VENGEANCES – The Beginning Of Me

VENGEANCES

Author : elship_L || Cast : Bae Sooji/Jang Mari, Kim Myungsoo|| Genre : Drama, Romance, Sad, Mystery, Crime || Rating : PG-19 || Type : Chapter

-The Beginning Of Me-

Jinhyuk terus tersenyum simpul saat memperhatikan adiknya kini tengah membuatkan minuman untuknya. Tadi setelah puas saling melepas rindu di makam ayah mereka, Mari mengajak Jinhyuk untuk berkunjung ke rumahnya sekaligus memberitahu di mana selama ini gadis itu tinggal.

“kau sudah tinggal di sini selama 2 tahun?” Tanya Jinhyuk, yang entah itu sudah keberapa kalinya sejak Mari memberitahukan kapan dia kembali ke Korea. Jinhyuk masih tidak percaya jika ternyata adiknya sudah berada di Korea selama itu, mereka memang pernah sekali dua kali saling bertukar pesan melalui email, tetapi dia sama sekali tidak pernah menanyakan di mana keberadaan gadis itu. Dia hanya sekedar bertanya mengenai kabarnya dan apa-apa yang dilakukannya saat jauh dari rumah. Dan mengetahui bahwa gadis itu sudah menetap di Korea selama 2 tahun itu cukup membuatnya terkejut.

“harus aku jawab dengan apa lagi agar kau percaya?” Sahut Mari, dia juga ikut tersenyum dengan lebar.

“baiklah aku percaya, tapi—bukankah kau sangat keterlaluan, selama dua tahun di sini dan tidak pernah mendatangiku? Kau pikir aku bukan kakakmu lagi?” Mari tersenyum kecil, kakaknya masih seperti dulu, selalu banyak bicara jika dihadapannya namun jika berada dihadapan orang luar dia akan menjadi seorang yang seperti dinding batu es yang sangat keras dan dingin.

“kau tau, ahbeoji tidak mengizinkannya” Gumam Mari sedikit merasakan sedihnya muncul saat membicarakan masalah ayahnya.

“Sooji—apa kau tau keadaannya?” Tanya Jinhyuk dengan mimik yang serius, dia menarik tangan Mari dan menggenggamnya dengan lembut.

“tolong panggil aku Mari, belum saatnya kau memanggilku seperti itu” Bisik Mari, dia sebenarnya cukup risih dengan panggilan Sooji kepadanya. Meskipun nama itu adalah nama aslinya tapi dia sudah hidup sebagai Mari selama 15 tahun dan dia tidak mungkin begitu saja mengubah namanya hanya dalam semalam, “dan ya, aku tau—sedikit tau maksudku” Sambungnya lagi.

“sejauh mana yang kau tau?” Mari mengernyitkan alisnya, apa maksud dari pertanyaan kakaknya? Jika dia bertanya sejauh mana pengetahuannya tentang masalah yang di hadapai ayah mereka selama ini dia akan menjawab sedikit, sangat sangat sedikit karena dia memang tidak pernah diberitahu tentang hal tersebut secara detail.

“aku hanya tau ahbeoji memiliki banyak musuh dan aku akan dalam bahaya jika mereka mengetahui keberadaanku sebelum waktunya” Jelas Mari, Jinhyuk memejamkan matanya sejenak kemudian tersenyum kecil.

ahbeoji yang mengatakan itu padamu?” Dengan polosnya Mari menganggukan kepalanya masih merasa bingung dengan topik yang diambil kakaknya untuk berbincang kali ini.

“dengarkan aku, apa yang ada dipikiranmu tentang masalah ini sebenarnya jauh lebih dari itu. Sekarang ahbeoji sudah tidak ada lagi dan otomatis semua tugasnya akan diserahkan kepadaku, setidaknya sampai kau kembali, aku yang akan menanganinya” Jelas Jinhyuk, Mari hanya menatapnya dengan sedikit ngeri. Benarkah sesuatu yang benar-benar buruk telah atau akan terjadi kepada mereka?

“mulai saat ini kau harus siap untuk kembali Mari dan selama proses itu aku akan membantumu bersama Song biseo” Sambung Jinhyuk membuat Mari terperangah, benarkah dia akan kembali? Lalu apa yang akan dilakukannya jika dia sudah kembali ke tempatnya semula.

“ap—apa yang harus kulakukan?” Tanya Mari ragu.

“tidak perlu melakukan apapun, hanya siapkan mentalmu saja dan ingat perkataan ahbeoji, jangan percaya pada siapapun dan jangan membuat dirimu bergantung pada siapapun. Bahkan padaku, jangan melakukannya”

“oppa—” Mari mengerjapkan matanya, perasaan takut kini menyerbu relung hatinya. Dia benar-benar tidak siap jika harus melakukan hal yang ekstrim nantinya.

