My Lovely Mr. Gay Part 7

MY LOVELY MR. GAY

Author : elship_L || Cast : Bae Sooji, Kim Myungsoo, others.|| Genre : Romance || Rating : PG-19+ || Type : Chapter

Myungsoo menguap saat membuka pintu mobilnya, dia terlalu keenakan berbincang dengan Yoorim sampai lupa waktu dan baru pulang saat sudah menjelang malam. Tapi dalam hati Myungsoo tidak menyesali apa yang telah dia lakukan hari ini, karena untuk pertama kalinya dia bisa mendapatkan teman bicara yang cukup bisa memahaminya. Yoorim sama sekali tidak pernah menyinggung masalah sensitif mengenainya, hanya beberapa pertanyaan tentang ayahnya dan kehidupannya selama ini ketika mereka tidak pernah bertemu lagi dan Myungsoo dengan senang hari menceritakan semua tindak-tanduknya semasa remaja yang sering membuat onar sehingga membuat Yoorim hanya tertawa karena kelakuan nakalnya.

Dia tidak pernah merasa sesenang ini saat bertemu dengan seorang wanita, ini pertama kalinya semenjak hari itu—Myungsoo mendesah, hari ini sudah berlalu dengan sangat baik dan moodnya benar-benar bagus jadi dia tidak ingin merusak apapun yang telah dia dapatkan hari ini dengan mengingat masa lalu yang terlalu menyakitkan untuknya.

“tuan—”

Myungsoo tersenyum membalas sapaan salah seorang security ketika baru masuk ke dalam lobi gedung apartemennya.

“anda baru pulang?”

“ada apa?” Myungsoo terlihat bingung, karena tidak biasanya security apartemennya mau berbasa-basi padanya maupun penghuni lain di gedung ini. Kecuali mereka mendapatkan titipan barang atau surat dari pos saat sedang keluar. Tapi Myungsoo tidak yakin jika dia mendapatkan kiriman sesuatu karena melihat kedua tangan security itu kosong, berarti tidak ada barang untuknya. Lantas mengapa dia harus repot-repot menyapaku?

“maaf, tapi saya hanya ingin menyampaikan jika tadi seseorang datang mencari anda” Ucapnya menjelaskan kebingungan Myungsoo membuat kerutan dikening pria itu perlahan menghilang.

“oh, apa dia memberitahu namanya? Atau menitip pesan untukku?”

“tidak, hanya saja wanita itu menunggu di atas pak” Myungsoo mengerutkan keningnya kembali, wanita? Selama tinggal di apartemen ini tidak pernah sekalipun ada wanita yang datang mencarinya—bahkan ayahnya saja jarang ke tempat ini jadi bagaimana mungkin seorang wanita bisa mengetahui alamatnya?

“wanita?”

Security itu menepuk dahinya lalu bersorak pelan seakan melupakan satu info yang sangat penting, “dia mengatakan bahwa dia adalah kekasih anda” Ucapnya membuat Myungsoo memejamkan matanya sejenak lalu menggeram pelan.

Wanita itu.

“lalu apa dia masih menunggu saya?” Myungsoo bertanya was-was, tidak mungkin jika wanita itu masih menunggunya kan? Ini sudah lebih dari 10 jam sejak wanita itu menelponnya pagi tadi dan sepertinya mustahil untuk seseorang mau menunggu selama itu, kecuali dia sudah tidak waras.

“sampai sore tadi saya tidak melihat dia turun ke sini, tapi saya sempat mengurus masalah penghuni lantai 2 dan baru saja selesai jadi saya tidak yakin jika dia sudah pulang atau belum saat saya tidak ditempat” Jelasnya lagi, karena pasalnya dia memang tidak mengetahui wanita itu sudah pulang atau belum sampai sore tadi.

“Mungkin saja dia sudah pulang, lagipula ini sudah malam. Terima kasih atas infonya pak, saya masuk dulu” Myungsoo tersenyum pada security itu lalu mengangguk kecil saat hendak melanjutkan jalannya menuju ke lift.

Dalam hati dia merutuk, wanita itu benar-benar tidak tau malu. Apa sebenarnya tujuannya datang ke apartemen ini dan dengan bodoh menungguinya?

“Myungsoo aku tidak akan pulang sampai kau datang”

Dan tiba-tiba saja dia teringat dengan perkataan wanita itu pagi tadi, bagaimana jika dia melakukan seperti yang dikatakannya? Menunggunya sampai dia pulang—ah, Myungsoo menggelengkan kepalanya lalu mencebik kesal. Kenapa juga harus memikirkan wanita itu mau menunggunya atau tidak. Dia sudah jelas mengusir wanita itu dari apartemennya tadi dan jangan menunggunya lewat telepon jadi bukan salahnya jika wanita itu menunggunya sampai sekarang.

“tapi mustahil jika dia masih menunggu sampai semalam ini, ya—kecuali dia sudah tidak waras” Myungsoo berdecak menggelengkan kepalanya lagi, berusaha menghilangkan pikirannya tentang wanita sialan itu—dia tidak ingin usahanya untuk tetap membuat moodnya hari ini bagus malah rusak karena wanita itu.

Dentingan lift membuat Myungsoo tersadar, dia menghela nafasnya panjang lalu keluar dari bilik besi tersebut. Saat berjalan menyusuri koridor menuju ke apartemennya dia menatap waspada sekitarnya—mencari wanita itu, setidaknya dia harus memastikan jika wanita itu sudah tidak dalam kawasannya saat ini.

Saat menemukan lorong koridor yang sepi tanpa siapapun, Myungsoo mendesah lega—setidaknya malamnya bisa tenang dan dengan santai dia melanjutkan jalannya. Tidak sabar untuk masuk ke dalam kamarnya, dia cukup lelah karena harus menyetir selama beberapa jam dari rumah Yoorim hari ini jadi sepertinya tidur adalah rencana yang sangat baik.

“astaga!” Myungsoo berseru saat kakinya tanpa sengaja tersandung oleh sesuatu dan membuat tubuhnya goyah, untung saja dia memiliki keseimbangan yang cukup baik sehingga bisa menahan tubuhnya agar tidak tersungkur dan mencium lantai koridor.

“siapa yang bodoh—”

Geraman tertahan Myungsoo terhenti saat melihat penyebab mengapa dia sampai terjungkal ke depan dan hampir saja terjatuh, matanya menyipit saat melihat sepasang kaki yang menjuntai ditengah-tengah koridor itu. Matanya kemudian menelurusi asal muasal kaki tersebut—lebih tepatnya pemiliki dari kaki sialan yang hampir saja mencelakainya.

“sial!” Myungsoo tiba-tiba mengumpat saat melihat tubuh itu bersandar di dinding tepat disamping pintu apartemennya dengan kepala yang terkulai kesamping, matanya menyipit saat menyadari jika pemilik kaki sialan itu tengah tertidur di atas lantai. Myungsoo menggeram, bagaimana dia tidak melihat wanita itu tadi?

