VENGEANCES – Enigma

VENGEANCES
Author : elship_L || Cast : Bae Sooji/Jang Mari, Kim Myungsoo|| Genre : Drama, Romance, Sad, Mystery, Crime || Rating : PG-19 || Type : Chapter

-Enigma-

​Pagi yang menyenangkan bagi penghuni rumah megah bak istana ini, seperti yang terlihat ketika mereka menyantap sarapan pagi saat ini. Bagaikan keluarga yang begitu sempurna, dengan kedua anak yang terlihat akur serta ibu rumah tangga yang terlihat begitu hangat dengan senyum menawannya saat menanggapi lelucon putrinya. 

“ada apa ini? kalian terlihat bahagia pagi ini” Seorang pria yang berumur lebih dewasa memasuki ruang makan membuat tawa di tempat itu terhenti seketika. Dia tersenyum menatap kedua anak serta istrinya yang sepertinya dalam mood yang baik pagi ini. 

“ayah! Cepatlah kemari, aku menyiapkan sarapan untukmu” Sang anak gadis di keluarga itu berseru dengan senang memanggil pria itu, yang ternyata adalah ayahnya. Tangannya dengan cekatan mengambil selembar pancake dan menyiraminya dengan madu, seperti kesukaan ayahnya. 

“wah, apa kau yang melakukan ini princess?” Gadis itu tersenyum dan mengangguk antusias, menatap ayahnya yang sudah duduk ditempatnya dengan tatapan berbinar. Menunggu respon dari pria itu akan masakannya. 

“hmm, terasa nikmat seperti biasa” Komentar itu membuat sang gadis memekik senang, dia menoleh kesamping dan meraih lengan kakaknya. 

oppa kau dengar! Ayah menyukainya, jadi kau harus memberikan imbalan padaku” Ucapnya dengan mata berbinar, pria itu mengangkat alisnya sebelah kemudian tersenyum dan menganggukan kepalanya. 

“katakan saja apa yang kau inginkan princess” Jawabnya dengan senyum yang berbinar, gadis itu bertepuk tangan dengan riang kemudian memandang ke arah ibunya, matanya memancarkan kebahagiaan yang begitu berlimpah ruah membuat ibunya ikut tersenyum merasakan kebahagiaan yang dialami oleh putrinya tersebut. 

“Noori, jangan merepotkan kakakmu” Tegurnya, gadis itu merengut sebentar kemudian tersenyum lebar melampirkan deretan giginya yang putih. 

“kakakku tidak akan mungkin merasa kerepotan jika itu tentang adik kesayangannya, benar kan?” Sahutnya dengan bangga sembari melilitkan kedua tangannya dilengan sang kakak, sementara matanya melirik dengan penuh humor yang mau tak mau membuat pria itu tersenyum mengangguk kemudian mengangsurkan tangannya untuk mengelus kepala adiknya. 

“baiklah, sekarang berhenti berdiskusi. Segeralah makan, kakakmu harus berangkat ke kantor” Sela sang penguasa di rumah ini, gadis tersebut mengangguk patuh kemudian melanjutkan makannya diikuti oleh ibu dan kakaknya. 

*** 

“Jang Mari!!!” 

Mari tersentak dari tidurnya saat mendengar pekikan yang cukup nyaring dari depan pintu rumahnya, matanya yang masih terasa berat itu terpaksa dia buka. Keributan lain terjadi di tempat ini, dan itu cukup membuat Mari mendesah panjang. Bisakah paginya lebih berisik dari ini? Ckck, ketenangan dipagi hari untukku sepertinya hanyalah sebuah mitos belaka.

“kau berisik sekali” Omel Mari saat membuka pintunya, tak perlu harus membuka matanya lebar-lebar untuk mengetahui siapa dalang dari keributan pagi ini. Dengan acuh dia kemudian masuk untuk kembali ke atas ranjangnya dan membiarkan pintunya terbuka begitu saja, membuat pria yang sudah mengacaukan paginya bergegas masuk ke dalam rumahnya yang kecil itu. 

“astaga! kau ini anak gadis, kenapa harus bermalas-malasan? Ini sudah pagi Mari” Tegurnya lagi, Mari mengacuhkan pria itu. Dia lebih memilih menggulung dirinya dalam lilitan selimut tebal miliknya, hadiah dari Yubi saat ulang tahunnya, tahun lalu. Cukup membuatnya merasa nyaman dimalam hari. 

“Hei! Jang Mari bangunlah, pagi ini kita harus ke pasar” Tak ingin berputus asa pria itu menarik selimut Mari, tetapi sepertinya dia membutuhkan usaha yang cukup besar karena saat ini Mari menahan dirinya dengan ikut menarik selimutnya juga. 

“aaaah, oppa! biarkan aku tidur sebentar lagi, aku sangat mengantuk!” Seru Mari dari dalam selimutnya, adegan saling tarik-menarikpun saling terjadi. Keduanya sama-sama tidak ingin mengalah satu sama lain, untung saja selimut itu cukup tebal. Jika ketebalannya dibawah 5mm saja, sudah pasti bahwa benda berwarna putih dengan corak buah peach itu akan robek karena adanya gaya tarik menarik antar sepasang manusia tersebut. 

“Mari, tidak. Segera bangun! Aku menggajimu bukan untuk tidur!” Teriak pria itu lagi, Mari berjengkit. Masih ingin mempertahankan dirinya, tapi dia berpikir lebih panjang. Usahanya akan sia-sia, yang dilawannya adalah seorang laki-laki dan dari segi manapun jika itu menyangkut kekuatan otot dia pasti akan kalah telak. 

Dengan pasrah Mari melepaskan tarikannya serta lilitan selimut ditubuhnya, sehingga tanpa sengaja membuat pria itu yang masih dalam posisi menarik selimut terjerembab begitu saja di atas lantai dengan posisi memeluk selimut Mari. 

oops!” Mari tersenyum polos kemudian berlari terbirit-birit menuju kamar mandi, dengan cara apapun dia harus menghindar saat ini. Kalau tidak nyawanya bisa melayang dengan sia-sia ditangan pria itu. Dia sama sekali tidak memperdulikan geraman kesal dari pria itu, saat dirinya selamat di dalam kamar mandi dia hanya terkekeh mendengar teriakan melengking pria itu. Sampai bisa membuat seluruh rumahnya bergetar akibat resonansi suaranya yang begitu tinggi. 

