VENGEANCES – Destruction

VENGEANCES

Author : elship_L || Cast : Bae Sooji/Jang Mari, Kim Myungsoo|| Genre : Drama, Romance, Sad, Mystery, Crime || Rating : PG-19 || Type : Chapter

-Destruction-

 

Getaran halus yang terasa di bawah bantalnya membuat Mari terjaga, alisnya berkerut meskipun telah sadar dari tidurnya tapi matanya masih terpejam dengan erat. Seolah enggan untuk membukanya barang sedetik saja untuk mengecek ponsel yang sudah sejak 10 menit yang lalu terus bergetar.

“eungg—”

Tangan Mari menjalar untuk masuk ke bawah bantal dan mencari-cari letak ponselnya, masih dengan mata yang terpejam.

“eung, halo?” Suara Mari terdengar begitu serak, sangat jelas bahwa dia baru saja terbangun dari tidur panjangnya, dia bahkan hanya meletakkan hndphonenya di atas telinga kanan dan kedua tangannya kembali memeluk guling dengan erat.

“Sooji?”

Mari langsung terjaga saat mendengar sapaan diseberang telepon, matanya terbuka dengan lebar pertanda bahwa dia sangat terkejut saat ini.

“si—siapa?” Tanya Mari dengan hati-hati, dia tidak ingin melakukan hal yang mungkin bisa membawanya ke dalam bahaya. Bukan hanya dirinya tetapi ayahnya, ibu serta kakaknya, mereka bisa dalam masalah besar. Setidaknya itulah yang selalu ditekankan ayahnya saat dia bertanya mengapa namanya menjadi Jang Mari dan mengapa dia tidak bisa tinggal bersama kedua orang tuanya.

“hei, ini ayahmu nak. Kau sudah melupakan suaraku? Kita bahkan baru bertemu 3 hari yang lalu” Jawaban dari seberang sana membuat Mari menghembuskan nafasnya panjang, tanpa sadar dia telah menahan nafasnya tadi selama menanti jawaban tersebut.

ahbeoji? Apa kau sedang sakit? Suaramu terdengar aneh” Ucap Mari, dia mengucek matanya dan menatap jam dinding. Pukul 1 malam dan ayahnya menelponnya, kalau bukan ingin mengatakan hal yang penting pasti sesuatu yang buruk telah terjadi.

“apa yang terjadi? kenapa menelponku selarut ini” Sergah Mari lagi, sekarang debaran jantungnya begitu berkejaran. Perasaannya tidak enak, mendapatkan telepon selarut ini dari ayahnya pasti benar-benar telah terjadi sesuatu, entah itu kepada ayahnya, ibunya atau bahkan kakaknya.

“tidak, tidak apa-apa, hanya flu biasa nak. Ayah cuma merindukanmu, lucu bukan? Kita bahkan baru saja bertemu tapi aku sudah sangat ingin mendengar suaramu lagi”

“jangan berbohong, aku tau telah terjadi sesuatu”

Mari mungkin tidak menyadari bahwa ayahnya diseberang sana tersenyum dengan simpul mendengar nada penuh tuduhan yang dilontarkan olehnya, sementara dia masih duduk dengan gelisah di atas ranjang.

“kau ingin aku ke sana? kau baik-baik saja kan? Jangan membuatku khawatir, kumohon. Beritahu aku apa yang terjadi” Lirih Mari dengan panik, tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada ayahnya. Terdengar helan nafas dari seberang membut Mari menahan nafasnya lagi.

“Sooji—maafkan ahbeoji jika selama ini membuatmu merasa terasingkan. Maaf jika karenaku kau tidak bisa mendapatkan kasih sayang ibumu, maaf juga membiarkanmu tinggal sendiri diluar sana. Tapi seperti yang selalu aku katakan kalau semua ini demi dirimu dan apapun alasannya kau akan mengetahuinya segera”

Mari menggigit bibirnya menahan isakan tangis. Selama 15 tahun, ayahnya tidak pernah lagi memanggil nama aslinya. Sejak dia mendapatkan nama Jang Mari, ayahnya tidak pernah lagi menyinggung nama aslinya bahkan meskipun hanya mereka berdua yang ada sama sekali tidak pernah keluar nama aslinya dari bibir ayahnya itu.

“ada apa? kenapa kau memanggilku seperti itu?” Tanya Mari lirih.

“kau ingat dengan perkataanku kemarin? Aku—telah mengirimkan paket untukmu—dan itu akan tiba satu minggu lagi—di rumahmu, sebelum membukanya pergilah ke Galleria Foret—dan cari apa yang harus kau—temukan di sana”

Instruksi tersebut terdengar bergitu teratur dan jelas ditelinga Mari, meskipun suara ayahnya sedikit serak dan terputus-putus tapi ayahnya mengatakannya dengan sangat jelas.

“katakan padaku apa yang terjadi padamu, jangan menyiksaku ahbeoji. Aku sangat takut saat ini”

Mari sudah tidak dapat menahan tangisannya, dia menutup mulutnya dengan telapak tangan berusaha untuk meredam isakannya tetapi itu tidak berguna karena ayahnya telah mendengar tangisannya saat ini.

“jangan menangis sayangku, hei—dengar, kau masih ingat pesanku padamu 15 tahun yang lalu?”

Mari mengangguk samar, menyadari bahwa ayahnya tidak bisa melihat anggukannya tersebut akhirnya dia bergumam pelan mengatakan bahwa dia masih mengingatnya, meskipun terdengar tidak jelas karena teredam oleh isakannya.

“kau ingat, dan semua itu masih berlaku sampai sekarang. Jangan percaya pada siapapun. Berdiri di atas kakimu sendiri dan jangan bergantung pada siapapun”

ahbeoji? Katakan semua ini tentang apa? kau benar-benar membuatku takut”

“dengar, Jinhyuk satu-satunya yang bisa kau andalkan. Tidak siapapun. Jangan buat dirimu dalam masalah, kau mengerti?”

“ahbeoji—”

“Bae Sooji, apa kau mengerti?”

Mari menghela nafasnya panjang, mendengar suara ayahnya yang menajam tubuhnya menengang. Dia jelas tahu bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi dan itu pasti. Meskipun ayahnya menyangkalnya dia yakin dengan pemikirannya saat ini adalah benar.

“ya, aku mengerti”

“kalau begitu tidurlah kembali, maaf membangunkanmu. Ayah mencintaimu, sangat mencintaimu nak dan maaf selama ini tidak bisa berada disisimu. Aku mencintaimu”

“ahbeoji—ahbeoji—” Mari semakin terisak saat menyadari bahwa ayahnya memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak, bahkan sebelum Mari sempat membalas perkataannya. Mengatakan bahwa dia juga sangat mencintai ayahnya.