“bodoh!”

Rutuknya lagi sebelum mengabaikan wanita itu dan langsung masuk ke dalam apartemennya. Myungsoo mendengus saat telah masuk ke dalam rumahnya dengan selamat, tapi dia masih merasa kesal karena kehadiran perempuan itu. Jadi dia benar-benar menungguku seharian ini?

“dia itu bodoh atau tidak waras! Bagaimana bisa menunggu selama ini? Malah tidur seenaknya di depan pintuku” Myungsoo berdecak marah-marah entah pada siapa—dia menuju dapur dan langsung membuka kulkas untuk mengambil satu botol air mineral untuk dia habiskan.

Setelahnya dia duduk dengan nafas yang menderu, kenapa semua hal tentang wanita itu selalu membuatnya marah? Jika sebelum ini para wanita yang mendekatinya, dia hanya akan mengabaikan mereka tanpa harus terlibat perdebatan ataupun perbincangan dengan salah satu dari mereka karena dia merasa muak hanya untuk berhadapan dengan seorang wanita.

Tapi, wanita itu—benar-benar sial! Dia berhasil membuat emosinya meledak-ledak hanya dengan melihat wajahnya yang tentu saja itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya dia tidak merasakan apapun terhadap wanita—tepatnya tidak ada perubahan emosi yang dia rasakan, tapi kenapa dengan Sooji semuanya seolah-olah ada yang telah menekan tombol khusus dalam tubuhnya dan langsung meledakkan emosinya?

Myungsoo termenung, bagaimana bisa wanita itu dengan bodohnya bisa tidur begitu saja diluar sana? Apa dia tidak memikirkan bahaya yang mungkin saja akan menimpanya. Bagaimana jika—

“apa yang kau pikirkan Kim Myungsoo!”

Myungsoo merutuki dirinya sendiri. Bukankah dengan pikiran bodohnya tadi itu menandakan bahwa dia sedang mengkhawatirkan perempuan itu? Oh—dia mendesah panjang.

“kau benar-benar bodoh!” Myungsoo berseru kesal lalu dengan langkah tergesa dia kembali ke pintu apartemennya dan menyentak pintu itu dengan kuat sehingga menimbulkan suara bising. Dia kembali menatap wanita yang masih tertidur pulas dengan posisi yang sangat tidak nyaman itu.

Dia mencebik.

“hei! Bangun bodoh”

Myungsoo menggerakkan kakinya untuk menyenggol kaki wanita itu, dengan enggan dia terus memanggilnya agar segera bangun. Dia tidak ingin orang lain melihat wanita ini di depan apartemennya, mereka bisa mengira bahwa dia telah berbuat jahat pada wanita itu.

“hei bangunlah! Kenapa kau tidur di sini” Dia membuat suaranya menjadi lebih keras dan senggolan yang tadinya sangat pelan itu langsung berubah menjadi tendangan kecil, “kenapa kau tidak mau bangun?” Dia masih menatap enggan wanita itu yang sama sekali tidak terlihat terganggu. Wajahnya tertekuk masam—wanita itu benar-benar berhasil membuat harinya kembali memburuk!

“Bae Sooji bangunlah!”

Kali ini dia berteriak sembari menarik rambut wanita itu, sehingga membuat kepalanya ikut tertarik. Myungsoo menggeram saat melihat pergerakan kecilnya, dia memutar bola matanya lalu menendang sekali lagi kaki wanita itu sehingga sebuah ringisan kecil terdengar.

“aduh! Jangan menendangku” Bisiknya pelan dengan suara parau, Myungsoo menggelengkan kepalanya—dia benar-benar tidur pulas.

“bangunlah dan pulang! Apa kau tidak punya rumah!”

Sooji menguap sambil mengusap wajahnya, matanya masih sangat berat dan badannya entah mengapa sangat pegal—berusaha untuk merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku dia mengedarkan pandangannya.

Alisnya berkerut saat mendapati suasana asing—ini tidak seperti kamarnya dan mengapa dia duduk di lantai?

“bodoh! Cepat sadar dan pulang!”

Bentakan itu berhasil membuatnya tersadar lalu segera menengadah menatap pria yang berdiri menjulang di sampingnya, seketika dia tersenyum lebar menatap lega karena kedatangan pria yang telah ditunggunya sejak tadi.

“akhirnya kau pulang juga” Suara itu sangat lembut dan terdengar penuh kelegaan membuat Myungsoo terdiam, menatap wajah sembab Sooji—diakibatkan karena baru bangun tidur—yang sedang tersenyum memamerkan deretan giginya.

Dia mendesah panjang.

Dia memang adalah pria brengsek yang sangat tidak menyukai wanita dan benar-benar muak untuk berhadapan dengan mahkluk berwujud perempuan tapi—sebrengsek apapun dirinya dia tetaplah seorang pria yang sepanjang hidupnya tidak pernah sekalipun menyakiti seorang wanita dan melihat kondisi Sooji sedang duduk di atas lantai dengan keadaan berantakan karena menunggunya membuatnya merasa jengkel.

Jelas kan? Wanita ini benar-benar sial!

“pulang ke rumahmu dan tidur di sana. Ini sudah malam” Ucap Myungsoo mengabaikan ucapannya barusan, Sooji menggeleng lalu beranjak dari tempatnya. Dia berdiri dihadapan Myungsoo lalu menatap pria itu, mengerjapkan matanya seakan teringat sesuatu lalu dia menunduk untuk mencari paper bag yang tadi di bawanya.

“ini—sebenarnya aku kemari ingin memberikan sarapan ini padamu” Senyumnya yang lebar perlahan mengendur lalu menatap penuh sesal tas kertas yang ada ditangannya saat ini, “tapi sepertinya ini sudah tidak baik—maafkan aku” Desahnya dengan kepala tertunduk membuat Myungsoo mendelik.

“aku tidak butuh sarapan darimu”

Sooji menatapnya lalu mengangguk kecil, “aku tau—tapi aku membuatnya khusus untukmu” Sooji kembali tersenyum, dia mengusap pelipisnya dengan kikuk lalu tertawa kecil.

“karena makanan ini sudah tidak layak lagi—bagaimana jika aku membuatkan makan malam untukmu? Ini sudah malam bukan?” Sooji mengerjapkan matanya—dalam hati dia mengutuk perilakunya yang seperti ABG labil yang sedang jatuh cinta. Demi tuhan! Selama hidupnya dia tidak pernah melakukan hal sememalukan ini—terlebih kepada seorang pria.

“aku sudah makan. Pulang saja” Tolak Myungsoo langsung membuat Sooji mengumpati pria itu dalam hatinya.

“tapi—”

“pulang saja Sooji, ini sudah malam. Dan lain kali tidak perlu kemari lagi” Ucap Myungsoo final lalu masuk ke dalam apartemennya tanpa menunggu jawaban wanita itu.