“ya?”

“apakah kita akan bertarung? Saling pukul?” Tanya Mari masih dengan mata yang mengerjap, mendengar itu Jinhyuk meledakkan tawanya. Sungguh betapa polosnya adiknya itu.

“astaga Bae Sooji! Pertanyaanmu terlalu bodoh untuk keluar dari bibir seorang lulusan terbaik Oxford” Serunya dengan suara yang terbahak keras membuat Mari mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Dia hanya mengutarakan pertanyaan yang terputar dikepalanya saat ini, memang apanya yang lucu dengan pertanyaan itu?

“tidak lucu!” Geram Mari dengan wajah tertekuk, Jinhyuk menyeka cairan yang sedikit keluar dari matanya karena tertawa cukup keras lalu dia menetralkan nafasnya yang sempat memburu.

“bukan begitu adikku sayang, kita tidak akan adu tinju. Kau tau, persaingan bisnis dan politik. Kita akan melawan musuh-musuh ayah tanpa melakukan sentuhan fisik tetapi sentuhan psikis dan mental. Kau mengerti?” Mari menatap Jinhyuk dengan wajah terperangah, sedetik kemudian dia menganggukan kepalanya mengerti.

ahbeoji bilang dia mengirimkan sesuatu untukku dan itu tidak boleh dilihat oleh siapapun” Ucap Sooji tiba-tiba membuat Jinhyuk mengangguk mengerti.

“aku tau, setelah melihatnya kau harus menjaga itu karena itu salah satu bukti untuk kita”

“bukti? Bukti apa?”

ahbeoji—kau harus tau jika dia meninggal bukan karena serangan jantung. Dia jelas tidak memiliki riwayat penyakit jantung lantas bagaimana dia bisa meninggal karena itu? Sudah kukatakan, jangan percaya pada siapapun” Jelas Jinhyuk membuat Mari melebarkan matanya tidak percaya, ayahnya meninggal bukan karena penyakit jantung. Bahkan dokter yang menangani otopsi jenazah ayahnya dengan jelas mengatakan bahwa itu serangan jantung lantas mengapa sekarang kakaknya mengatakan semua itu tidak benar? Apa yang menyebabkan ayahnya meninggal?

“ka—kau serius? Lalu bagaimana bisa ahbeoji meninggal? Jangan katakan—” Mari tercekat atas pemikirannya sendiri, dia menatap lekat wajah Jinhyuk yang sudah berubah menjadi penuh simpatik, pria itu menganggukan kepalanya seolah membenarkan apapun yang sedang berkelana di dalam kepala cantik Mari.

“astaga—ahbeoji. A—aku, oppa—bagaimana—oh tidak—” Dia benar-benar tidak bisa berkata-kata saat ini, airmatanya sudah mengalir lagi dengan bebas dari kedua mata indahnya. Jinhyuk menghela nafasnya panjang kemudian memeluk Mari dengan erat.

“maafkan aku, aku tidak bisa menjaganya dengan baik—semua benar-benar diluar dugaanku saat mengetahui ahbeoji secara tidak sengaja telah meminum racun itu” Mari semakin terisak dengan perih saat mendengar perkataan kakaknya, orang-orang yang berniat membunuh ayahnya benar-benar kejam. Mengapa menggunakan racun? Itu pasti membuat ayahnya sangat tersiksa. Ah tidak, pertanyaannya kenapa mereka harus membunuh ayahku?

“si—siapa? Siapa yang melakukan ini?” Lirih Mari dengan suara tercekat, Jinhyuk tidak menjawab. Dia hanya mengecup puncak kepala Mari dan mengelus rambut panjangnya dengan begitu lembut, menenangkan jiwa Mari yang sedang terguncang saat ini akibat mengetahui kenyataan yang ada.

Jinhyuk mendekatkan bibirnya ke telinga Mari dan membisiki kalimat yang membuat adrenalin Mari berpacu dengan kencang, seolah setelah ini hidupnya tidak akan bisa tenang seperti biasanya lagi. Mereka akan memulai semua pertarungan ini dan tentu saja mereka melakukan pertarungan secara sehat bukan melakukan tindak kriminal seperti yang orang-orang kejam itu lakukan kepada ayah mereka.

“bersiaplah, kau akan mendapatkan kembali identitasmu sebagai Bae Sooji dan kita berdua akan menuntut keadilan atas kematian ahbeoji

***

“aku baik-baik saja, tidak perlu kemari”

Mari sedang membereskan isi rumahnya saat panggilan dari Yubi masuk ke ponselnya, sudah seminggu lebih dia tidak berinteraksi dengan gadis itu dan jelas itu membuat Yubi cukup khawatir tentangnya.