“Jang Mari!!!!” 

*

Tahyung yang sedang membersihkan meja-meja di cafe mengernyit heran saat melihat wajah tertekuk kakaknya yang baru saja keluar dari mobil pick up milik mereka. Dengan cekatan dia menyimpan alat pembersihnya dan segera menghampiri kakaknya itu. 

“apa ada bahan yang tidak terbeli?” Tanya Taehyung sembari memperhatikan bahan-bahan makanan yang dibeli oleh Kangjoon di pasar bersama Mari. 

“tidak semuanya lengkap” Jawab Kangjoon dengan wajah yang masih tertekuk, Taehyung menggaruk kepalanya dengan bingung. Dia kemudian menatap Mari yang baru keluar dari mobil dengan cengengesan handalnya jika tiap kali dia sudah melakukan kesalahan. 

“oh, jadi kali ini apa yang diperbuat Mari noona?” Tanya Taehyung lagi dengan penasaran, Kangjoon hanya mendengus lalu menurunkan kotak-kotak yang berisi sayuran segar serta beberapa gabus yang berisi binatang-binatang laut yang akan mereka olah menjadi makanan di cafe mereka. 

“dia dan selimut sialannya” Geram Kangjoon seakan mengadu pada Taehyung, disampingnya adiknya hanya menatapnya dengan heran. Sampai Kangjoon mengangkat beberapa kotak sayuran dan membawanya masuk ke dalam cafe. 

“apa maksudnya?” Taehyung kini beralih pada Mari yang tengah memilah-milah barang yang akan dibawanya. 

“pagi tadi dia terjatuh di kamarku karena menarik selimutku. Aku rasa bokongnya masih terasa perih saat ini” Jawab Mari setengah berbisik, takut jika Kangjoon mendengar ucapannya. Tadi setelah dia keluar dari kamar mandi dia melihat Kangjoon beberapa kali meringis sembari memegang bokongnya, sepertinya terasa sangat sakit. Apalagi mereka harus duduk di dalam mobil dalam jangka waktu yang cukup lama, mengingat jarak tempat tinggal mereka dengan pasar cukup jauh. Wajar jika suasana hati Kangjoon sedang rusak saat ini. 

“ckck pantas wajahnya terlihat menyeramkan begitu” Taehyung menggelengkan kepalanya sembari mengangkut sisa-sisa bahan makanan yang masih berada di atas mobil. Dia dan Mari kemudian berjalan secara beriringan untuk membawa barang-barang tersebut ke dalam dapur. 

“ya, ya, ya, ada apa dengannya?” Yubi menghampiri Mari dan Taehyung sembari mengedik kepada Kangjoon yang sedang duduk mencuci sayuran yang baru dibelinya dan akan dimasukan ke dalam lemari pendingin. 

“dia sedang dalam mood jelek, jangan mendekatinya. Sekarang lebih baik bantu aku membersihkan di depan, biar Taehyung yang membantunya di dapur” Ucap Mari setengah berbisik, mendengar itu membuat Taehyung berdecak tidak setuju. 

“tidak, aku tidak mau jadi sasaran kekesalannya. Lagipula aku tadi yang membersihkan meja di depan, aku akan menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda” Tolak Taehyung dengan tegas dan belum sempat Mari menahannya dia sudah berkelit dan keluar dari dapur, sementara Mari mengalihkan pandangannya pada Yubi meminta pertolongan tapi Yubi malah memberinya senyum lebar kemudian terbirit-birit mengikuti langkah Taehyung. 

“Kim Taehyung, tunggu aku!” Sahut Yubi dengan suara yang kencang, Mari hanya bisa menghela nafasnya. Dia kemudian membawa semua sisa bahan makanan menuju ke Kangjoon untuk dicuci. 

oppa, maaf. Apa sesakit itu?” Mari menyahut dengan wajah penuh penyesalan, dia tau bahwa Kangjoon adalah pria yang paling menghindari kekerasan fisik. Dia sama sekali tidak suka jika sesuatu terjadi pada salah satu anggota tubuhnya, contohnya seperti tadi saat bokongnya menghantam dengan keras lantai kamarnya. 

“eyy, aku tidak mungkin membayar kesalahanku dengan mengobatinya. Kau pasti tidak ingin aku melihat bokongmu” Ucap Mari lagi, seketika Kangjoon menghentikan gerakan tangannya dan menoleh menatap sengit pada Mari. 

“maafkan aku? Ayolah, lain kali aku tidak akan lupa jadwal untuk bangun pagi dan pergi ke pasar. Jadi maafkan aku” Mari mengerjapkan matanya menatap Kangjoon dengan tatapan memelas, berharap Kangjoon mau memaafkan dirinya. Dan helaan nafas lega akhirnya keluar dari bibir Mari saat melihat Kangjoon menganggukan kepalanya. 

“ck, sebenarnya bukan masalah besar tapi kau tau rasanya sangat sakit” Delik Kangjoon memutar bola matanya, dia kembali menekuni pekerjaannya. Mencuci sayuran. 

“benarkah? aku akan membelikan salep pereda rasa nyeri dan menyuruh Taehyung untuk memakaikannya untukmu” Mari terkesiap saat tiba-tiba saja Kangjoon kembali menoleh padanya dengan mata yang melotot lebar. 

“jangan lakukan! Aku punya milikku dan aku bisa mengobatinya sendiri!” Ucap Kangjoon setengah membentak dengan wajah memerah, melihat itu Mari terkikik dan mencolek lengan pria yang sudah dianggapnya sebagai pengganti kakak laki-lakinya itu. 

“kau lucu jika sedang malu seperti ini” Godanya sambil terkikik geli. Kangjoon memilih untuk tidak menggubris godaan dari Mari dia hanya mendengus menandakan agar Mari segera menghentikan leluconnya dan bekerja. 

“cuci semuanya Jang Mari!” 

yes, chef!” Kangjoon dan Mari sontak tertawa bersama mendengar semboyan yang diucapkan Mari mirip dengan apa yang sering dikatakan oleh para tukang masak yang ada di dalam drama-drama yang sering mereka tonton jika hari libur tiba. 

*** 

Siang itu suasana hati Myungsoo sangat buruk, lebih buruk dari yang terburuk. Bayangkan saja, sudah satu minggu berlalu sejak dia menugaskan asistennya untuk mencari tau kontak serta alamat rumah yang dimiliki oleh gadis kampung itu, tapi tetap saja tidak ada hasil yang didapatkannya.