“hei tunggu—” Sooji meringis sebal karena perilaku semena-mena pria itu kepadanya, dia menendang pintu yang baru saja tertutup itu dengan dengusan kasarnya, “aku sudah capek-capek menunggu tapi kau malah mengabaikanku!” Teriaknya marah.

“tunggu saja! Aku akan kembali dan mengganggumu lagi!”

Lalu setelah itu dia berbalik untuk pulang! Seperti kata Myungsoo tadi, ini sudah malam jadi dia tidak mungkin tinggal di tempat itu lebih lama lagi. Sudah cukup dia ketiduran di lantai koridor itu dalam seharian ini—ah salahkan pekerjaannya yang terlalu banyak hingga dia kurang tidur dan saat mendapatkan kesempatan dengan bodohnya dia malah ketiduran di tempat itu.

Bagaimana jika orang lain melihatku tidur di koridor tadi?

“oh! Ini sangat memalukan!” Sooji berteriak frustasi di depan lift lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

###

Myungsoo mengangkat alisnya menatap pria dihadapannya yang sedang melemparkan tatapan menyelidik kepadanya, siang ini—seperti biasa dia kembali mendapat gangguan dari Kangjoon. Mendesah panjang, dia memilih mengabaikan pria itu—karena sepertinya mulai saat ini dia harus membiasakan diri dengan gangguan-gangguan pria itu yang semakin hari semakin menyebalkan.

“kau benar-benar keterlaluan”

“kali ini apa lagi Kangjoon?” Myungsoo bertanya acuh sambil menyantap makan siangnya, membiarkan Kangjoon mengomelinya tanpa alasan yang jelas.

“bagaimana bisa kau membuat Sooji menunggumu selama berjam-jam dan kau malah mengusirnya begitu saja?”

Dia memutar bola matanya kesal, wanita itu lagi. Kapan hidupnya bisa tenang tanpa wanita itu? Dulu dia sangat menyesal kenapa harus datang ke acara ulang tahun ayahnya yang berakhir sial dengan bertemu wanita itu dan kesialannya semakin menjadi karena wanita itu mengganggunya.

“sekarang kau berkomplot dengannya huh?” Kangjoon mendelik membalas tatapan tajam Myungsoo.

“aku tidak berkomplot! Dia hanya memberitahuku lewat telepon”

“oh kalian sedekat itu sampai harus saling melapor?” Myungsoo mencebik melirik tajam Kangjoon, “biar kutebak—pasti kau juga yang memberitahu letak apartemenku padanya?”

“Myungsoo—”

“dengar—aku tau tujuanmu dan aku harap apapun itu segera hentikan karena itu akan sia-sia Kangjoon” Myungsoo menyela lebih dulu memberikan tatapan intens pada Kangjoon, mengutarakan bahwa apa yang dikatakannya adalah keputusannya yang tidak dapat diganggu gugat lagi.

“Myungsoo aku hanya ingin membantumu”

“membantu apa?” Kangjoon diam mendengar pertanyaan itu, dia mendesah panjang—Myungsoo jelas tau apa yang mereka bicarakan saat ini tapi dia dengan bodoh menyangkalnya.

“kau tau—Wonho saja bisa bersama seorang wanita lalu kenapa kau tidak? Myungsoo ayolah jangan keras kepala begini”

“jangan samakan aku dengannya! Kami jelas berbeda” Desis Myungsoo kesal, nama Wonho yang kembali disebut membuatnya semakin jengkel.

“beda? Jadi dimana bedanya?” Kangjoon menatap nyalang Myungsoo yang kini terdiam dengan pertanyaannya, “ah tentu saja beda! Dia akan menikah dengan seorang wanita dan kau—terus saja terpuruk dengan hatimu yang patah karena seorang pria” Kangjoon mendengus diakhir kalimatnya.

“well done Myungsoo, well done” Ejeknya kemudian beranjak dari sana, berdiri menjulang di depan Myungsoo dan menatap pria itu tajam.

“Sooji ingin membantumu, niatnya sangat baik dan kau—” Kangjoon menunjuk tepat di depan wajahnya membuat Myungsoo membalas tatapannya yang tajam, “kau hanya laki-laki bodoh dan terlalu pengecut untuk mencoba berdamai dengan masa lalu sialanmu itu!”

Kalimat itu langsung menohok Myungsoo, dia marah tentu saja—Kangjoon menyebutnya sebagai pria pengecut dan itu jelas bukan dirinya. Tapi, disamping kemarahannya ada satu emosi yang lebih mendominasinya—yaitu rasa bersalah. Entah, perasaan itu ditujukan kepada siapa, kepada Kangjoon atau dirinya atau masa lalunya atau wanita itu? Myungsoo menggelengkan kepalanya mengabaikan semua suara-suara yang bersorak didalam pikirannya saat ini.

“Kangjoon—”

“aku menyerah Myungsoo! Lakukan sesukamu” Desisan itu mengantar kepergian Kangjoon yang meninggalkannya begitu saja di dalam café, dia hanya mampu memandang punggung Kangjoon yang perlahan menghilang kemudian mendesah panjang.

Suara notifikasi ponselnya membuatnya mengalihkan perhatian pada benda persegi itu, dia membuka pesan yang baru saja masuk dan alisnya berkerut samar mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang tidak terdaftar dalam kontaknya.

Sudah makan siang?

Jika belum, kita bisa makan siang bersama.

 

Sooji.

Myungsoo mendengus menekan power off ponselnya, bagaimana bisa dia lupa untuk memblokir nomor wanita itu. Sejak malam itu ponselnya selal u berbuyi dijam-jam tertentu karena wanita itu selalu mengiriminya pesan yang sangat tidak penting, yang ini salah satu contohnya.

“bodoh” Rutuknya kesal, nafsu makannya telah hilang karena dua orang bodoh itu—Kangjoon dan Sooji—jadi tanpa berlama-lama, dia memilih untuk meninggalkan mejanya setelah sebelumnya membayar semua makanan yang telah dia pesan.

###

Soojung menggelengkan kepalanya menatap Sooji yang terus saja menatap layar ponselnya sejak tadi, bahkan makanan di hadapannya masih belum berkurang sesendokpun karena terlalu fokus dengan benda mati tersebut.

“Sooji, makan dulu” Tegurnya pelan tapi diabaikan oleh wanita itu, dia berdecak. Mengapa semenjak pengakuan perasaannya pada Myungsoo, dia menjadi aneh begini? Sering melamun sendiri dan terus menatap ponselnya tanpa bosan—memangnya ada apa dengan ponselnya itu? Soojung mendesah panjang.

“ayolah—Myungsoo tidak akan muncul dari layar ponselmu begitu saja jika menatapnya seperti itu” Kali ini wanita itu bereaksi dengan menatap Soojung, dia mengerutkan alisnya bingung, “makan dulu—setelah itu baru pikirkan dia. Jangan sampai kau sakit karena jatuh cinta” Soojung terkekeh saat mengucapkan kalimat itu membuat Sooji mendengus.