*

Gadis itu bergerak dengan resah di atas tempat tidurnya, matahari telah menyeruak masuk ke dalam kamarnya sejak 30 menit yang lalu sementara dia masih saja terus bergelung seolah matanya tidak dapat terbuka saat itu. Bayangkan saja, semalam setelah ayahnya mematikan sambungan teleponnya dia tidak dapat kembali tidur dengan tenang sehingga dia memilih untuk menelpon balik ayahnya namun panggilannya sama sekali tidak diangkat dan malah dialihkan ke kotak suara membuatnya semakin resah.

Mari sempat berpikir ingin menemui ayahnya di rumahnya saat itu juga namun dia tidak ingin mati muda, dia tau bahwa seorang gadis keluar dari rumah pada pukul 2 malam itu sangat berbahaya. Akhir-akhir ini tindak kejahatan sering terjadi di sekitar daerah tempat tinggalnya jadi dia tidak mau mengambil resiko yang membahayakan dirinya jika keluar dari rumahnya saat itu juga. Dan akhirnya, dia hanya bisa berbaring di atas ranjangnya dengan perasaan yang tidak karuan, segala macam pemikiran telah hinggap di otaknya sampai tanpa sadar jam sudah menunjukan pukul 5 subuh dan saat itulah matanya terpejam dengan sendirinya.

Sekarang sudah jam setengah 7 pagi dan akibat sinar matahari yang menerpanya membuat tidurnya yang memang tidak nyenyak itu terganggu.

“aisshh! matahari sialan!” Pekik Mari dengan histeris, kakinya menendang kesegala arah untuk menyalurkan kekesalannya. Hanya tidur 2 jam sanggup membuat Mari sangat sensitif pagi ini, dia masih ingin melanjutkan tidurnya tapi matahari itu tak tau malu malah mengganggunya saat ini.

Mari dengan sempoyongan berjalan menuju ke kamar mandi, matanya masih setengah terbuka. Sungguh dia benar-benar mengantuk saat ini, Mari menatap wajahnya dengan pandangan histeris di depan cermin. Hanya semalam dia kurang tidur tapi lingkaran hitam di sekeliling matanya benar-benar tidak dapat bersembunyi.

Mengabaikan segala keresahan yang dirasakannya sejak semalam, akhirnya Mari memilih untuk membersihkan dirinya. Cafe akan buka lebih cepat hari ini, karena seperti biasa setiap hari minggu mereka menerima pesanan dalam bentuk paket sarapan. Jadi dia harus bergegas sebelum sang pemilik cafe datang mengobrak-abrik rumahnya.

***

Pria paruh baya itu berjalan tergesa-gesa menuju ke sebuah ruangan dengan membawa sebuah map berwarna biru. Setelah mengetuk pintunya dia segera masuk dan menemukan atasannya sedang duduk dibalik meja kerjanya.

“tuan, apa anda serius dengan semua ini?” Tanyanya dengan wajah panik sembari mengangsurkan map biru tersebut.

“Song biseo, aku tau apa yang aku lakukan. Jangan mencoba untuk menghalangi niatku” Yongjoon tersenyum kecil kepada sekertaris kepercayaannya itu.

“lalu apa yang akan anda lakukan?”

“tinggal tunggu waktu saja, aku menitipkan anak-anakku padamu. Mari, perhatikan dia dengan baik” Yongjoon berkata dengan tenang membuat Song biseo menatapnya khawatir.

“tuan, apa yang harus saya lakukan setelah ini? Anda tau, saya hanya bekerja pada anda” Yongjoon tersenyum, dia kemudian menandatangani surat yang ada di dalam map biru tadi kemudian kembali menyodorkannya pada Song biseo.

“Jinhyuk dan Mari masih membutuhkanmu, aku berharap kau bisa menaruh kesetiaanmu pada mereka seperti kau setia padaku. Hanya kau yang aku percaya di sini, dan aku menitipkan mereka padamu”

“apa anda sudah berbicara pada nyonya besar?”

“semalam kami sudah membicarakan ini dan kau tidak perlu khawatir tentangnya, cepat atau lambat hal ini akan terjadi dan istriku sudah menyiapkan dirinya sejak awal” Jelas Yongjoon, Song biseo menganggukan kepalanya mengerti.

“bagaimana dengan paketnya?”

“mereka sudah berada di jasa pengiriman. Beberapa hari ke depan akan sampai ke tangan Mari, tidak perlu khawatir tuan” Jawab Song biseo, Yongjoon tersenyum dengan puas.

“Mari membutuhkanmu jika dia kembali, terus ada disampingnya dan jangan biarkan siapapun membuatnya lecet fisik maupun mentalnya” Pesan Yongjoon.

“saya mengerti tuan” Song biseo mengangguk dengan patuh, pesan Yongjoon adalah perintah untuknya dan dia akan melaksanakan tugasnya sebaik mungkin. Dia kemudian menatap Yongjoon dengan penuh simpatik.

“tuan, apa benar sudah waktunya?”

“ya, kau tidak perlu khawatir. Sejak awal kukatakan bahwa kau harus bersiap untuk hari ini, dan terima kasih selama ini kau sudah bekerja dengan baik untukku. Keluargaku, aku titipkan padamu” Setelah mengatakan kalimat itu Yongjoon terbatuk-batuk membuat Song biseo langsung sigap berdiri disampingnya.

“saya akan mengantar anda ke kamar tuan” Ucapnya, Yongjoon hanya tersenyum pasrah lalu menerima uluran tangannya untuk dibawa ke kamar. Dia sudah tidak punya urusan lagi yang harus di urus, semuanya telah selesai di sini jadi dia akan beristirahat dengan tenang dikamarnya.

“terima kasih” Bisiknya pelan.

***

“hei, kau melamun saja!” Mari tersentak dari tempatnya saat merasakan pukulan yang cukup kuat dibahunya, kepalanya terputar 90 derajat dengan cepat dan memicing menatap gadis yang sedang tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya.

“bagaimana kalau aku jantungan eoh? Kau mau bertanggung jawab memberikan jantungmu padaku?” Desis Mari sembari mengusap dadanya, meskipun dia tidak mengeluarkan suaranya untuk berteriak akibat terkejut tetapi bukan berarti dia tidak terkejut sama sekali. Saat ini jantungnya bahkan berdegup dengan cukup cepat.

“maaf, maaf. Siapa suruh melamun terus, sejak tadi pagi aku melihatmu tidak semangat. Memangnya ada masalah apa?” Tanya Yubi menaikkan tangan dan memberi simbol peace dengan dua jari-jari mungilnya itu. Mari menghela nafas panjang dan menenggelamkan kepalanya ke atas meja kasir, untung saja sore ini cafe sedang sepi jadi mereka bisa bersantai-santai.

