aku gmna cranya myungsoo mengajak kembali mary bekerja dengannya? dan myungsoo akan menggunakan alasan apa?
    aku jga udah ada gambaran nanti kedepannya cerita ini bakalan kayak gmn yah? tpi yah gitu deh..belm yakin jga hihihi. nanti kita main tebak-tebakan ajah haha =D =D dan aku jga berharap semoga cerita ini sesuai dengan keinginan author.. kalau author berhasil, kita jga yg seneng bacanya🙂 okedeh segitu ajah yah,,, di tunggu banget loh kelanjutannya…

    Liked by 1 person

  3. keren authornim aku suka..aku suka..

    penasaran banget sama masalunya mari sama ayah nya kaya gimana..
    dan aku suka sama karakter nya mari disini, yang apa adanya menurut ku,
    baiklah ga tau musti komen kaya gimana lagi yang pasti ini keren..
    semangat terus authornim..

    Liked by 1 person

  4. Waaaah, bener2 misteri bnget ini cerita…
    Sebenernx bnxak pertanyaan di benak aku, tp coba di tahan juga lah seiring berjalan waktu pasti terjawb.. Semoga bisa nahan aja..hehe
    kok agak aneh ya sama percakapan sooji dan ayahx d telpon, perasaanku jd gak enak..
    Smoga tdak terjadi apa2.

    Liked by 1 person

COMMENT FOR WHAT YOU HAVE BEEN READ!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s