“aku tidak jatuh cinta Soojung”

“lalu apa? Bertingkah seperti remaja yang sedang kasmaran—apa namanya kalau bukan jatuh cinta?”

Sooji memutar bola matanya menatap Soojung kesal, “kau tau aku tidak sampai ke tahap itu—ini murni hanya ketertarikanku karena kehidupannya yang berbeda, tidak lebih”

“oh karena dia berbeda? Maksudmu gay?” Soojung kini tertawa, tidak sanggup melihat wajah jengkel Sooji karena ejekannya itu.

“bukan begitu Soojung—”

“aku hanya bercanda—aku tau maksudmu, jadi sekarang makan dulu” Soojung menyela, jika mereka memilih untuk berdebat, dia yakin jika itu tidak akan selesai—setidaknya sampai matahari terbenam tidak akan kelar dan dia masih memiliki banyak pekerjaan untuk dikerjakan daripada harus mendebat mengenai masalah hati sahabatnya.

“kau tau—dia sangat sulit untuk didekati. Coba berikan aku tips untuk mendekatinya” Desah Sooji, akhirnya dia memilih menyimpan ponselnya lalu mulai makan sesuai keinginan Soojung.

“mengapa harus aku? Aku tidak tau”

“setidaknya kau lebih berpengalaman dengan kaum mereka—maksudku Wonho” Soojung meringis mendengar perkataan Sooji, seolah-olah kedua pria itu adalah makhluk astral yang tidak diketahui eksistensinya di dunia ini.

“aku dan Wonho bisa menjalani hubungan ini karena kami sama-sama menginginkannya. Sangat sulit jika kau ingin merubahnya tapi dia sama sekali tidak memiliki niat untuk berubah, itu sia-sia Sooji”

Sooji mendesah pelan, dia tau hal itu. Meskipun telah berusaha sekuat apapun—jika Myungsoo tidak ingin berubah semuanya akan sia-sia, jadi disini pertanyaannya—bagaimana cara agar Myungsoo memiliki niat itu?

“kau sudah bertanya dengan orang terdekatnya?” Tanya Soojung lagi saat melihat Sooji diam, wanita itu mengangguk kemudian kembali mendesah.

“sama sekali tidak membantu—dia senang mengetahui aku ingin mendekati Myungsoo tapi kau tau sendiri pria itu benar-benar menutup diri dari perempuan”

“jika kau benar-benar yakin dengan pilihanmu, seharusnya kau berusaha lebih keras lagi. Meskipun dia membenci perempuan tapi dia tetap punya hati kan? Dan sekeras-kerasnya hati manusia pasti akan luluh juga jika itu berbicara tentang kasih sayang”

“aku masih memikirkan ini Soojung—” Sooji mendesah mengutarakan pikiran yang sedikit mengganggunya beberapa hari ini, “kau tau ini pertama kalinya aku merasa tertarik dengan seseorang dan aku sama sekali tidak mengerti mengapa perasaan itu bisa muncul secepat ini”

Sooji menggelengkan kepalanya menatap Soojung pasrah, dia sama sekali tidak mengerti—semua perasaan yang dimilikinya saat ini sangat asing dan seperti bukan sesuatu yang benar yang harus dia rasakan.

“aku benar-benar tidak mengerti”

Soojung tersenyum mendengar keluhan itu, awalnya dia juga sempat bertanya-tanya mengapa Sooji bisa berubah secepat itu—tertarik dengan pria yang sangat dibencinya? Terdengar tidak masuk akal tapi—itu benar-benar terjadi pada Sooji.

“seperti yang kau katakan—tidak ada yang tau kapan perasaan kita bisa berubah. Lagipula kita tidak perlu harus memiliki alasan untuk bisa menyukai seseorang, karena yang menentukan adalah hati kita bukan otak”

“kau benar” Sooji mendesah—mendengar penjelasan Soojung membuatnya sedikit demi sedikit mengerti tentang perasaan yang dia rasakan saat ini.

“sangat wajar jika kau sedang kebingungan sekarang, karena jelas ini pertama kalinya untukmu. Semua wanita akan seperti itu saat pertama kalinya menyukai pria” Soojung tersenyum, “aku juga sepertimu ketika aku bertemu dengan cinta pertamaku, rasanya menyenangkan sekaligus mendebarkan bukan?”

Sooji mengangguk, benar—rasanya sangat menyenangkan jika mengingat tentang pria itu dan mendebarkan saat menanti pertemuan mereka kembali. Meskipun Myungsoo sangat antipati padanya tapi jelas itu tidak mengurangi debaran yang dia rasakan saat menatap mata pria itu.

Dia tersenyum lebar, Soojung selalu menjawab segala kebingungannya selama ini dan dia bersyukur karena bisa menjadi sahabat baik wanita itu.

“ah, bagaimana dengan liburanmu?” Tanya Sooji tiba-tiba saat teringat kemarin Haeri sempat menyinggung tentang pengajuan cuti Soojung selama satu pekan.

“sisa merampungkan satu proyek terakhirku bulan ini dan setelah itu aku akan pergi berlibur” Soojung tersenyum dengan wajah merona saat menjawabnya, membuat Sooji mau tidak mau ikut tersenyum.

“apa orang tuamu tidak masalah? Kalian belum resmi menikah tapi sudah bulan madu lebih dulu” Sooji terkekeh, ya—Soojung akan berlibur bersama Wonho, katanya mereka ingin memantapkan pilihan mereka sebelum pernikahan diadakan satu bulan lagi. Setidaknya dengan memiliki banyak waktu berdua, mereka bisa saling memahami perasaan satu sama lain.

“sebenarnya liburan ini adalah ide mereka” Soojung bercerita membuat Sooji sedikit terkejut.

“kenapa bisa? Apa ada hal yang kulewatkan?” Soojung tersenyum malu dan menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan wanita itu, “wah! Kau benar-benar sahabat yang baik. Ceritakan padaku sekarang!” Sindirnya kemudian.

“Wonho mengakui tentang kelainan orientasinya kepada orang tua kami”

Sooji tercengang saat mendengarnya, Wonho memberitahu kedua orang tuanya bahwa dia seorang gay? Oh! Dia bisa tau bagaimana perasaan kedua orang tuanya saat itu—mereka pasti merasa kecewa.

“lalu apa yang terjadi?”

“ayahnya marah besar saat itu, begitupula dengan orang tuaku. Mereka mengira kami akan membatalkan pernikahan dengan pengakuan itu, tapi kami menjelaskan bahwa pernikahan akan tetap berlangsung—kami juga memberitahu tentang usaha kami untuk membuat Wonho bisa normal”

“tentu saja! Itu wajar jika mereka marah—tapi aku bersyukur karena mereka masih bisa menerimanya” Sooji menghela nafasnya lega—orang tua Soojung bukanlah seorang yang konservatif, jadi sangat mudah untuk meyakini mereka agar bisa mengerti segala kekurangan yang dimiliki oleh Wonho.