“semalam ayahku menelpon” Ucap Mari tidak bersemangat namun berbanding terbalik dengan Yubi, dia malah terlihat antusias dan mencebikkan bibirnya dengan gemas saat mendengar ayah Mari menelponnya.

“benarkah? lalu apa yang dikatakannya? Bukankah ayahmu sangat jarang menelponmu?” Tanya Yubi semangat membuat Mari menarik nafasnya panjang sembari memejamkan matanya, perasaannya masih sama seperti pagi tadi saat dia terbangun. Seolah ada yang mengganjal di hatinya dan membuatnya terus resah memikirkan ayahnya saat ini.

“dia hanya mengatakan hal-hal yang tidak terlalu penting” Jawab Mari, Yubi menatap kepala Mari dengan iba, dia tidak bisa melihat wajahnya karena sekarang gadis itu sedang menyembunyikannya di balik lengannya.

“apa karena itu kau jadi tidak semangat? Kenapa tidak menelpon balik saja?” Tanya Yubi lagi, benar-benar tidak tau apa yang bekercamuk dalam hati Mari. Gadis itu sangat ingin berteriak mengatakan bahwa sesuatu hal yang lebih mengerikan yang membuatnya menjadi gusar seperti ini. Bukan hanya karena hal-hal yang tidak penting itu, tapi Mari tidak bisa. Bagaimanapun juga tidak boleh ada yang tau tentang dirinya, setidaknya belum saat ini.

“aku tidak ingin mengganggunya” Lirih Mari pelan, dalam hati dia merutuki dirinya yang harus kembali berbohong kepada Yubi. Entah ini sudah kebohongan yang keberapa kali semenjak dua tahun terakhir. Dan parahnya Yubi benar-benar kelihatan percaya dengan semua kebohongan yang dirangkai oleh Mari membuatnya semakin merasa bersalah.

“kalau begitu jangan lesu begini! Cukup kirimi dia pesan dan mengatakan kalau kau merindukannya, aku yakin dia akan langsung menemui mu lagi”

Mari tersenyum miris dari balik lengannya, sungguh Yubi adalah gadis yang polos dan bersemangat. Entah apa yang akan dilakukan gadis itu jika mengetahui semua yang dikatakannya tentang keluarganya tidaklah benar. Mari berjanji suatu saat nanti jika dia dalam keadaan yang sekarat orang pertama yang dicarinya adalah Yubi, dia akan meminta maaf atas semua kebohongan yang dilakukannya meskipun dia harus memohon padanya sampai dia bisa dimaafkan.

“nanti—kembalilah ke tempatmu, Kangjoon tidak akan senang melihat kita bersantai seperti ini disaat jam kerja” Mari mengangkat kepalanya dan tersenyum manis pada Yubi, meskipun dia masih merasakan keganjalan tapi di hadapan Yubi dan orang-orang sekitarnya dia harus mengubur perasaan itu. Sekarang bukan saatnya untuk hanyut dalam kegalauannya.

“baiklah—” Desah Yubi lesu, matanya kemudian terangkat untuk mencari Taehyung yang bisa dijailinya saat sedang bosan seperti ini dan senyumnya terkembang saat melihat bocah itu sedang duduk dengan kepala menengadah untuk menatap tv yang sengaja digantung di sudut cafe, “hei! Kim Taehyung!” Seru Yubi dengan wajah berbinar membuat Taehyung menoleh padanya dengan wajah yang berbanding terbalik. Matanya menatap horror Yubi yang sedang tersenyum aneh kepadanya.

Mari memperhatikan itu dan dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, Yubi selalu mencari masalah dan Taehyung selalu menjadi korbannya. Ckck, dasar anak muda.

noona, aku sedang ingin nonton berita. Jangan menggangguku, please ” Ucap Taehyung kembali menatap layar tv dengan nada memohon, Mari dan Yubi saling berpandangan dengan alis terangkat. Bocah itu menonton berita? Ini hal baru bagi keduanya karena semenjak mengenal Taehyung dia hanya suka menonton kartun dan drama keluarga yang bisa membuatnya menangis tersedu-sedu. Lalu nonton berita? Ckck, sepertinya kepala Taehyung telah terbentur sehingga membuatnya jadi aneh seperti ini.

“apa yang membuatmu ingin menonton berita? Ckck, anak kecil sebaiknya nonton kartun saja. Kau tidak akan mengerti masalah politik” Sahut Yubi menghampirinya lalu merebut remote di tangan Taehyung, mencari-cari channel yang menayangkan kartun untuk ditonton Taehyung.

“tahan itu!” Mari berseru, matanya sedari tadi mengikuti arah pandang Yubi dan Taehyung ke layar tv dan saat channel yang memberitakan tentang masalah politik dalam negeri yang tampil, Mari sekilas melihat nama yang dikenalnya.

“ada apa?” Tanya Yubi terkejut, Mari langsung menatapnya dan meminta untuk mengembalikan tayangan ke channel sebelumnya.

“ingin nonton berita juga noona?” Taehyung bertanya tidak percaya membuat Yubi mendengus, Mari tidak menjawab hanya menatap lurus layar tv.

“perbesar suaranya Yubi” Ucap Mari tanpa mengalihkan pandangannya. Dan saat suara sang pembawa berita dari layar tv terdengar dengan jelas, gemuruh di jantung Mari tercipta seolah saling berkejaran satu sama lain. Matanya memanas melihat tayangan tersebut, telinganya benar-benar mendengar dengan detail setiap kata yang terucap dari berita itu.

“CEO dari salah satu perusahaan berpengaruh di negara ini, Shinhan Financial Group ditemukan tidak bernyawa di atas tempat tidur di dalam kediamannya miliknya sendiri, beberapa spekulasi yang terkuak adalah tuan Bae mengalami serangan jantung secara tiba-tiba dan tidak mendapatkan penanganan dengan segera sehingga membuatnya meregang nyawa. Namun sampai berita ini diturunkan, kami masih belum mendapatkan informasi lebih rinci mengenai penyebab kematian Bae Yongjoon, dan kami masih menunggu hingga pihak keluarga memberikan konfirmasinya”

“ahbeoji—“ Mari menjerit tertahan saat mendengar penuturan wanita yang berada di dalam breaking news di layar tv, kedua tangannya terangkat untuk menutup mulutnya agar tidak meloloskan rintihan yang bisa saja membuat orang-orang merasa aneh akan dirinya, matanya mengerjap saat merasakan perih akibat air matanya yang hendak menerobos untuk keluar. Mari tidak dapat berkata apapun, berita itu terlalu membuat dirinya shock sehingga dia hanya dapat berdiri seperti patung dengan detakan jantungnya yang begemuruh hebat.