Pria berdarah campuran Australia dan Korea itu hanya bisa berdiri dengan memasang wajah bersalahnya pada Myungsoo, berpikir bahwa sepenuhnya bukan kesalahannya. Myungsoo hanya memberikannya sebuah nama dan berharap bahwa dia bisa menemukan segala sesuatu yang menyangkut gadis itu, tapi ini Korea. Negara yang memiliki jutaan penduduk di dalamnya dan bukan hanya satu orang yang memiliki nama itu, tentu ada ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang bernama Jang Mari. Menyadari kenyataan itu pria tadi hanya bisa menghela nafas pasrah. 

“Jack, sudah kukatakan cari sesegera mungkin” Myungsoo mendesis menatap kesal pada pria yang berdiri menjulang di seberang meja kerjanya, Jack menunduk dengan wajah yang kaku. 

“maaf tuan, kami sedang dalam proses. Info yang kami punya hanya nama saja, tidak ada spesifikasi lainnya seperti foto. Jadi hal itu sedikit menyulitkan pencarian kami” Jawab Jack dengan datar, Myungsoo menarik nafasnya panjang. 

“sialan! Aku membayarmu bukan untuk mengeluhkan semua hal itu, keluarlah! Dan pastikan kau memiliki perkembangan jika kita bertemu selanjutnya” Teriak Myungsoo kesal setelah mendengar penyangkalan dari Jack. Dia tidak ingin bawahannya bekerja dengan gerakan yang lamban. Dia ingin semuanya berjalan sempurna ketika dia mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk membayar mereka, berharap agar dapat diandalkan. 

“baik, saya akan membawa info perkembangannya. Saya permisi” Ucap Jack undur diri, Myungsoo memutar bola matanya. Sebenarnya Jack adalah salah satu teman karibnya saat kuliah di Australia dulu, dan saat kembali ke Korea dia mengikut sertakan pria itu untuk bekerja bersamanya lagipula di Australia, Jack sudah tidak memiliki sanak saudara. Kedua orang tuanya sudah lama meninggal dunia, jadi dia meminta Jack untuk membantunya di Korea. 

Myungsoo memang tidak terlihat seperti teman yang baik saat berbicara dengan Jack, namun itu hanya berlaku jika mereka membicarakan bisnis atau pekerjaan yang ditugaskannya pada Jack. Apalagi saat semua berjalan tidak sesuai dengan rencananya, dia bahkan tidak segan-segan akan meneriaki serta memaki Jack. Dan Jack seakan kebal dengan semua itu, dia tau sifat Myungsoo luar dalam jadi yang dilakukannya hanya diam dan menerima segala kata-kata kasar Myungsoo yang keluar untuknya. Tapi, jika diluar bisnis mereka benar-benar bersikap seperti layaknya teman baik. Myungsoo seringkali menyambangi flat milik Jack dan mereka akan menghabiskan waktu dengan minum serta memakan cemilan dan menonton video di sana. Like a girly things! 

“wakil direktur ingin bertemu dengan anda tuan” 

Suara yang terdengar dari intercom membuatnya menggeram pelan, wanita itu pasti akan merecokinya dengan menanyakan tentang status Jang Mari sekarang. Dengan helaan nafas berat Myungsoo menekan salah satu tombol di intercom agar saat berbicara, sekertarisnya itu bisa mendengarkan suaranya. 

“baiklah, katakan aku akan keruangannya 5 menit lagi” Jawabnya dengan terpaksa, setelah mendengar persetujuan dari seberang, Myungsoo langsung menghempaskan punggungnya ke kursi. Benar-benar menyebalkan. Hari ini terlalu buruk untuk dilaluinya, setelah mendapat kabar bahwa tidak ada perkembangan sama sekali tentang gadis bernama Jang Mari itu. Seolah tau bahwa dia belum menemukannya, kakaknya malah memintanya untuk bertemu. Ck! Sial! 

Setelah selesai merutuki serta menyumpahi hari yang begitu sial ini, Myungsoo akhirnya melenggang dari kursi singgahsananya. Mau tak mau dia harus menemui kakaknya, meskipun posisi dirinya masih di atas wanita itu di perusahaan ini tapi tetap saja Myungsoo akan selalu berada di bawah kaki wanita itu dan Myungsoo tau melawan dengan beribu macam carapun tidak akan berguna karena Kim Taehee akan selalu menang atas dirinya. 

noona!” Myungsoo berseru kesal saat memasuki ruangan milik Taehee, berbeda dengan ruangannya yang hanya didominasi oleh warna putih, abu-abu dan hitam, ruangan ini terlihat lebih cerah. Sangat perempuan, pikir Myungsoo. Cat dindingnya memang berwarna putih namun sofa yang dimiliki ruangan ini berwarna merah marun yang membawa kesan dewasa sekaligus elegan seperti kakaknya, dan lagi ada sebuah lemari yang berisi beberapa arsip dokumen berwarna cokelat muda. Bahkan kursi yang sedang diduduki oleh kakaknya sekarang bukan berwarna hitam melainkan berwarna putih gading. Aneh! 

“oh Myungsoo, bagaimana?” Taehee bersorak saat melihat wajah tertekuk adiknya itu, dia sangat tau dengan jelas bahwa saat ini dia masih belum bisa menghubungi Jang Mari. Seperti dugaannya. Jang Mari memang wanita yang cerdas, dia tidak mencantumkan alamatnya yang bertempat di Korea melainkan memasukan alamatnya saat tinggal di London dan itu membuat Taehee berdecak. Seolah gadis itu tidak ingin diketahui segala latar belakang yang dimiliki olehnya. 

“bagaimana aku bisa mencari jejaknya kalau dia hanya meninggalkan nama?” Keluh Myungsoo sembari mengambil tempat dihadapan Taehee, wajahnya benar-benar muram saat ini.

“siapa yang menyuruhmu untuk membuang berkas miliknya? Jika kau berlaku sedikit lebih dewasa aku rasa sekarang dia sudah berada di sini saat ini” Ejekan Taehee membuat Myungsoo mendengus dengan sebal, memang salahnya karena saat itu dia terlalu murka karena kekurangajaran gadis kampung itu. Dia bahkan tidak membiarkan Myungsoo mengeluarkan sepatah katapun untuk membantah perkataannya dan malah melenggang pergi begitu saja, Dia merusak harga diriku sebagai seorang pria! 