“tentu dan aku sangat bersyukur atas semua pengertian mereka”

Tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas dibenaknya—bagaimana jika ibunya tau mengenai Myungsoo? Atau Jongsuk? Apa mereka akan menerimanya juga seperti orang tua Soojung dan Wonho atau malah menolak pria itu?

“hei apa yang kau pikirkan?” Sooji tersentak menatap Soojung dan tersenyum kecil.

“tidak, tidak ada—ah jangan lupa membelikan oleh-oleh untukku ya?”

Dia menggelengkan kepalanya lalu mengalihkan topik, karena Soojung akan berlibur ke New York bersama Wonho jadi dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan barang-barang branded yang original dari negara itu.

“tentu saja, jangan khawatir—aku akan membelikan apa yang kau inginkan”

“kau selalu yang terbaik Soojung” Mereka berdua kemudian tertawa bersama—melanjutkan waktu istirahat siang mereka dengan melakukan perbincangan-perbincangan ringan ala para wanita. Work, Gossip, and Man.
###

Untuk pertama kalinya Myungsoo bisa bernafas lega satu hari ini, sejak pagi Kangjoon terlihat sibuk dengan ayahnya—entah urusan apa yang sedang mereka lakukan, tapi dia harus berterima kasih dengan apapun yang sedang mereka kerjakan hari ini karena kesibukan itu dia terbebas dari Kangjoon.

Myungsoo bahkan sudah lupa rasanya hidup tenang akhir-akhir ini, Kangjoon selalu saja merecokinya dengan hal-hal yang sama sekali tidak penting menurutnya. Jika bukan masalah ayahnya pastilah masalah wanita itu dan dia sudah sangat muak setiap hari selalu mendengar ocehan Kangjoon.

Namun hari ini berbeda, hingga dia selesai bekerja dan sekarang telah sampai di apartemennya Kangjoon sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya, bahkan dia tidak menelpon sekalipun yang membuat Myungsoo kembali bersyukur. Dia bisa menikmati hari ini dengan sangat tenang—

“ah siapa yang bertamu di jam begini”

Myungsoo merutuk, baru saja ingin menghabiskan waktunya dengan bersantai tapi deringan bel apartemennya tiba-tiba mengganggunya begitu saja.

“tidak bisakah aku mendapatkan ketenangan sehari saja” Dia berdecak lantas beranjak dari sofa setelah mengecilkan volume tvnya dan berjalan menuju pintu utama, dia sudah bisa menebak jika sang tamu yang tidak diundang itu adalah Kangjoon.

Pria itu benar-benar tidak pernah melewatkan seharipun untuk mengganggunya.

“tidak bisakah seha—”

Myungsoo terpaku ditempatnya berdiri saat ini, dia sudah ingin mengeluarkan kekesalannya dengan Kangjoon saat membuka pintu tapi semua kalimatnya terhenti diudara meninggalkan wajahnya yang sekarang sedang menganga karena menemukan seseorang yang sedang tersenyum lebar kepadanya.

“hai—kau sudah makan malam?”

Dia tersenyum menyapa Myungsoo, mengibaskan salah satu tangannya didepan wajah pria itu sehingga membuatnya mengerjapkan mata.

“ka—kau—”

“ya ini aku—Sooji, bukan hantu jadi berhenti menatapku seolah aku ini hantu”

Myungsoo memejamkan matanya sejenak lalu menggeleng memasang wajah datarnya, dia sama sekali tidak pernah berpikir jika wanita itu mau kembali ke apartemennya setelah pengusirannya beberapa hari yang lalu. Lagipula dia juga sudah jelas-jelas menolak wanita itu dengan selalu mengabaikan pesan-pesan yang dikirimnya, tapi wanita ini jelas sudah tidak waras untuk berhadapan dengannya lagi.

“apa yang kau lakukan di sini?”

“bukankah aku memiliki janji membuatkan makan malam untukmu?”

“kau yang berjanji pada dirimu sendiri, bukan padaku. Aku sudah mengatakan untuk tidak kembali ke tempat ini” Myungsoo mendengus, wanita itu benar-benar tidak tau malu.

“apapun itu, sekali janji tetaplah janji Myungsoo dan aku harus menepatinya” Sooji berkelit, mengabaikan tatapan menusuk pria itu. Dia terus memasang senyumnya dan berharap Myungsoo mau menerimanya kali ini.

“kau benar-benar tidak punya malu ya?”

“benar! Aku tidak tau malu! jadi tidak masalah bukan jika aku langsung masuk sekarang” Sooji berseru lalu sedikit mendorong tubuh Myungsoo yang lengah sehingga membuka jalan masuk untuknya, dia tersenyum penuh kemenangan sesaat kakinya telah mendarat dengan sempurna dalam apartemen itu.

“hei! Aku tidak mengizinkanmu masuk”

“sudah terlanjur, sayang jika aku harus keluar lagi—kau belum makan kan? Aku akan membuatkan makanan untukmu” Sahutnya tanpa memperhatikan Myungsoo yang sedang bersungut-sungut dibelakangnya, dia sibuk mengamati isi apartemen Myungsoo yang sangat mewah itu.

Apartemen ini tidak memiliki banyak ruangan tapi ukurannya sangat luas, disisi kiri terdapat sofa empuk dan sebuah tv plasma yang menggantung di dinding, sementara di sebelah kanan terdapat dapur yang sangat besar bersatu dengan ruang makan. Dihadapannya, dia langsung disuguhkan oleh pemandangan malam kota Seoul dari balik dinding kaca tebal yang memanjang dari sisi kiri sampai kanan apartemen itu.

“woah! Ini sangat indah” Tanda sadar Sooji melangkah ke dinding kaca itu lalu menatap pemandangan diluar sana, dia berbalik dan menatap Myungsoo dengan mata berbinar, “apartemenmu sangat bagus” Pujinya membuat Myungsoo mendengus.

“aku sedang malas berdebat dengan siapapun hari ini, jadi keluarlah dan pulang”

“aku tidak sedang mengajakmu untuk berdebat. Aku ingin mengajakmu makan bersama” Sooji tersenyum, dia mengangkat belanjaannya di supermarket tadi sebelum sampai ke tempat ini.

“Bae Sooji—”

“sudah terima saja, aku akan memasak sekarang” Dengan santai Sooji berjalan menuju dapur, mengeluarkan seluruh belanjaannya dan mulai menyiapkan bahan untuk memasak makan malam mereka hari ini. Sepenuhnya mengabaikan Myungsoo yang jelas-jelas berniat mengusirnya dari sini.

Myungsoo yang melihat Sooji menguasai dapurnya hanya bisa berdecak, dia bisa saja langsung menyeret wanita itu keluar dari apartemennya—tapi jika dia lakukan itu hari ini, bukan tidak mungkin besok dan seterusnya wanita itu terus datang mengganggunya dengan alasan yang sama.