“Saat ini jenazah tuan Bae telah di bawa ke Shinhan Medical Centre untuk dilakukan otopsi serta upacara pemakaman akan dilaksanakan di rumah sakit tersebut. Kepada seluruh masyarakat Korea yang menyaksikan berita ini, kami mohon doanya yang terbaik untuk beliau. Tidak bisa dihitung berapa banyak jasa yang diberikannya untuk negara dan saya selaku pembawa berita di NBC serta segenap kru yang bertugas mengucapkan turut belangsukawa kepada keluarga beliau dan semoga dirinya diberikan tempat yang layak untuk peristirahatan terakhir. Saya Park Kisu, melaporkan dari studio 1 NBC”

Tubuh Mari bergetar hebat, hampir saja dia meluruh jatuh kelantai kalau tidak ada dua buah lengan besar yang melingkupi punggungnya. Air matanya telah menetes seiring berita di channel tersebut telah berganti dengan sebuah acara memasak yang tidak diketahuinya dengan jelas. Matanya melirik ke samping dengan pandangan kosong menatap pria itu yang sedang menatapnya dengan khawatir.

“Mari, kau tidak apa-apa?” Tanya Kangjoon cemas, Mari masih diam dalam kungkungan Kangjoon. Pria itu mendesah pelan lalu melirik Yubi serta Taehyung yang kini sudah memusatkan perhatian ke mereka berdua dengan tatapan bingung.

“aku menitip cafe pada kalian, kami akan segera kembali” Ucap Kangjoon lalu tanpa basa basi dia memapah Mari untuk keluar dari cafe, membawa gadis itu dengan cepat untuk masuk ke dalam mobilnya.

“tahan sebentar lagi Mari, aku akan mengantarkanmu ke sana” Ucap Kangjoon yang sebenarnya tidak didengar oleh Mari karena gadis itu sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri. Memikirkan saat-saat terakhir dia menatap wajah ayahnya, kepalanya berdenyut sakit saat menyadari bahwa semalam adalah percakapan terakhir yang mereka lakukan sebelum berita mengenaskan itu keluar sore ini.

Op—oppa, kita akan ke mana?” Tanya Mari dengan suara tercekat, pandangannya masih kosong menatap jalanan di hadapannya. Kangjoon menoleh sebentar dan mengusap kepala Mari dengan lembut.

“aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit” Jawabnya membuat Mari menoleh dengan cepat kearahnya, menatapnya dengan pandangan yang begitu mematikan.

“ka—u tau—”

“aku jelas tau, melihat bagaimana reaksimu saat menonton berita itu. Dia pasti orang yang cukup penting untukmu” Jawab Kangjoon dengan santai membuat Mari mengalihkan pandangannya, apakah pria itu tau kalau Bae Yongjoon adalah ayahnya atau tidak?

“di—dia sudah kuanggap sebagai ayahku. Dia membiayai sekolahku” Ucap Mari tidak sanggup menyembunyikan rasa perihnya saat membicarakan tentang ayahnya, semuanya seolah mimpi untuknya menyadari bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Demi tuhan pria itu masih baik-baik saja beberapa jam yang lalu terus mengapa sekarang dia diberitakan sudah tidak bernyawa? Mari sangat ingin menjerit saat ini, menolak menerima kenyataan bahwa ayah yang dicintainya telah tiada namun mengingat Kangjoon disisinya dia tidak mungkin melakukan hal seimpulsif itu.

Mari langsung keluar dari mobil dengan tergesa-gesa saat baru sedetik yang lalu Kangjoon memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit Shinhan. Dengan tegopoh-gopoh dan mata memerah Mari menelusuri rumah sakit tersebut, mencari tempat upacara peristirahatan terakhir ayahnya di berlangsungkan.

“Mari tunggu, kita bisa mencarinya bersama” Seru Kangjoon mengejar Mari, namun gadis itu seolah tuli dan tidak mendengarkan apapun. Dia terus berlari hingga melihat dari kejauhan sebuah ruangan yang begitu ramai. Dalam hatinya berkata ayahnya berada di tempat itu, dia akan segera kesana meskipun dengan membongkar identitasnya dia tidak akan peduli lagi. Dia harus bertemu ayahnya kalaupun untuk yang terakhir kalinya. Mari harus berada di sana.

“ahbeoji-“ Mari berseru pelan saat tiba di depan ruangan itu beberapa pria yang memakai pakaian yang terlihat sama itu mengernyit saat menemukan Mari. Wajah gadis itu terlihat asing untuk mereka, dan mengingat tuan mereka adalah orang yang cukup penting bukan tidak mungkin kalau ada beberapa orang diluar sana yang mencoba datang untuk mengacau di upacara ini.

“maaf, anda tidak boleh masuk” Salah seorang yang berjaga tepat di depan pintu merentangkan tangannya dan menghadang Mari saat gadis itu ingin melangkah masuk. Mari melebarkan matanya tidak percaya, sekarang perasaan sedihnya tadi telah berganti dengan emosi luar biasa, bagaimana mungkin dia tidak diperbolehkan masuk untuk menemui ayahnya. Benar-benar keterlaluan.

“siapa yang melarangku? Aku hanya ingin memberi penghormatan terakhir untuk ahbeoji” Ucap Mari bersungut-sungut, beberapa pelayat yang memang sudah berada di dalam ruangan itu hanya bisa menatap dengan bingung kejadian di depan pintu dan Mari sungguh tidak memperdulikannya, dia hanya ingin masuk!

Penjaga itu saling bertukar pandang saat mendengar ucapan Mari, salah satunya berbicara pada alat yang tersambung di telinganya dan beberapa saat kemudian pria yang berpakaian sama muncul di sana.

“memangnya aku ini teroris? Menyingkirlah aku hanya ingin melihat ayahku” Desis Mari dengan kesal melihat pria-pria aneh itu malah mengelilinginya seolah dirinya adalah seorang penjahat di sini.

“maafkan kami, agashi telah berada di dalam bersama tuan muda dan nyonya besar dan anda mengaku sebagai anak dari mendiang tuan besar. Mengapa kami harus mempercayainya?” Seorang pria muda bermata sipit berbicara dengan ketus kepada Mari membuatnya berang.

Dia lupa bahwa dia adalah anak yang tidak dipublikasikan oleh ayahnya, jadi mungkin saja jika orang-orang ini menganggapnya sebagai orang yang berniat jahat karena telah mengaku sebagai anak dari majikan mereka. Mari mendengus menyadari kebodohannya, astaga! Siapapun tolong bantu aku untuk masuk ke dalam ruangan ini.