“mau tak mau Myungsoo, kau harus tetap mencarinya. Bayangkan saja jika dia berhasil masuk ke perusahaan pesaing. Mereka akan menghancurkan kita” Ucap Taehee mendramatisir namun sebagian perkataannya adalah kebenaran. Kemampuan Mari sudah teruji bahkan sejak dia masih bersekolah di London dan dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada disaat gadis itu datang sendiri menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam perusahaan ini. 

“aku sudah memerintahkan Jack untuk mencari lebih teliti. Tunggu saja, semoga dia berhasil menemukan tempat tinggalnya” Balas Myungsoo dengan wajah malas. 

“bagus. Kalau begitu keluarlah, aku masih banyak pekerjaan” Myungsoo mendesis menatap Taehee, hei! aku adalah Direktur di sini dan kau hanya wakil kenapa seenaknya memerintahku! 

“baik” Namun Myungsoo hanya bisa meneriakkan pemikirannya dalam hati, tidak benar-benar mengeluarkannya tepat di depan Taehee. Segarang dan sekeras apapun sikap Myungsoo dia tetap tunduk jika itu berhubungan dengan kakaknya, bisa dikatakan dia takut kepada kakaknya. Entah apa alasannya. 

*** 

“Tanggal pelaksanaan Pemilihan umum akan segera diumumkan, namun sampai saat ini semua calon yang terdaftar bukanlah salah satu dari kerabat kita” Seorang pria paruh baya yang memakai kacamata bersuara menatap keempat pria lain yang berada diruangan itu. Mereka berada disebuah ruangan yang bisa dikatakan sebagai ruang pertemuan, atau lebih tepatnya ruang diskusi kongres. Lima orang pria yang sudah menginjak usia 50 atau lebih itu kini terlihat sedang mendebatkan sesuatu, seperti pada dekade sebelumnya saat pemilihan umum calon presiden Korea dilaksanakan mereka akan mengajukan beberapa nama yang mungkin akan menguntungkan sisi mereka. 

“aku rasa kita sudah sepakat siapa yang akan menjadi calon kita saat ini” Park Jeongsu, pemilik tambang terbesar di Korea Selatan. Sejak dua dekade yang lalu dia telah dinobatkan sebagai salah seorang dari 10 pengusaha terkaya di Asia. Usianya yang sudah menginjak tahun ke 53 itu tidak membuatnya merasa lelah untuk terus mengembangkan segala usaha yang dimilikinya, malah menjelang usianya yang sudah lebih dari setengah abad ini dia semakin antusias untuk memperluas bisnisnya dibidang pertambangan. 

“tapi masih belum ada konfirmasi darinya, bukankah lebih baik kita menunjuk calon lain? Kim hoejangnim, aku rasa anda cukup pantas untuk mencalonkan di periode ini” Kim Sunghwan, Kepala Departemen Luar Negeri dan Perdagangan, pria yang berusia 55 tahun ini telah menjabat selama hampir 5 tahun setelah sebelumnya menjabat sebagai Perdana Menteri Korea Selatan. Senyumnya terkembang saat menatap pria yang duduk tepat dihadapannya saat ini. 

“benarkah? bukankah anda yang lebih pantas, anda adalah mantan perdana menteri, bukan tidak mungkin jika anda mencalonkan” Sahut Kim Minsuk, dia tertawa kecil saat mendengar Sunghwan mencoba untuk mendorong dirinya agar mencalonkan diri. Dia adalah salah satu pengusaha ternama, seperti Park Jeongsu. Namun mereka bergerak di bidang yang berbeda, perusahaan yang dimilikinya bergerak di bidang Perkapalan, perusahaannya berhasil membuat sebuah galangan kapal terbesar di dunia dan dia diberi penghargaan sebagai pengusaha terbaik di tahun 2010 lalu. Tahun lalu, dia dan Jeongsu memiliki proyek Rig Migas bersama yang bernilai milyaran won dan membuat saham diperusahaan mereka menjadi melonjak dan membawakan keuntungan besar-besaran di masing-masing perusahaan. 

“dia adalah calon yang paling kuat saat ini kan? Lihat bagaimana respon masyarakat padanya beberapa tahun terakhir? Dia berhasil menarik minat masyarakat untuk berada dipihaknya saat krisis hampir terjadi 3 tahun yang lalu. Aku rasa tuan Jung tau dengan jelas” Kali ini pria yang sedari tadi hanya diam saja memperhatikan mereka berdebat mengangkat bicaranya, Choi Ilhoon. Kepala Deputi Jaksa Agung Provinsi Seoul. 

Jung Hongwon, perdana menteri Korea selatan yang menjabat di periode ini hanya tersenyum kecil. Dia menganggukkan kepalanya dengan memasang ekspresi misterius. 

“aku tidak melihat keinginannya untuk maju di pemilihan periode ini” Ucapnya dengan nada waspada, keempat pria di dalam ruangan itu terkesiap saat mendengarkan hal tersebut. 

“apa yang anda bicarakan?” Minsuk berseru dengan terkejut, pada pertemuan mereka sebelumnya sudah ditentukan dan salah satu dari mereka yang akan mencalonkan pada pemilu yang akan dilaksanakan beberapa bulan ke depan, saat itu juga tidak ada tanda-tanda penolakan dari yang terpilih jadi mereka berpikir bahwa dia menerima dan akan mencalonkan diri. 

“dia bahkan tidak menolak saat kita membicarakannya” Kini Ilhoon yang menyahut dengan kerutan di alisnya yang dalam. Hongwon kembali menggelengkan kepalanya. 

“aku bukan mengatakan dia menolak untuk mencalonkan diri, aku hanya bilang kalau dia sebenarnya tidak menaruh perhatian lebih untuk pemilihan ini” Jelas Hongwon, membuat mereka semua terbengong tidak mengerti dengan apa yang dibicarakannya. 

“jadi maksud anda dia akan melakukan pencalonan ini?” Tanya Jeongso hati-hati, Hongwon tersenyum dan menganggukkan kepalanya lagi. Menatap ke empat pria itu dengan intens, seolah sedang berbicara melalui kontak mata. 

“apa—kita tidak akan mendapatkan dukungan spesial jika dia berhasil naik menjadi presiden?” Seru Sunghwan dengan suara tercekat, membuat tiga pria lainnya ikut tercekat saat mendengarnya. 