“hanya sekali Sooji! Tidak akan ada lain kali lagi” Myungsoo berseru lalu meninggalkan wanita itu untuk masuk ke dalam kamarnya, dia tidak akan bisa menahan gejolak emosinya jika terus-terusan melihat Sooji, jadi dia memilih untuk mengurung dirinya di kamar.

Sementara Sooji hanya tersenyum puas karena Myungsoo akhirnya pasrah dengan dirinya.

Aku bisa menjamin akan ada puluhan ‘lain kali’ untuk kita Kim Myungsoo.

#

“kenapa harus duduk disampingku” Myungsoo mendengus, setelah pemaksaan yang dilakukan wanita itu untuk menguasai dapurnya sekarang dia harus dipaksa lagi untuk keluar dari kamarnya dan menyantap masakan yang telah dibuat oleh Sooji. Dan lebih parahnya lagi, Sooji mengambil tempat untuk duduk disampingnya—bukan diseberangnya, yang mana itu sangat membuatnya risih.

“kenapa memangnya? Aku lebih senang duduk di sini, bisa lebih dekat denganmu”

“tapi—”

“sudah makan saja! Nanti makananya dingin—selamat makan” Sooji tersenyum menyela kalimat yang akan diutarakan pria itu lalu menyantap makanannya, Myungsoo memutar bola matanya jengah.

“kau benar-benar tidak tau malu” Desisnya sebelum ikut bergabung dengan Sooji untuk makan, “ini lumayan” Ucapnya kemudian saat mencoba masakan Sooji membuat wanita itu mau tidak mau tersenyum puas.

“terima kasih”

Myungsoo mengabaikannya, dia hanya perlu untuk menghabiskan makanan ini setelah itu dia harus segera mengusir wanita itu dari apartemennya. Dia sudah tidak tahan lagi harus berada di dalam ruangan yang sama dengan seorang perempuan.

“Myungsoo—”

“aku sedang makan. Jangan bicara” Sahut pria itu datar, Sooji menoleh padanya sebentar lalu menghela nafasnya panjang.

“tapi aku sudah selesai” Gumamnya pelan kemudian dia memiringkan kursinya untuk menghadap ke arah pria itu, mengamati Myungsoo saat menghabiskan makanannya.

“berhenti menatapku” Desisnya tapi Sooji tidak mengindahkan pria itu, dia malah semakin intens menatap wajahnya.

“apa sebenarnya maumu?”

Myungsoo meletakkan sendoknya dengan enggan, menoleh menatap malas wanita disampingnya itu. Saat ini sepertinya dia harus meluruskan semua yang terjadi diantara mereka, dia sama sekali tidak ingin berurusan dengan seorang wanita dan satu-satunya jalan agar Sooji berhenti mengganggunya yaitu dengan mempertegas penolakannya pada wanita itu.

“kau tau apa yang aku inginkan Myungsoo” Sooji menjawab menatap mata pria itu, di sana dia kembali mendapatkan kubangan yang begitu kelam namun berusaha ditutupi dengan ekspresi datar dan tatapan dinginnya.

“berhenti melakukan hal yang sia-sia Sooji, jangan terlalu naif” Myungsoo mendesis pelan.

“jika kita berusaha lebih keras, tidak akan ada hasil yang sia-sia Myungsoo” Sooji menyentuh paha pria itu, menatapnya penuh harap, “aku bisa membantumu menyembuhkan penyakitmu” Bisiknya pelan membuat Myungsoo yang tadinya menatap kakinya langsung menatap ke matanya.

“penyakit?” Myungsoo tersenyum miring, “jika kau katakan ini adalah penyakit—jadi tolong beritahu aku, jenis obat apa yang bisa menyembuhkannya? Kau bisa merekomendasikan apotiknya padaku” Sambungnya dengan nada sarkastis.

Sooji terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Myungsoo, dia tau—bahwa dia telah salah bicara dengan menyebut apapun keadaan yang dialami oleh pria itu adalah sebuah penyakit. Padahal dia sendiri juga tau jika itu bukanlah sebuah penyakit yang harus disembuhkan. Hanya sebuah pola hidup yang tidak sama seperti orang biasa pada umumnya.

“kenapa tidak menjawabku? Sebutkan nama obatnya dan aku akan sangat berterima kasih padamu jika aku bisa sembuh dengan obat itu” Myungsoo terus mendesak Sooji, menekan kalimatnya saat mengatakan ‘sembuh’ yang mana mereka berdua tau jika itu sama sekali mustahil terjadi.

“bu—bukan begitu maksudku—aku—”

“lalu maksudmu seperti apa? Kau jelas mengatakan aku terkena penyakit dan harus disembuhkan”

“Myungsoo—”

“bagaimana aku bisa sembuh jika tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya? Apakah benar ini penyakit, Sooji?”

Sooji menatap menyesal padanya, dia tidak tau harus mengatakan apa lagi karena Myungsoo jelas-jelas telah menohoknya dengan semua kalimat yang dia lontarkan barusan. Dia mengutuk dirinya karena telah salah bicara dan membuat Myungsoo menjadi marah seperti saat ini.

“Myungsoo, maaf—aku sama sekali tidak bermaksud mengatakannya” Sooji bersuara pelan, berharap emosi Myungsoo bisa mereda karena hanya dengan melihat wajahnya yang mengeras saat ini, Sooji bisa tau seberapa besar kekesalan pria itu kepadanya.

“kau benar, itu bukanlah sesuatu yang harus disembuhkan karena itu bukan penyakit. Tapi—aku berniat tulus ingin membantumu”

Myungsoo terdiam menatap Sooji, mencoba mencari kebenaran akan ucapan wanita itu yang benar-benar tulus ingin membantunya—sebenarnya dia sama sekali tidak mengerti mengapa Sooji sangat ingin membuatnya berubah, dia sama sekali tidak bermasalah dengan kehidupannya yang sekarang. Lalu kenapa Sooji harus repot-repot melakukan sesuatu yang memang tidak dia inginkan?

“kenapa kau harus membantuku?”

“bukankah itu sudah jelas? Karena aku menyukaimu” Jawab Sooji langsung tanpa ragu-ragu membuat Myungsoo memejamkan matanya, mengulang kembali kalimat yang baru saja dilontarkan wanita itu didalam benaknya.

Ini bukan pertama kalinya seorang wanita menyatakan perasaan kepadanya dan semuanya berakhir sama dengan penolakannya, tapi kali ini dia rasa ada yang berbeda dari pengakuan Sooji. Meskipun kata-katanya sama dan perasaannya sama tidak bereaksi apapun tapi tetap dia berpikir ada yang lain dari wanita itu.

“sayang sekali—karena aku tidak menyukaimu” Tukas Myungsoo cepat, lalu beranjak dari kursinya, “pulanglah—biar aku yang membereskan semuanya” Ucapnya menunjuk piring-piring yang berada di atas meja makan lalu melangkah menjauhi Sooji yang masih terdiam di tempatnya.