*

“Ibu, ayo aku akan mengantarmu ke ruang istirahat” Pria muda bertubuh tinggi dan memiliki kulit sedikit kecoklatan itu memegang kedua bahu ibunya yang kini tengah menangis tersedu-sedu tepat di depan foto almarhum suaminya berada.

“Jinhyuk, ayahmu—ayahmu sudah tidak ada lagi, a-aku sendiri, d—dia meninggalkan ibumu sendirian—” Lirihnya disela isakan membuat pria itu meringis ikut merasakan kesedihan yang sedang dilanda ibunya.

“bu, kau akan sakit jika duduk terus di sini. Ayo—”

“Jinhyuk—” Pria itu memejamkan matanya, ibunya benar-benar tidak bisa diajak kompromi saat ini, para pelayat sudah tiba dan dia tidak mau mereka semua melihat ibunya dalam keadaan yang tragis seperti ini. Wajahnya bahkan sudah basah akibat kucuran air matanya, tidak adalagi wajah angkuh sang istri dari direktur besar yang ada hanya seorang wanita yang tengah bersimpuh menangisi kepergian suaminya

“tuan muda—”

“Song biseo, bantu aku membawanya ke ruang istirahat. Dia akan pingsan jika terus menangis seperti ini” Ucap Jinhyuk, pria paruh baya itu menganggukan kepalanya lalu memapah tubuh ibunya untuk berdiri. Wanita itu hanya mengikuti di mana tubuhnya dibawa, sekarang dia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk sekedar menepis tangan anaknya dan Song biseo.

“oppa!” Jinhyuk menoleh, menemukan seorang gadis yang keadaannya tidak jauh berbeda dengan ibunya saat ini, namun dia terlihat lebih baik karena hanya matanya yang memerah dan sedikit bengkak akibat terus menangis, wajahnya masih terlihat cantik seperti biasa.

“aku akan membawa ibu untuk istirahat, terimalah tamu, setelah menidurkannya aku akan kembali” Ucap Jinhyuk menepuk pundak adiknya, gadis itu terisak kecil dan menganggukan kepalanya mengerti.

Setelah Jinhyuk dan Song biseo pergi ke ruang istirahat, gadis itu menghela nafasnya panjang. Sekarang dia bertugas untuk menerima tamu dan sangat tidak sopan jika dia menerima tamu dengan keadaan yang mengenaskan seperti ini. Tangannya terangkat untuk mengusap wajahnya yang sedikit basah kemudian senyum miris terkembang di wajahnya, sekarang bukan waktunya untuk bersedih. Dia harus kuat agar dia bisa menguatkan ibunya.

Setelah mengurus beberapa pelayat di dalam ruangan, gadis itu berniat untuk mengecek yang berada diluar yang menanti untuk masuk dan memberi penghormatan pada ayahnya. Matanya menyipit kala melihat beberapa penjaga mengelilingi seorang gadis yang penampilannya cukup berantakan itu.

“ada apa ini?” Tanyanya menghampiri mereka, semua pria disitu menegakkan badannya dan membungkuk hormat.

agasshi, nona ini memaksa untuk masuk ke dalam” Ucap salah satu dari mereka menjelaskan, gadis itu memperhatikan Mari dengan alis terangkat. Wajahnya sungguh asing dan dia tidak pernah mengingat jika memiliki kerabat yang wajahnya seperti itu lagipula tidak mungkin gadis itu adalah rekan kerja ayahnya, telalu muda untuk jadi seorang eksekutif.

“maafkan kami nona, tapi yang boleh masuk hanya kerabat dan rekan kerja. Kalau bisa saya tau, apa maksud tujuan anda kemari?” Gadis itu berbicara sesopan mungkin dengan wajah yang sedikit angkuh, dia mempelajari memasang wajah seperti itu dari ibunya.

Mari mendengus meneliti penampilan gadis itu dari atas sampai bawah, pandangannya begitu merendahkan sehingga membuat sang gadis tadi menatap tajam kepada Mari yang dengan kurang ajarnya memberikan pandangan seperti itu kepadanya.

“ckck, ahbeoji pasti sangat kecewa jika mengetahui putrinya melarang orang lain yang ingin memberikan penghormatan terakhir padanya”

Gadis itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat tanda sedang menahan emosi, melihat itu Mari hanya mencebik. Dia sebenarnya tidak ingin membuat masalah tapi gadis ini terlalu angkuh untuk dia biarkan begitu saja.

“usir dia” Desis gadis itu dengan wajah datar, dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri karena harus beradu mulut dengan gadis yang tidak ditau asal usulnya seperti itu.

“kenapa agasshi? Tidak bisa membalas perkataanku?” Mari bersedekap dengan wajah culasnya membuat gadis itu semakin berang.

“kau—”

“agasshi?” Suara pria dari belakang gadis itu membuat kalimatnya terhenti, dia menoleh dan menemukan Song biseo berdiri disana namun matanya tidak memandang ke arahnya melainkan ke arah gadis dihadapannya.

“Paman!” Mari berseru senang saat melihat Song biseo datang diwaktu yang sangat tepat, dia sungguh bersyukur bahwa setidaknya ada satu orang yang benar-benar bisa membantunya untuk masuk ke dalam saat ini.

Song biseo melirik ke sekeliling dan mendapatkan pandangan yang penuh tanya dari para penjaga, terlebih lagi pandangan tajam dari gadis di hadapannya ini.

“maaf nona muda, dia adalah keponakan saya dari kampung” Ucap Song biseo pada gadis itu.

“benarkah? Lalu mengapa dia memanggil ahbeoji kepada ayahku? Dia tentu bukan anak ayahku” Ucapnya dengan kesal lalu menatap tajam Mari yang hanya diam ditempatnya.

“ma—af agasshi, beliau telah memberikan beberapa bantuan kepada keponakan saya jadi dia sudah menganggap tuan besar sebagai pengganti ayahnya” Jelasnya membuat Mari tersenyum lebar, dia tidak perlu mencari-cari alasan untuk diberitahukan pada gadis itu karena nyatanya Song biseo sudah memberikan alasan yang sangat masuk akal.

“heh, tapi dia sudah membuat keributan”

“saya mohon biarkan dia memberi penghormatan terakhirnya, dia sudah jauh-jauh kemari untuk tuan besar. Saya yang akan menjamin bahwa dia tidak membuat keributan di dalam” Song biseo menundukan kepalanya kepada gadis itu meminta izin agar dapat membawa Mari. Gadis itu mendengus dan mengibaskan tangannya dengan malas.

“terserah paman—lakukan sesukamu” Gerutu gadis itu lalu melangkah masuk, Mari terlonjak dari tempatnya langsung menubruk tubuh Song biseo, memeluknya dengan erat.