“ya, itu benar. Aku memiliki firasat yang mengatakan bahwa kita tidak akan mendapat dukungan jika dia yang terpilih” Sahut Hongwon sembari mengusap dagunya, dia tersenyum penuh misteri membuat keempat pria lainnya saling berpandangan. 

“lalu apa yang akan kita lakukan? Haruskah kita menggantinya dengan Minsuk?” Tanya Jeongsu panik. 

“tidak, posisi Kim hoejangnim tidak sekuat dirinya, bagaimanapun perusahan financial miliknya sangat mendukung untuk jadi presiden di saat krisis ekonomi saat ini. Dan walaupun kita mencalonkan Minsuk, suaranya tidak akan cukup” Ucap Hongwon dengan kepala yang tergeleng. 

“satu-satunya cara yaitu mendesaknya. Kita mungkin bisa bernegosiasi dengannya, bagaimana?” Sunghwan mencoba untuk memberikan solusi dalam permasalahan kali ini dan membuat Hongwon, selaku perdana menteri menganggukan kepalanya setuju. 

“itu patut di coba. Atur jadwal untuk pertemuan selanjutnya dan pastikan dia ikut dalam pertemuan itu. Tidak seperti sekarang ini.” 

“dan jika negosiasinya tidak berhasil?” Ilhoon bertanya dengan alis yang terangkat, mengundang Minsuk, Sunghwan dan Jeongso untuk ikut mengangkat alisnya dan memandang sang perdana menteri dengan tatapan penuh tanya. 

“kita lihat saja, apa yang akan terjadi padanya nanti” Jawab Hongwon misterius membuat suasana dalam ruangan itu menjadi tegang dengan tatapan matanya yang tajam. 

*** 

Mari mencemot kentang goreng yang ada dihadapannya, meskipun saat ini keadaan cafe sedang ramai tapi dia tidak bisa mengacuhkan bunyi perutnya begitu saja. Saat mendapatkan kesempatan untuk pergi dari meja kasir, Mari langsung melesat ke dapur dan mencuri beberapa potong kentang goreng dan dimasukannya ke dalam mangkuk kecil. Setidaknya cemilan itu bisa mengganjal perutnya sampai jam istirahatnya tiba nanti. 

“hei! aku mencari-cari kentang goreng di dapur, ternyata kau pelakunya” 

Seruan itu menyentakkan Mari sehingga membuatnya hampir saja tersedak oleh makanan yang masih bertengger di dalam mulut itu. Dengan cepat meraih botol minuman dan meneguknya. 

“eisshh! kau mengagetkanku bodoh” Desis Mari pada Taehyung yang sedang berdiri bersandar membelakangi meja kasir sembari mengamati para pelanggan. Dengan santai tangannya terjulur untuk meraih dua potong kentang dan langsung mengangsurkannya ke dalam mulut tanpa sempat dicegat oleh Mari. 

“aku sengaja membuatnya lebih karena ingin memakannya, tapi saat disajikan malah tidak ada yang tersisa. Aku pikir aku salah takaran ternyata ada tikus dapur yang mengambilnya” Ucap Taehyung panjang lebar dengan nada yang begitu santai seolah tidak mengindikasikan bahwa saat ini dia sedang menyindir Mari, akan tetapi Mari tetap tersindir dengan kalimat itu. 

“Tikus? Kau itu cacing tanah! Pergi sana!” Seru Mari, sebisa mungkin dia membuat suaranya tidak terlalu bising agar tidak mengganggu pelanggan mereka. Tangannya sudah beraksi dengan memberikan tamparan pada kepala Taehyung berkali-kali. 

“eissh, berhenti! nanti aku jadi bodoh” Elak Taehyung, dia menjauh agar tangan Mari tidak lagi menggapainya. Mari hanya mencibir mendengar itu. 

“kau sudah bodoh! Apa yang ingin kau pertahankan dari kepala busukmu itu” Ejek Mari dengan tatapan merendahkan, Taehyung tidak tersinggung. Dia hanya mendengus kemudian meninggalkan Mari yang terkikik puas. 

“Mari ada yang mencarimu” Tawa Mari seketika berhenti saat salah seorang waitress menegurnya, Mari menatapnya dengan tatapan penuh tanya namun gadis itu hanya menggeleng dan mengedikkan bahunya tak tau. 

“panggilkan Jaehyun untuk menggantiku sebentar” Ucap Mari padanya, lalu Mari keluar dari meja kasir dan menuju ke meja yang diarahkan waitress tadi. 

Mata Mari menyipit saat melihat punggung seorang pria, dari belakang dia tau pria itu sudah tidak muda lagi. Semakin mendekat, wajah Mari semakin berubah menjadi tegang. Di otaknya saat ini hanya ada satu nama, pria yang sedang duduk memunggunginya dengan gaya yang begitu Mari kenal. Oh Tuhan aku sangat merindukannya! 

ahbeoji!”  Mari berseru kencang lalu memeluk tubuh ayahnya dari samping, pria itu sempat terkejut karena tiba-tiba dapat pelukan dari Mari namun setelah menguasai diri di tertawa pelan lalu membalas pelukan Mari. 

“hai, lama tidak berjumpa nak” Sapanya yang terdengar seperti sapaan seorang teman lama yang baru saja saling bertemu. Mari menitikkan air matanya menatap wajah ayahnya yang terlihat mengeriput itu. 

“kau baik-baik saja?” Tanya Mari dengan wajah yang sendu, pria itu tersenyum dan menganggukan kepalanya. Dia kemudian mengedarkan pandangannya dan kembali menatap Mari. 

“apa tidak ada tempat yang lebih private? Orang-orang bisa menyangka kau adalah simpananku sayang” Tanyanya dengan selipan nada bercanda di sana yang mau tak mau membuat Mari terkekeh dengan geli. Dia menggerling lalu tanpa aba-aba dia menarik ayahnya untuk keluar dari cafe. 

“kita berbicara di atas saja, sekalian kau bisa melihat di mana anak gadismu tinggal selama 2 tahun ini” Jelas Mari, ayahnya hanya tersenyum mendengar nada ceria dari Mari. Anaknya benar-benar tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik. 

“eh, tapi tidak apa-apa? tidak akan ada yang melihat kan?” Tanya Mari tiba-tiba menghentikan langkahnya saat mereka sudah berada di pertengahan tangga. Pria itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan tenang.