“Myungsoo—”

“jangan berharap apapun padaku, karena kita jelas tau akhirnya seperti apa Sooji”

Sooji memejamkan matanya, dia jelas telah mendapat penolakan tepat setelah mengutarakan perasaannya—tapi bukan ini akhir yang dia inginkan. Dia menginginkan Myungsoo menerimanya dan mereka bisa bersama-sama berusaha.

“tunggu dulu” Sooji bergerak dan menyusul Myungsoo, dia melangkah cepat mengejar pria itu kemudian menahan lengannya, “dengarkan aku dulu”

Myungsoo berbalik menatap Sooji yang masih tidak ingin menyerah, dia sudah tidak bisa memikirkan cara lain lagi untuk menolak wanita itu.

“apa lagi? Kau tidak memiliki harapan apapun Sooji. Itu keputusannya”

“bagaimana kita bisa tau harapan itu tidak ada jika kita tidak mencobanya?” Sooji menatap Myungsoo nyalang, kedua tangannya kini menyentuh lengan Myungsoo memaksa pria itu untuk mengerti keinginannya, berharap bahwa Myungsoo bisa memberikan kesempatan untuk mereka berdua.

“kau tau, ini pertama kalinya aku menyukai seorang pria—dan disaat pertama itu aku harus menyukai pria yang benar-benar berbeda. Kau pikir apa yang aku harapkan?” Sooji menggelengkan kepalanya, “aku hanya melakukan semua ini sesuai dengan kata hatiku. Aku tidak mengharapkan kau yang bisa membalas perasaanku—aku hanya ingin membantumu dengan perasaanku ini, membuatmu bisa seperti pria lainnya. Tidak seperti ini, kau pasti mengerti maksudku”

“aku tau masalahmu dengan Wonho—aku juga tau jika kau masih tidak menerima keputusannya, tapi lihatlah dia—dia terlihat bahagia saat ini karena pilihannya dan kau? Apa kau bahagia sekarang?” Sooji melanjutkan kalimatnya saat Myungsoo sama sekali tidak menjawabnya, pria itu hanya diam menatapnya.

“setidaknya kita bisa mencoba dulu dan jika memang semuanya mustahil setelah kita mencoba—aku akan menyerah”

“semuanya jelas, tidak ada yang perlu dicoba lagi” Myungsoo menjawab dengan suara pelan membuat Sooji menggelengkan kepalanya.

“bagiku belum jelas Myungsoo, sebelum kita mencoba—semuanya tidak akan bisa jelas”

“kau benar-benar keras kepala!” Myungsoo merutuk dengan mata terpejam, seolah berpikir apa keputusannya saat ini. Dia jelas mengabaikan kedekatannya dengan Sooji sekarang, di mana wanita itu masih menyentuh lengannya dan tubuh keduanya hanya berjarak satu langkah dan saat dia membuka matanya—wajah penuh pengharapan wanita itu menyambutnya.

“kau benar-benar sialan!”

Dan selanjutnya yang terjadi adalah sesuatu yang benar-benar diluar dugaan, Sooji bergetar meremas kedua lengan Myungsoo dengan mata yang membelalak saat merasakan bibir pria itu menyentuhnya. Ini pertama kalinya—ah bukan, ini adalah kedua kalinya bibirnya menyentuh bibir pria lain, yang tidak lain adalah milik Myungsoo. Pria itu memejamkan matanya, melumat bibirnya penuh, membelainya dengan lembut sehingga membuat Sooji terlena.

Remasan dilengan Myungsoo perlahan berubah menjadi belaian yang lembut bergerak naik sampai kepundaknya dan kembali turun kedadanya. Sooji meletakkan kedua tangannya didepan dada Myungsoo dengan pelan, dan dia berusaha menyerapi permainan bibir pria itu, saat dia membuka bibirnya untuk memberikan akses, dengan senang hati Myungsoo memasukinya. Lidahnya mengeksplor seluruh rasa milik Sooji di sana sehingga membuat tubuh wanita itu bergetar hebat.

Ciuman itu sangat berbeda dengan ciuman pertamanya, yang hanya saling menempelkan bibir saja. Kali ini semuanya terasa lebih intens, bibirnya dan bibir Myungsoo seolah menyatu mencari pasangan masing-masing hingga semuanya terasa pas. Dengan kaku dan malu-malu Sooji ikut membalas ciuman itu, memainkan lidahnya saat bertemu dengan kepemilikian Myungsoo dan menyesapnya dalam sehingga membuat pria itu menggeram dalam.

Myungsoo menarik tubuh Sooji untuk mendekat padanya, menekan punggung wanita itu agar tidak ada seincipun jarak diantara mereka, sementara bibirnya masih sibuk mencecap Sooji dengan rakusnya, menjilat, melumat, menyesap serta mengigit dengan sangat lembut hingga kedua kaki Sooji menjadi lemah bahkan untuk menopang dirinya sendiri.

Dan ketika mereka tersengal karena kehabisan nafas, Myungsoo menarik diri. Membuka matanya menatap wajah sayu Sooji yang sudah terbakar oleh gairahnya sendiri.

Dia kemudian tersenyum miring.

“kau lihat? Aku sama sekali tidak merasakan apapun yang kau rasakan saat ini” Bisiknya tajam, Sooji yang masih memulihkan keadaannya akibat serangannya tadi hanya terdiam kaku ditempatnya. Menopang tubuhnya pada dada Myungsoo, menatap mata pria itu yang berkilat tajam.

“yang aku rasakan di sini—” Myungsoo menarik satu tangannya dari punggung Sooji tapi satunya masih menahan tubuh wanita itu kemudian dia menunjuk pelipisnya, “dan di sini—” setelah itu tangannya turun menyentuh dada kirinya tepat di atas punggung tangan milik Sooji.

“hanya perasaan marah dan muak saat ini”

Dia melepaskan tubuh Sooji, membuat wanita itu harus menyesuaikan dan menguatkan topangan kakinya agar bisa berdiri dengan tegak, Myungsoo menyeringai menyadari bahwa Sooji menegang karena ucapannya.

“pulanglah—dan jangan kembali lagi” Bisiknya untuk terakhir kali lalu meninggalkan wanita itu berdiri lunglai ditengah-tengah apartemennya dengan perasaan terluka.

Sooji meringis, hatinya sakit—tentu saja, pria itu baru saja melambungkan dirinya dengan ciuman yang sangat dalam dan setelahnya dia dihempaskan begitu saja sampai ke dasar jurang sehingga membuat seluruh tubuhnya bergetar karena rasa sesak di dadanya.

Pria itu jelas menolaknya dan ini adalah penolakan yang mutlak.

“jika itu keinginanmu—” Sooji bergumam pada dirinya sendiri, sedetik kemudian dia tersenyum miris menatap pintu yang baru saja ditutup pria itu setelah meninggalkannya.

“mari kita lakukan sesuai dengan kemauanmu”

###

TBC.