“paman—”

agasshi, tolong lepaskan. Anda tidak perlu—” Bisik Song biseo, dia sungguh tidak nyaman saat ini. Mendapatkan pelukan dari Mari yang notabene adalah putri dari tuan besarnya membuatnya canggung.

“aku ingin bertemu ahbeoji” Sela Mari dengan suara lirihnya, Song biseo mengangguk kecil lalu mengantarkan Mari untuk ke altar, di mana tempat abu ayahnya diletakkan.

Mari terisak melihat foto ayahnya, dadanya begitu sesak mengetahui bahwa saat ini adalah kenyataan. Ayahnya telah pergi adalah kenyataan yang begitu pahit sehingga dia bahkan tidak mampu untuk berjalan lebih jauh lagi.

“agasshi—”

Mari menarik nafasnya lalu terus berjalan, hingga saat dia tepat berdiri di depan abu ayahnya, Song biseo meninggalkannya sendiri untuk melakukan penghormatan. Mari dengan telaten memberikan dupa untuk abu ayahnya lalu memberikan penghormatan terakhir. Meskipun air matanya sudah mengucur dengan deras dia tetap melakukan penghormatannya.

“ahbeoji, mengapa kau meninggalkanku secepat ini? Kau bahkan belum memberitahukan ke dunia bahwa aku ini ada. Mengapa? Siapa yang akan menemaniku sekarang? Kau tidak ada lagi, dengan siapalagi aku harus melawan dunia? Ahbeoji, apakah semua ini telah kau rencanakan? Pergi dariku secepat ini dan meninggalkan tanda tanya besar dikepalaku? Apa yang sebenarnya terjadi, setidaknya beritahu aku sebelum kau benar-benar pergi sehingga aku bisa menentukan tindakan apa yang akan aku lakukan sekarang. Tapi, kau bahkan tidak memberitahukan bahwa kau sudah sekarat. Bagaimana kehidupanku selanjutnya? Aku tetap menjadi Jang Mari, selamanya? Kau benar-benar mengasingkanku?”

Mari duduk bersimpuh di hadapan abu ayahnya, berbicara dalam hati berharap bahwa ruh ayahnya bisa mendengar segala curahan hatinya. Air matanya terus menetes dengan kencang, beberapa pelayat sempat meliriknya namun tidak mengambil pusing karena berpikir mungkin Mari adalah salah seorang kerabatnya.

“ahbeoji, berikan aku petunjukmu. Benarkah kau meninggal karena penyakit itu? Aku bahkan tidak tau jika kau mengidap penyakit sialan itu. Ahbeoji, akan kulakukan apapun jika memang penyebab kematianmu bukan seperti yang didagnosa oleh orang-orang dan aku akan menemukan siapapun musuhmu dan mencari dalang dari semua bencana yang terjadi. Ahbeoji, maafkan aku karena tidak disampingmu disaat-saat terakhir, maafkan aku karena belum bisa menjadi putri yang kau banggakan di depan dunia, maafkan aku karena kehadiranku menjadi sebuah marabahaya untukmu dan ibu, maafkan aku. Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu”

Dari kejauhan gadis yang tadi menghadang Mari hanya mencebik melihat Mari menangis tersedu-sedu di depan abu ayahnya.

“kau kenapa?” Pria yang sedari tadi berdiri disampingnya bertanya dengan bingung melihat raut wajah kesal gadis itu.

“tidak, aku hanya sedang kesal dengannya” Jawabnya sembari mengedikkan dagunya kepada Mari, pria itu ikut menolehkan kepalanya dan menatap Mari, alisnya berkerut samar.

“siapa dia memangnya?”

“dia keponakan paman Song, dia tadi memaksa untuk masuk aku pikir orang asing ternyata dia kerabat paman Song. Eissh, tapi aku tidak suka mulut pedisnya itu. Dia mengejekku” Ucapnya sembari merengek padanya, pria itu mengangguk kecil lalu memperhatikan Mari. Wajahnya tidak terlihat karena rambut panjangnya menjuntai kebawah seiring kepalanya yang tertunduk dalam.

“lihatlah, dia bahkan menangis seperti ibuku saat di depan abu ayah. Aku tidak tau hubungannya dengan keluargaku seperti apa, tapi dia sok dekat!” Gerutu gadis itu lagi, tapi tidak membuat pria disampingnya mau mengalihkan pandangan dari Mari. Alisnya berkerut berusaha mengingat, dia seperti mengenalnya. Penampilannya terlalu familiar untuknya, namun sulit menemukan jawaban tentang siapa gadis itu.

Sampai saat Song biseo datang untuk membawa Mari kembali, mata pria itu menyipit tajam memperhatikan dengan teliti. Mencari segala celah agar bisa melihat wajah Mari, dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri kenapa harus sepenasaran ini pada gadis itu. Tapi segala pertanyaannya sirna saat melihat Mari mengangkat wajahnya yang basah karena air mata itu.

Matanya membelalak kaget! Wanita itu, “oppa, kau mau ke mana?” Gadis tadi menahan tangannya yang hampir saja berlari untuk menghampiri Mari, dia menoleh dan menghela nafasnya panjang.

“aku ada urusan penting, tinggallah di sini” Jawabnya cepat, dia tidak ingin kehilangan jejak Mari saat ini. Dia harus bergerak dengan cepat.

“tapi kau janji mau menemaniku”

“aku tidak pernah berjanji padamu Bae Noori, dan sekarang lepaskan tanganku. Aku harus pergi” Desis pria itu lalu segera melesat pergi meninggalkan sang gadis dengan segala kebingungan dan kekesalannya.

***

Myungsoo mendengus dengan keras saat menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, apakah ini hanya kebetulan atau memang dewi fortuna sedang tidak memihak kepadanya? Mengapa sangat sulit baginya untuk bisa menemukan gadis itu.

“Myungsoo, kau sudah pulang?” Pria itu menoleh dan menemukan ayahnya sedang menuruni tangga dengan pakaian santainya, Myungsoo tersenyum kecil dan mengangguk.

“ya, aku bisa gila jika tinggal di kantor lebih lama lagi” Desah Myungsoo malas, ayahnya mengernyit mendengar penuturan putranya itu. Dia mendekat ke arah sofa kemudian ikut bergabung bersama Myungsoo, tenggelam di dalam kenyamanan sofa tersebut.

“ada masalah apa?” Tanya tuan Kim serius membuat Myungsoo melirik ayahnya dengan ragu.

“kau tau, noona memintaku untuk menemukan gadis yang bernama Jang Mari itu dan memasukkannya ke dalam perusahaan, tapi sampai saat ini aku bahkan tidak bisa mendapatkan kontaknya” Jelas Myungsoo setengah frustasi, bagaimana tidak jika setiap hari kakaknya terus saja menodongnya dengan segala pertanyaan maupun perintah mengenai Jang Mari. Dan itu sungguh membuatnya penat ditambah lagi pekerjaannya yang cukup banyak, dia tidak sanggup jika harus mendapatkan ceramahan kakaknya lagi.