“tidak perlu khawatir, sekarang ayo masuk ke rumahmu. Diluar cukup panas” Ucapnya, Mari tersenyum lebar lalu kembali melanjutkan jalannya, menuntun ayahnya untuk masuk ke dalam rumah atap miliknya. 
*

Bae Yongjoon, pria yang akan menginjak umur ke 50 tahun itu menatap kesekeliling ruangan yang ditempatinya saat ini. Senyumnya terkembang saat melihat gadisnya datang dengan membawa secangkir teh hangat untuk dirinya. 

“apa kau nyaman tinggal di sini?” Tanya Yongjoon. 

“tentu saja, jika tidak sudah pasti aku mencari tempat lain” Jawab Mari sekenanya, dia menatap ayahnya dengan pandangan berbinar. Benar-benar menakjubkan bisa bertemu secara langsung, bukankah dia berlebihan? 

Tapi, bayangkan saja selama 2 tahun di Korea mereka hanya berkomunikasi melalui ponsel dan sesekali menggunakan videocall dan sekarang ayahnya berada di hadapannya setelah sekian lama tidak bertatap muka. 

“aku benar-benar merindukanmu” Ucap Mari dengan wajah memelasnya, Yongjoon mengangguk mengerti dan mengusap kepala Mari dengan lembut, penuh kasih sayang. Ikut menyampaikan rasa rindunya yang terus bertumbuh setelah pertemuan terakhir mereka saat di Jerman 2 tahun yang lalu. 

“ah bagaimana dengan ibu? Keadaannya baik-baik saja?” Binar di mata Mari perlahan meredup saat menanyakan kabar ibunya, dia menatap ayahnya dengan serius. 

“dia baik Mari, tidak perlu khawatir” Jawab ayahnya, Mari menghela nafas lega namun setelahnya wajahnya berubah murung. Mengingat bahwa 15 tahun tidak bisa bertemu dengan ibunya membuat pikirannya berlarian ke segala arah. Memikirkan bagaimana reaksi ibunya jika mereka bertemu nanti, apakah masih mengenali wajahnya atau bahkan sudah melupakan keberadaan dirinya sebagai putrinya? 

“hei Mari, ada apa nak?” Yongjoon menarik lengan Mari dan mengusapnya pelan, dia tau bahwa saat ini anak gadisnya tengah banyak pikiran. Sangat tergambar dengan jelas dari wajahnya yang berubah sendu itu. 

“bagaimana jika aku bertemu dengan ibu nanti?” Tanya Mari dengan suara serak, Yongjoon mengerti perasaan Mari saat ini. Ini adalah salahnya yang telah memisahkan Mari dengan ibunya belasan tahun yang lalu namun semua itu dilakukannya demi keselamatan Mari. 
“tentu saja dia akan memelukmu anakku, ibumu sungguh sangat merindukan dirimu” Jawab Yongjoon saat menarik Mari kedalam dekapan hangatnya, seperti seorang ayah yang sedang menenangkan anak gadisnya yang tengah dirundung kegundahan. 

“benarkah? apa dia pernah menanyakan kabarku?” Yongjoon tersenyum mengusap rambut Mari dengan lembut. 

“tentu saja, bukan karena kalian tidak pernah berkomunikasi itu artinya dia melupakanmu. Ibumu selalu memantau perkembanganmu meskipun tidak secara langsung” Mari tersenyum kecil dalam pelukan ayahnya, semua spekulasi tentang ibunya selama ini ternyata tidaklah benar. Mereka masih mengingat Mari, dan jelas masih menginginkan Mari untuk kembali. 

“aku senang ahbeoji, kau tau selama ini aku selalu merasa terasingkan” Lirih Mari, Yongjoon memejamkan matanya, dadanya sesak akan rasa bersalahnya kepada Mari. Sebentar lagi, tahan sebentar lagi nak. Sampai kau bisa kembali ke tempatmu. 

“maafkan aku, kau tau semua ini demi kebaikanmu” 

“bukankah sekarang waktu yang tepat untuk memberitahuku semuanya? aku sudah menunggu terlalu lama. Kau tau aku adalah anak penurut kan? jadi beri aku imbalan dengan mengatakan padaku alasan kau melakukan ini apa” Mari melepaskan pelukannya dan menatap ayahnya dengan pandangan penuh tanda tanya, sekarang usianya sudah menginjak tahun ke 26 jadi dia sudah terlalu dewasa untuk mengerti polemik apa yang sedang dialami oleh ayahnya. 

“sebentar lagi, kau akan tau saat waktunya benar-benar tiba” Ucap Yongjoon menatap Mari dengan misterius, perkataan ambigunya membuat kening Mari berkerut berusaha untuk mencari tau makna dari kalimat tersebut. 

“tapi—” 

“belum sekarang Mari, percaya padaku” Sela Yongjoon membuat Mari mengatupkan bibirnya menyimpan segala penyangkalan yang akan diucapkan kepada ayahnya itu. Dia mengangguk patuh, dan seperti tahun-tahun sebelumnya dia hanya bisa mematuhi perkataan ayahnya tanpa bisa mendebat. Saat pikirannya berkelana jauh, Mari menjadi teringat dengan berita yang ditontonnya di tv tadi pagi saat baru akan membuka cafe. 

ahbeoji, apakah berita itu benar?” Tanya Mari tiba-tiba membuat Yongjoon menatapnya dengan bingung, namun hanya sebentar karena pria itu telah mengetahui maksud dari anaknya. 

“belum ada kepastian, kita masih menunggu keputusan kongres. Dan aku sebenarnya tidak menginginkannya” Jawab Yongjoon, Mari mencebikkan bibirnya kemudian menatap ayahnya penuh selidik. 

“kenapa? Bukankah itu bagus untukmu?” Yongjoon hanya bisa tersenyum penuh misteri pada Mari, sembari mengusap rambut anaknya—yang sama sekali tidak pernah bosan dilakukannya—dia merogoh sesuatu dari kantong celana santai miliknya. 

“nanti kau akan tau jawabannya” Sahut Yongjoon, dia kemudian mengulurkan sebuah kunci kecil berwarna silver kepada Mari, “ini ambillah” 

“kunci apa ini?” Tanya Mari bingung, Yongjoon kembali menampilkan senyum misterinya saat menatap Mari yang meneliti kunci kecil di tangannya itu. 