“tapi tetap saja Mari, memangnya kau ada masalah apa? kau bahkan mengunci dirimu di dalam rumah”

Mari terkekeh pelan mendengar nada rajukan dari gadis itu, dia bisa membayangkan bagaimana raut wajahnya saat ini. Pasti sangat lucu.

“maaf, aku sedang ada sedikit masalah keluarga. Nanti akan kuceritakan jika sudah waktunya” Jawab Mari dengan sedikit pelan, dia memang berniat untuk membongkar semua rahasianya kepada Yubi tapi tidak sekarang, setidaknya setelah dirinya siap dan mentalnya sudah kuat untuk mendapatkan kembali identitas awalnya, dia akan menceritakan semuanya pada Yubi.

“kau membuat kami khawatir. Kangjoon oppa selalu mencarimu setiap hari, Taehyung bahkan terus mengetuk pintu rumahmu tapi kau tetap tidak membukanya”

“maafkan aku, aku memang lagi butuh sendiri. Besok aku akan kembali bekerja di cafe, semuanya telah beres” Mari meringis kecil saat mendengar cerita Yubi, dia memang sengaja tidak mau bertemu dengan mereka semua, takut dia akan kelepasan dan bercerita tentang ayahnya yang adalah Bae Yongjoon dan telah meninggal. Dia juga menyadari jika selama seminggu ini Taehyung selalu membuat keributan dengan menggedor-gedor pintu rumahnya tapi Mari malah menyumpal telinganya dengan earphone agar tidak mendengar keributan yang dibuat anak itu.

“baiklah, besok akan kutunggu. Tapi Mari, sungguh jika kau ingin bercerita aku akan senang mendengarnya. Kita teman bukan?”

“ya, kita adalah teman. Aku pasti akan bercerita padamu, maaf karena sekarang aku masih belum bisa memberitahumu masalah yang terjadi. Kau mau mengerti kan?”

“aku mengerti, ya sudah. Istirahatlah, sampai bertemu besok”

Mari tersenyum kecil, Yubi sangat mengkhawatirkannya dan itu membuatnya terharu akan kepedulian gadis itu terhadapnya. Mereka bahkan baru mengenal selama 2 tahun tapi Yubi sudah menganggapnya sebagai saudara, begitupula dirinya namun dia masih sedikit ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya tentang dirinya kepada Yubi. Setidaknya dia harus meyakinkan diri dulu bahwa Yubi benar-benar dia percaya, lalu dia akan menceritakannya.

Mari melanjutkan mencuci piring kotor yang terhambat akibat mendapatkan telepon dari Yubi tadi, baru saja dia menyelesaikan pekerjaannya tiba-tiba pintu rumahnya diketuk tiga kali membuat Mari tersentak kaget.

“siapa yang datang malam-malam begini?” Gumamnya sembari membasuh tangannya hingga bersih kemudian mengeringkannya.

Jelas bukan Kangjoon yang datang saat ini, karena pria itu pasti akan langsung meneriaki namanya jika datang kerumahnya, Taehyung apalagi, anak bodoh itu pasti mendobrak dengan kasar pintu rumahnya seperti sebelum-sebelumnyam, bukannya mengetuk dengan penuh kesopanan seperti saat ini.

Apakah Jinhyuk? Tapi dia baru bertemu denganku kemarin.

Mari masih bertanya-tanya saat kakinya sudah berada di belakang pintu rumahnya, dia menyesal karena tidak memasang interkom saat pindah di sini dulu jadi dia tidak bisa melihat siapa yang sedang berdiri di seberang pintu rumahnya itu.

“sia—pa—” Ucapan Mari tergantung di udara saat pintunya terbuka memunculkan sosok pria yang lumayan asing untuk dirinya, alisnya berkerut samar meneliti wajah pria itu mencoba mencari tau apakah dia adalah seorang kenalannya atau bukan.

“Jang Mari—ssi?”

Mari mengerjapkan matanya saat mendengar suara pria itu, matanya melebar seketika saat mengingat di mana dia pernah bertemu dengannya dan dengan gerakan secepat kilat dia mendorong pintunya untuk tertutup namun gerakannya kalah cepat dengan pria itu, karena saat ini kaki pria itu telah menahan pintunya agar tidak tertutup rapat.

“tunggu sebentar, ada yang ingin saya bicarakan” Ucap pria itu membuat Mari memutar bola matanya kesal, untuk apa pria itu datang ke rumahnya—ah tidak, pertanyaannya darimana dia mengetahui tempat tinggalnya saat ini?