“kau masih belum menemukannya? Bukankah itu pekerjaan mudah Myungsoo?” Tuan Kim mengangkat alisnya tidak mengerti, anaknya adalah salah seorang yang cukup hebat dalam bidangnya. Mencari informasi tentang seorang gadis itu bisa dilakukannya hanya dengan sekali jentikan jari namun, mengapa kali ini putranya terlihat begitu kesusahan?

“sama sekali tidak mudah jika ini menyangkut gadis itu, entah mengapa dia bahkan tidak tercatat sebagai warga negara kita, aku sudah memeriksa semua gadis yang bernama Jang Mari di Korea tanpa tersisa dan hasilnya nihil. Tak ada satupun dari mereka yang aku cari” Keluh Myungsoo, dia bahkan hampir menyerah untuk menemukannya tapi lagi-lagi kakaknya memaksa serta mengancamnya untuk ditendang keluar dari perusahaan jika sampai dia tidak menemukan gadis itu, dia adalah direktur perusahaan itu tapi entah mengapa rasanya kakaknya lah yang menjadi direktur jika mereka sedang berdebat berdua.

“kau membutuhkan bantuanku nak?” Tanya ayahnya yang membuat Myungsoo langsung menoleh dengan antusias.

“a—ku sudah menemukan sedikit petunjuk sebenarnya tapi aku tidak tau harus melakukan apa. Kau mau membantuku?”

“tentu saja, kau putraku dan aku pasti membantumu. Pasti sangat menyebalkan saat mendengar omelan kakakmu itu, dia sama persis dengan ibumu” Tuan Kim terkekeh pelan saat membicarakan tentang putri sulungnya yang mau tak mau membuat Myungsoo juga ikut tertawa, ya, kakaknya memang sangat mirip dengan ibunya. Sedikit kesalahan saja dia pasti akan mengomel seharian penuh, kadang Myungsoo harus melarikan diri dari rumah jika ibunya sudah mulai berceramah agar telinganya terhindar dari kata-kata ibunya yang tidak akan pernah habis itu.

“kau benar, mereka bagai pinang dibelah dua” Decak Myungsoo menggelengkan kepalanya.

“jadi, petunjuk yang kau temukan itu apa?” Tanya ayahnya kembali ke topik permasalahan. Dia sungguh ingin membantu anaknya menemukan gadis itu karena dia juga sudah mencari tau tentangnya dan menemukan bahwa prestasi gadis itu sungguh luar biasa. Dia bahkan punya pengalaman kerja yang cukup memuaskan di London.

“tiga hari yang lalu di rumah duka, aku melihatnya tapi aku tidak sempat mengejarnya karena dia sudah pergi” Jelas Myungsoo membuat ayahnya mengernyitkan alisnya bingung.

“rumah duka?”

“ya, di pemakaman paman Bae. Kata Noori dia adalah kerabat dari Song biseo” Ucap Myungsoo menganggukan kepalanya.

“ah, kalau begitu gampang. Tinggal hubungi Song biseo dan minta alamat gadis itu padanya” Ucap ayahnya memberi solusi, Myungsoo sangat ingin memutar bola matanya saat ini namun itu sangat tidak sopan jika dia lakukan didepan ayahnya, dia hanya bisa menghela nafasnya panjang.

“aku sudah melakukannya tepat setelah aku mengejar gadis itu, tapi dia tidak memberitahuku”

“benarkah? Mengapa begitu?”

“entahlah, dia hanya mengatakan karena aku tidak punya alasan yang kuat untuk bisa mendapatkan alamatnya” Jawab Myungsoo dengan kedua bahu terangkat.

“itu aneh, tidak biasanya Song biseo menolak untuk memberikan informasi sekecil itu. Biar aku yang berbicara padanya, kau tidak perlu khawatir” Ayahnya menepuk pundak Myungsoo membuat pria itu tersenyum dengan wajah yang berbinar.

“benarkah?”

“tentu saja, kau tunggu saja info dariku. Kupastikan kau bisa mendapatkan alamat gadis itu” Ucapnya dengan pasti, Myungsoo tersenyum kemudian menganggukan kepalanya mengerti.

***

Gadis itu berdiri di depan pusara yang masih terlihat sangat baru itu, bibirnya berkedut menahan isakan yang sekali lagi akan lolos, matanya menatap sendu dari balik kacamata hitam yang dia gunakan untuk menyamarkan wajahnya saat ini.

ahbeoji, apa kau suka dengan tempatmu saat ini?” Tangan gadis itu terulur untuk mengusap dengan lembut pusara ayahnya, dia tersenyum kecil. Sudah seminggu sejak berita kematian ayahnya dan sejak itu pula dia tidak pernah melakukan kegiatan apapun selain berkunjung ke tempat ini setiap harinya dan tentunya tanpa ada yang tau.

“apa yang harus kulakukan sekarang? Aku bahkan sudah tidak punya semangat untuk hidup lagi” Bisiknya dengan lirih. Selama seminggu dia hanya mengurung dirinya di dalam rumah tanpa peduli apa yang terjadi diluar sana, dia bahkan tidak menemui Yubi yang sekarang ini mungkin sedang uring-uringan karena tidak bisa bertemu dengannya.

“Soo—Sooji?” Sebuah suara berat yang menyerukan namanya membuat gadis itu membatu, sama sekali tidak ada dalam pikirannya bahwa orang lain akan mengunjungi makam ayahnya saat ini. Demi tuhan! Ini adalah hari kerja dan seharusnya orang-orang yang mengenal ayahnya berada di balik meja kerja mereka masing-masing, bukannya berada di sini, berdiri dibelakangnya dan menyebut namanya dengan cukup jelas.

“Sooji, kau kah itu?”

Mari merasakan gemetar diseluruh tubuhnya, dia sangat takut saat ini. Meskipun tidak tau apa yang akan terjadi pada dirinya jika ayahnya mempublikasikannya ke dunia luar tapi setidaknya dia punya gambaran bahwa sesuatu yang sangat, sangat buruk akan menimpa dirinya saat itu juga. Dan sekarang, pria asing dibelakangnya jelas tau identitasnya. Apa yang harus dilakukannya?

Mari dengan lambat berbalik untuk mencari tau siapa gerangan pria itu, dia tidak mungkin terus membatu ditempat itu karena tidak mungkin pria itu mau berbaik hati pergi begitu saja meninggalkannya tanpa mengatakan apapun.