“jika sesuatu terjadi padaku, datang ke Galleria Foret untuk temukan brankas hitam dan buka dengan menggunakan kunci itu” Mata Mari membelalak mendengar penuturan ayahnya. Bukan, bukan karena dia diarahkan untuk pergi ke kompleks apartemen termewah di Seoul itu tapi dia malah terkejut dengan apa yang dikatakan ayahnya pada awal kalimatnya. 

“jangan berbicara sembarangan! Tidak akan ada yang terjadi padamu” Seru Mari dengan kesal, dia meletakkan kunci itu di atas meja, merasa enggan untuk menerimanya. 

“Mari dengarkan dulu—” 

“tidak, aku tidak mau mendengar apapun” Dengan menutup kedua telinganya, Mari membalikan badan untuk membelakangi ayahnya. Benar-benar tidak ingin mendengar omong kosong yang keluar darinya. 

“hei, aku hanya mengatakan jika sesuatu terjadi. Itu belum tentu benar Mari” Yongjoon menarik lengan Mari agar bisa berhadapan dengannya lagi dan menatap anaknya dengan penuh kasih sayang. 

“dengar, sejak kecil kau sudah tau seperti apa pekerjaan ayahmu ini. Dan kau tau kita punya banyak musuh diluar sana, aku melakukan ini hanya untuk antisipasi. Jangan khawatir” Jelasnya dengan begitu tenang, berusaha agar Mari mau mendengarkannya. 

“tapi tetap saja, seolah kejadian buruk akan terjadi padamu besok” Keluh Mari dengan kesal, Yongjoon tertawa kecil lalu menarik lagi Mari ke dalam pelukannya. 

“simpan kunci ini, lantai 52, cukup gunakan sidik jarimu” Ucap Yongjoon membuat Mari harus menggelengkan kepalanya tidak percaya. 

“aku tidak tau kau memiliki hunian yang bernilai milyaran won” Decak Mari memandang ayahnya dengan sengit, sementara Yongjoon hanya terkekeh pelan. 

“itu milikmu sayang”

Dan Mari hanya bisa mebelokan matanya serta melongo dengan wajah yang paling tidak cantik dari seluruh muka bumi saat mendengarnya. What the hell! For God’s Sake!  Galleria Foret? The most expenssive apartement. One of them is mine? Hell yes! 
*** 
“pak, presdir Kim ingin bertemu dengan anda” 

Yongjoon mengangkat alisnya saat mendengar salah satu mitra bisnisnya ingin bertemu, mereka tidak melakukan janji temu hari ini namun mengapa begitu tiba-tiba ingin bertemu dengannya? 

“persilahkan masuk” Sahut Yongjoon pada interkom, tidak lama kemudian pintu ruangannya terbuka dan menampilkan sosok pria paruh baya yang sudah dikenalnya lebih dari 30 tahun yang lalu itu. 

“presdir Bae” Sapa Minsuk memasuki ruang kerja Yongjoon, seakan telah terbiasa dengan ruangan itu tanpa disuruh dia langsung mengambil tempat disofa yang nyaman. Dia tersenyum menatap Yongjoon yang melemparkan tatapan penuh selidik padanya. 

“kita ini kawan lama, jangan terlalu curiga padaku” Sahutnya dengan kekehan kecil, Yongjoon menghela nafasnya panjang kemudian meninggalkan pekerjaannya. Memilih untuk menghampiri Minsuk dan duduk dihadapan pria itu. 

“apa keperluanmu kemari? Kita tidak memiliki janji sebelumnya” Tanya Yongjoon, Minsuk tersenyum dan menyilangkan kakinya, terlihat sangat santai. 

“aku ingin bertemu bukan untuk urusan bisnis jadi aku rasa tidak perlu membuat janji terlebih dahulu” Yongjoon menaikkan alisnya menatap Minsuk bingung. 

“ayolah, kapan terakhir kalinya kita berbincang seperti seorang teman lama? Selama ini kita selalu bersikap layaknya rekan bisnis. Itu terlalu kaku” Seru Minsuk dengan nada humor, menatap Yongjoon dengan geli. Mereka adalah teman lama, saat kuliah mereka berada dijurusan yang sama dan karena kebetulan mereka selalu bertemu di kelas yang sama jadi mereka memutuskan untuk bergaul bersama dan akhirnya terbawa sampai saat ini. 

“oke, jadi apa yang ingin kau bicarakan? Kau tau, aku sangat sibuk Minsuk” Tanya Yongjoon, dia sudah terlihat lebih santai. Seperti keinginan Minsuk, mereka akan berbincang layaknya seorang teman akrab. 

“aku hanya ingin menanyakan tentang putrimu, apa sudah ada kabar?” Tanya Minsuk membuat Yongjoon terkejut, namun cepat-cepat dia mengatur raut wajahnya menjadi lebih tenang. Dia tersenyum kecil dan menggeleng. 

“kau tau perkembangannya selalu berada di posisi yang sama sejak 15 tahun yang lalu” Jawab Yongjoon menampilkan wajah sendunya, melihat itu Minsuk merasa simpatik. Dia pernah bertemu dengan putri Yongjoon, dia bahkan berada di rumah sakit saat istri Yongjoon melahirkan putri cantiknya ke dunia, namun entah mengapa tiba-tiba saja dia menghilang saat umurnya yang ke 10. Yongjoon bahkan mengerahkan semua pasukan intelejen dan polisi untuk melacak keberadaan putrinya tapi hasilnya nihil. Dan sampai sekarang gadis itu masih berstatus hilang. 

“apa kau tidak ingin menghentikannya? Umumkan saja jika putrimu sudah meninggal. Kita tidak tau apa yang terjadi diluar sana, dunia begitu kejam apalagi untuk gadis manis seperti Sooji” Ucap Minsuk dengan hati-hati, Yongjoon melebarkan matanya menatap tajam kepada Minsuk yang sudah dengan lancang mengatakan bahwa anaknya sudah meninggal. 

“kita memang teman lama, tapi aku rasa kita juga harus saling menghormati Kim Minsuk. Jangan mengatakan hal seperti itu lagi tentang anakku” Desis Yongjoon marah, Minsuk melihat kilat emosi di mata pria itu dan menghela nafasnya panjang. 

“baiklah jika itu keinginanmu—lalu apa yang kau ingin lakukan dengan hubungan anak-anak kita?” Yongjoon mengkerutkan keningnya bingung, anak-anak mereka? anak yang mana yang dimaksudkan Minsuk. 