Dari awal aku tidak berencana buat ini jadi long story dan berat, jadi aku tidak akan memberikan konflik yang berliku-liku di sini. Hanya satu konflik dan penyelesaiannya juga satu, ibarat jalanan–cerita ini akan lancar seperti jalan tol 😂😂😂 bebas hambatan 😅

Thankyou.xoxo
elship_L
.
.
-16Sep’16-

27 responses to “My Lovely Mr. Gay Part 7

  1. Tuuu kn sooji nya jdi nyerah, myung si keterlaluan bgt,,,udah tinggalin aja myung, biar ntar dia yg gantian ngemis2 cinta ma sooji, biar tau rasa tu myung hahahhaaha… Btw salam knal…fighting…

    Liked by 1 person

  2. myungsoo dingin bgt , keras kepalanya tinggu bgt huhu
    itu di ending maksudnya suzy gmn author? hehe
    bikin penasaran
    tiap ending per chapter bikin penasaran terus hehehe
    next part ditunggu yaa authorr gomawo

    Liked by 1 person

  3. Suzy nyerah? Oh no!! Masa iyah suzy nyerah secepat itu? Emng penolakan myungsoo mutlak dan menyakitkan banget, tp mnurut aku suzy bukan tipe yg bkalan nyerah gtu aja..

    Andai myungsoo punya niatan kaya wonho, andai myungsoo bisa sadar lewat sindiran, lebih tepatnya ucapan pedes kangjun soal “berhenti jadi pengecut dan berdamai dengan masa lalu” tapi ini? Nothing! Myungsoo sama sekali ga punya keinginan buat berubah, padahal klo udh niat aku yakin besar kemungkinan msalah akan terpecahkan -_-. Bner kata kangjun, once again I wanna say that myungsoo itu terlalu pengecut😌

    Suzy jangan putus asa please, jangan nyerah, tau kok itu nyesek bnget, tapi untuk akhir yang bahagia ga tentu juga diawali sama awalan yg bahagia kan. So keep fighting !

    Liked by 1 person

  4. Semangat suzy eonny mengejar cinta nya myungsoo oppa..Aku yakin kamu pasti bisa menyembuhkan myungsoo oppa…
    Yaampun myungsoo oppa lumayan tajam kata katanya..
    Bgaimana kah cara sooji meyakinkan myungsoo?mari kita tunggu kelnjutannya..

    Liked by 1 person

  5. MYUNG KEJAM ! MEMPERMAINKAN PERASAAN SUZY DAHLAH AMBIL SECOND KISS SUZY PASTU BUAT SUZY SEDIH 😢😢😢😢😢😢😢 . Suzy be strong ! Biar myung yang kejar suzy jangan suzy kejar myung selepas ini TT sampai hati myung myung

    Liked by 1 person

  6. Astaga suzy kuat banget….ga gampang nyerah kalo udah cinta ya…
    Scene terakhir ga nyangka…kata2 myung sadis banget…penasaran sm kelanjutannya…lanjut thor…fighting

    Liked by 1 person

  7. Yeeyy akhirnya yg ditunggu tungu ngepot jg
    Ya ampunn myung tega bgt, masa udh kisseu dalem bgth gk merasakan apa2 ?? Myung keknya bener2 gk normal deh klo bgtu.
    Fighting thor !!!

    Liked by 1 person

  8. sumpah, aku ngerasain sakit nya suzy. Pengen bnget nendang pantat myung. Haha. Hbisnya tega bnget ama suzy. Awas ntar suzy gak ada, bru nyusahin kangjoo buat nyari suzy

    Liked by 1 person

  9. aku kira myungsoo akan mengikuti kenginan sooji untuk mencobanya, makanya dia mencium sooji. tpi hah😦 itu sangat menyakitkan untuk sooji😦 niat baik sooji malah di tolak ckck… sekarang sooji akan mengikuti keingina myungsoo, kila lihat sja saat myungsoo menyesali sikapnya pada sooji..
    next partnya di tnggu thor…

    Liked by 1 person

  10. Liat aja myung bentar lg kemakan omongan nya sendiri loh, udh nyuri poppo terus cma buat mainan aja dan bikin sooji berasa putus asa ntar malah dia lg yg nyari2 sooji.
    Sumpah gereget bgt sma myung klo emang ada org yg macem gitu, next nya sangat ditunggu…semangat!!

    Liked by 1 person

  11. Myungsoo tega benar ,suzy kelihatan kecewa bgt dan sakit hati, tp tumben jg myungsoo mau ciuman smpe sgitunya dgn cew ,biasanya dia pst lgsg mual ,tp ini dia ga mual cuma mau bls dendam doang ke suzy, artinya dia sdh bisa menerima kehadiran suzy sbg wanita slain yoorim ,yeay ditunggu nextnya ya thor..😙

    Liked by 1 person

  12. Kesel dengan myungsoo
    Kata katanya itu tajam banget..suzy nyerah? Oh no, jangan sampai setelah ini suzy benar benar gak peduli lagi dengan myung
    Salam kenal ya..

    Liked by 1 person

  13. Eung…. Gak sad ending kan thor? 😭
    Terlalu sayang kalo sad ending. Gantung ending aja thor lebih greget tar aku santet authornya deh 😂😂😂

    Liked by 1 person

  14. Omegaddd..myungsoo bener2 iyaa keras bgt tuh kepala…udah sooji dibikin melayang2 ee..dijatuhin gitu ajah dg rasa sakit yg begitu dalam..udah deh…tinggalin ajah myung dg sgala masalahnya ‘itu’ sendiri..toh dianya jg emang gag berniat untuk jadi laki laki ” normal” ..buang2 waktu ajah..dan yg lbh penting sooji gag perlu ngerasai yg namanya disakitin..

    Liked by 1 person

  15. Nyesek bnget dngan perlakuan myung terhdap suzy..
    Akhhh, keterlaluan sumpah bikin kesel bnget..
    Pdahal dia liat sendiri kalau suzy itu tulus, tp knapa dia seperti itu.
    Apa segitu bencinya dia terhadap perempuan..
    Ya tuhan tolong bukalah hati myungsoo..
    Semangat bikin kelanjutan x ya ka

    Liked by 1 person

  16. parahnya bngt perlakuan myungsoo sma suzy traumanya dmn bngt sma cwe smpe segitunya
    ngk nyangka bakal kyk gini
    semoga suzy ngk nyerah buat myung normal lagi ☺☺☺

    Liked by 1 person

  17. Sakit sekali pasti itu eo… Ckckck….. Jinja myung nappeun…
    Mungkinkah suzy bakalan mengikuti keinginan myung ato berjuang????
    Mungkinkah myung menyesal dengan perkataan tajam nya terhadap suzy?????
    (⌣́_⌣̀) ‎​Ĥůůů…….fff°˚˚˚°•!!!

    Liked by 1 person

COMMENT FOR WHAT YOU HAVE BEEN READ!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s