Matanya melebar dari balik kacamata menatap pria bertubuh tinggi tegap itu, wajahnya benar-benar familiar dan Mari mengingatnya. Pria itu hanya menautkan alisnya dalam berusaha untuk meneliti dengan jelas wajah Mari, mencoba mencari tau bahwa apakah gadis itu adalah Sooji seperti yang dikatakannya atau bukan.

op—pa? Jinhyuk oppa?” Lirih Mari tercekat, kacamatanya sudah dia tanggalkan saat ini dan matanya menatap dengan nanar pria itu, dadanya terasa sesak. Bertemu dengan kakaknya yang sudah lebih dari 15 tahun tidak dia temui, wajah pria itu masih tetap sama seperti dulu hanya garis-garis dewasa di setiap sudut wajahnya lebih menonjol saat itu.

“benar, kau Sooji—astaga! Adikku!” Serunya dengan suara yang begitu lantang, lantas pria itu langsung meringsek maju dan menarik Mari untuk masuk dan tenggelam dalam pelukannya yang begitu hangat.

“oppa” Dia hanya bisa melirihkan kata itu, air matanya sudah tumpah ketika kedua tangannya memeluk punggung Jinhyuk dengan erat seolah baru saja menemukan sang penyelamat hidupnya. Kepalanya tertanam dengan dalam di dada Jinhyuk, mencium aroma kakaknya yang begitu menenangkan untuknya. Benar-benar nyaman.

“kenapa baru datang sekarang? Aku merindukanmu sayang” Bisik Jinhyuk, dia mengusap kepala Mari sementara bibirnya mengecup puncak kepala gadis itu berkali-kali, menyalurkan rasa kerinduannya yang dipendamnya selama ini.

“a—aku—” Jinhyuk menggelengkan kepalanya dan merapatkan kepala Mari untuk bersandar di dadanya, dia tidak ingin gadis itu berbicara banyak saat ini. Biarkan mereka berpelukan saling melepas rindu dulu, tanpa ada kata.

“sstt—nanti, nanti aku akan mendengar ceritamu, sekarang biarkan aku memelukmu seperti ini” Ucap Jinhyuk mengeratkan pelukannya, Mari bahkan merasakan sesak akibat kuatnya pelukan yang dia terima namun dia tidak memberikan protes melainkan ikut mengeratkan pegangan tangannya ditubuh pria itu, dia juga merindukan Jinhyuk. Merindukan kasih sayang kakaknya yang selama ini telah ditinggalkannya.

“aku merindukanmu” Bisik Mari.

***

CONTINUED.

 

Hikss, sedihnya 😢😢😢

Yassshh perjalanan masih panjang, seperti yang aku bilang kemarin kalian akan terus menebak-nebak setiap chapter baru dirilis 😆 satu kebenaran muncul, satu rahasia juga muncul 😂

Masih bingung ya? Maaf—cerita ini memang bertujuan untuk membingungkan anda 😅 ✌✌✌

Momen yang kalian tunggu belum ada. Masih lama—sekitar 2 atau 3 part lagi baru muncul ahaha sekarang masih fokus ke masalah utamanya dulu 😤 romancenya belakangan 🙅🙅🙅

Ingat kan kalau baca cerita ini harus pelan-pelan dan dihayati, jangan buru-buru—nanti yang ada malah semakin bingung. Karena disetiap part itu terdapat clue clue yang jika kalian fokus akan membantu kalian untuk menebak jalan ceritanya 😃😃😃

Thankyou.xoxo
elship_L
.
.
September, 13th 2016 | 12:18 (WITA)

9 responses to “VENGEANCES – Destruction

  1. yah dan author sangat berhasil membuat kita kebingungan… aigooo…..
    jadi bae noori itu putrinya tn. bae jga? aku kira dia mungkin kembarannya sooji atau noori itu nama panggilan sooji saat masih kecil. jadi tn. bae memilki 3 orang anak yah…
    aigoo aku jadi ikutan mewek baca part ini😥 kebayang bagaimna sedihnya mary di tinggal appanya😦 tpi untungnya jinhyuk masih mngenal mary adiknya🙂 lega rasanya sekarang masih ada yg akan melindungi mary yaitu kakaknya yg selama 15 thn tidk di bertemu dengannya…. noory anak terakhirnya tn. bae kan? mungkin saat sooji diasingkan oleh tn. bae, noory belm ada yah? makanya noory tdak mengetahui kalau dia mempuyai kakak perempuan.
    aigoo aku merinding baca saat tn. bae seblm meninggal dan dia sedang berbicara dengan sekretaris song…. tn. bae meninggal karena meminum kopi itu kan? apa mungkin ada sangkut pautnya dengan tn. kim?
    jadi myungoo sempat melihat mary di rumah duka itu? dan sekrang tn. kim akan menanyakannya kepada paman song hehh….
    next chapternya ditunnngu thor…

    Liked by 1 person

  2. Sedihnya part ini…..
    Suzy bertemu kembali dgn oppanya dan itu benar” mengharukan,appa setelah ini suzy akan dibawa jihyuk kembali kerumah? Dan apakh namja yg mau mengejar suzy di rumah duka adalah myungsoo? Hubungan apa yg dimiliki myungsoo dgn noori, sekedar teman atau sepasang kekasih atau tunangan malah? Dan noori itu eonninya suzy dongsaengnya suzy?

    Liked by 1 person

  3. Akhirnya suzy bertemu juga sama oppahuhuhu kira kira apa yg akan dilakukan
    Suzy buat nemuin dalang dari semuanya
    kematiaann ayahnya suzy ya?
    Dan akankah myungsoo bisa
    MenemukaN jang mari?
    Wahh makin banyak pertanyaan yg
    Muncul Dan makin pensaran…

    ditunggu Nextnya thor..

    Liked by 1 person

  4. huhu suzy mesti sedih banget,syukur masih bisa ketemu sama oppanya,jd dia ga bener” sendirian:))
    sempet duga tn.bae mati ada hubunganya sama ayah myungsoo,btw ibunya suzy taunya suzy udah mati ya?
    note : gapapa romancenya myungzy aga nantian,tp dua chap seteplah ini udah romance” kan thor hehe??#plak
    next chap~next chap thor!!

    Liked by 1 person

  5. Hiks hiks, sedih bnget.. Dari tdi bca tuh nangs aja sampe2 mata merah begini.
    Ya tuhan, nyesek x nggak ketulungan..
    Akhirx sooji ketemu juga sama kakakx , tp apa ibu sooji tau ya kalau selama ini suamix selalu ngehabarin dan ketemuan dngan sooji terus..
    Siapa noori? Adik sooji kah? Knpa dia gk tau tentang sooji.

    Liked by 1 person

COMMENT FOR WHAT YOU HAVE BEEN READ!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s