“kau tau Taehee dan Jinhyuk, bukankah kita sudah sepakat untuk menjodohkan mereka?” Ucap Minsuk lagi menjelaskan. 

“ah benar. Aku sudah menyampaikannya pada Jinhyuk tapi dia belum memberikan pendapatnya” Ucap Yongjoon dengan terkejut seolah baru mengingat rencana mereka dahulu. 

“sama seperti Taehee, anak itu terlalu larut sama pekerjaannya jadi dia tidak terlalu menanggapi perkataanku” 

“baiklah, sepertinya waktu berkunjungku sudah habis” Yongjoon menaikkan alisnya curiga, apa yang dilakukan Minsuk saat ini adalah hal yang sangat tidak penting, mereka bahkan bisa membicarakan ini melalui sambungan telepon. Tapi melihat Minsuk jauh-jauh ke kantornya hanya untuk membahas hal-hal yang tidak penting membuat kecurigaannya meningkat. 

“kau hanya datang mengusikku dengan hal tidak penting ini? aku pikir kau ingin memberitahu hal yang penting padaku” Minsuk tersenyum sembari beranjak dari sofa, diikuti oleh Yongjoon. 

“sudah kukatakan padamu, aku hanya ingin mengunjungimu sebagai teman—kebetulan aku melakukan meeting di sekitar sini jadi berpikir untuk mampir” Jelas Minsuk. Mau tak mau Yongjoon mengangguk percaya, meskipun masih terselip rasa kecurigaan di dirinya namun dia menepis semua itu. 

“baiklah kalau begitu aku pulang dulu, sampaikan salamku pada istri dan anak-anakmu” Ucap Minsuk, dia mendekat lalu memeluk Yongjoon.

“kita bersahabat Yongjoon, jangan ragukan itu” Bisiknya pelan, lalu meninggalkan ruangan itu. Alis Yongjoon masih berkerut samar saat duduk ditempatnya semula. 

Lima menit setelah kepergian Minsuk, seseorang mengetuk pintu ruangannya membuatnya kembali berdecak. Hari ini dia tidak dibiarkan bekerja dengan tenang. 

“masuk” Serunya, seorang office girl masuk dengan membawa nampan yang berisi dua buah cangkir kopi membuat Yongjoon mendelik. 

“tamu saya sudah pergi jadi bawa kembali kopinya” Serunya saat office girl itu baru dua langkah memasuki ruangannya. 

“ba—baik tuan” Ucapnya dengan pelan. 

“tunggu, letakkan satu cangkir di meja saya. Dan sisanya bawa kembali” Sahut Yongjoon yang sudah tenggelam kembali ke berkas-berkasnya, office girl itu terlihat tersenyum samar namun tidak kentara karena dia hanya melakukannya sepersekian detik kemudian meletakkan gelas cangkir di atas meja Yongjoon. Setelah bergumam untuk berpamitan dia akhirnya keluar dari ruangan Yongjoon menyisakan pria itu dengan tumpukan dokumennya. 
Merasa kehausan, akhirnya Yongjoon meraih kopi yang disediakan untuknya. Menyesapnya perlahan kemudian meneguknya hingga tandas. Kopi itu sudah hangat jadi dia bisa menghabiskannya hanya dengan sekali teguk, setelah itu dia meletakkan kembali cangkirnya. Namun hanya beberapa detik setelah tangannya meninggalkan cangkir tersebut dia tersedak merasakan sesuatu seakan membakar tenggorokannya lalu menatap cangkir kopinya dengan pandangan histeris.

“sial!” Rutuknya, dia meraih telepon genggamnya dan menghubungi seseorang. 
“Song biseo, bawa paket itu ke kantor pos dan kirim sekarang” 

Yongjoon mengangguk setelah mendengar jawaban dari seberang, setelah meletakkan ponselnya ke tempatnya kembali dia menghela nafas panjang. Menatap pigura yang berada di sudut meja kerjanya. Foto kedua anaknya dan istrinya yang terlihat begitu cantik. Dia menghela nafasnya, dia akan pulang lebih awal hari ini. 

*** 

CONTINUED.

Aku mau ingatkan kalau romancenya bukan jadi masalah utama di sini. FF ini fokus ke permasalahan yang terjadi diantara setiap tokohnya bukan tentang percintaan pemeran utama 😁 jadi jangan harap bisa dapat romance yang banyak ya, tapi nanti pas sekali dapat momen romance aku bisa jamin kalian bakal meleleh 😋😋😋

Thankyou.xoxo
elship_L
.
.
September, 13th 2016

9 responses to “VENGEANCES – Enigma

  1. percakapan di awal itu keluarganya siapa? noori siapa? itu hanya mimpinya mary yah?
    hihi jadi pusing sendiri kan si myungsoo gara gara belum dapat keberadaannya mary…
    yah seperti yg di harapkan author, cerita kali ini susah susah gampang untk menebak kelanjutan ceritanya seperti apa?
    okedeh segitu ajah yah… chapter selanjutnya di tunggu….

    Liked by 1 person

  2. Anyeoong rider baruu
    Saya sekalian aja comentnya sama part 1,aiiiiih bapaknya suzy bener2 orang pentiing,tapi kenapa hanya suzy yang diasingkan?
    Kenapa yang 2 engga??
    Banyak kenapanya kayanya mah hihiii
    Next thoor fightiing

    Liked by 1 person

  3. Kenapa suzy harus hidup terpisah dengan keluarganya?dan mengapa yg mengetahui keberaaannya hanyalah appanya saja?
    Mungkinkah kopi yg di minum tn bae beracun? Hoksi dia diracuni oleh tn kim?tapi kenapa?

    Liked by 1 person

  4. Eonni daebaaak,, d awal bca part ini tuh bikin ngakak, sampe ketengah bikin tegang, dan akhrx sampe akhr bikin nangis karna nxesek bnget, gk kuat nahan..
    Aku gk yakin dngan minsok itu tulus apa kagak dngan persahbatan mereka yng di jalani sekian lamax, apa minsok berkhianat ya..
    Tp entah kenapa aku mikirx dia yng coba bunuh ayah sooji sama komplotan x itu.. Akhhh, baru part 2 udah bikin nangis..

    Liked by 1 person

  5. oh pantes appanya suzy bilang klu namanya tuh jang mari apapun terjadi nanti,apa appanya mari mulai punya firasat makannya mari di kasih kunci

    Liked by 1 person

COMMENT FOR WHAT YOU HAVE BEEN READ!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s