“maaf, sepertinya anda salah rumah” Ucapnya dengan pelan, dia sama sekali tidak ingin berurusan dengan pria dengan arogansi tinggi itu. Sudah cukup dia mendengar kata-kata sinisnya saat pertemuan pertama mereka dulu.

“saya benar ingin bertemu denganmu, Mari—ssi, ini mengenai lamaran pekerjaanmu”

Mari menautkan alisnya kebingungan, itu sudah berlalu hampir tiga minggu yang lalu tapi mengapa tiba-tiba pria ini datang dan mau membicarakan masalah pekerjaan dengannya.

“jika saya mengganggu saat ini, saya akan menunggu besok agar kita bisa bicara dengan baik-baik” Ucapnya lagi saat tidak mendengar balasan dari Mari, tangannya terlihat terulur masuk melewati pintu yang menghalangi mereka saat ini kemudian terdapat kertas putih berukuran persegi panjang di tangannya, “ini kartu nama saya, tolong hubungi saya jika kau ingin bekerja ditempatku” Ucapnya dan dengan ragu Mari menerima kartu nama tersebut.

“maaf sudah mengganggu malam ini, saya permisi”

Dan setelah mengucapkan itu Mari mendengar langkah kaki pria itu yang menjauhi rumahnya. Dia menghela nafas lega kemudian menutup pintunya rapat dan menguncinya. Matanya terpaku sesaat pada kartu nama yang ditinggalkan pria itu, memikirkan apakah dia masih membutuhkan pekerjaan itu saat ini atau sudah tidak? Bagaimanapun juga keadaan sekarang sudah berbeda dengan keadaan saat dirinya melamar pekerjaan di perusahaan pria itu dulu.

Mari mengecek nomor ponsel yang tertera di kartu nama tersebut kemudian melirik deretan huruf yang mencantumkan nama pria itu di sana.

“Kim Myungsoo—”

***

Senyuman yang terlampir di wajah cantik wanita itu membuat pria yang kini sedang membicarakan masalah proyek baru yang ditanganinya bersama sekertarisnya itu sedikit merinding. Wanita itu hanya berdiri di depan ruangannya tanpa berniat untuk masuk, tapi sungguh senyuman kejam yang tercetak diwajahnya seolah mengundang pria itu untuk segera menghindar dari tempat ini, pria itu bahkan tidak mendengar dengan jelas lagi penjelasan sekertarisnya karena gangguan yang diterimanya.

“tuan—apa anda mendengarku?” Gadis itu menatap atasannya dengan wajah yang tertekuk, menyadari bahwa pria itu sama sekali tidak memperhatikannya. Percuma saja membuang-buang waktu untuk menjelaskan tentang penandatanganan kontrak yang akan dilaksanakan beberapa hari kedepan itu.

“tuan Kim!” Pria itu mengerjapkan matanya lalu melirik kepada sekertarisnya yang kini tengah menutup mulutnya dengan raut terkejut karena telah berseru dengan suara yang cukup lantang kepada atasannya itu.

“ck, aku mendengarmu. Cukup beritahu aku kapan kita akan bertemu dengan pihak klien” Desis pria itu dengan ketus.

“ma—maaf—”

Pria itu berdecak malas kemudian mengibaskan tangannya agar sekertarisnya keluar dari ruangannya ini. Setelah menggumamkan beberapa kata, gadis itu akhirnya keluar dari ruangan yang terasa begitu mencekam untuknya itu karena dia tau mood atasannya sedang tidak baik saat ini. Selang beberapa menit wanita yang sejak tadi mengamatinya dari luar ruangan melangkahkan kakinya masuk dengan langkah yang begitu anggun dan membahayakan membuat sang pria bersikap waspada dari balik meja kerjanya.

“ini sudah terlalu lama Kim Myungsoo, aku mau Jang Mari sekarang!” Ucapnya tanpa basa-basi membuat pria itu memejamkan matanya, sungguh hidup di bawah kendali terror kakaknya benar-benar memuakkan dan sayangnya dia sama sekali tidak bisa melakukan apapun untuk melawan.

“berhenti menerorku noona, aku bahkan harus merendahkan diriku untuk memohon padanya. Dia akan menghubungiku segera, tunggu saja!” Ucap Myungsoo memasang wajah frustasinya, jujur saja belakangan ini dia tidak bisa bekerja dengan tenang karena kakaknya selalu mengawasinya seperti seorang pemburu yang akan segera menyergap mangsanya. Itu sangat menakutkan!

“kau memang selalu bisa di andalkan adik tampanku” Ucap Taehee sambil tertawa anggun, namun tawa itu membuat Myungsoo bergidik.

“aku bahkan ragu jika aku adik kandungmu” Gumam Myungsoo dengan memutar kedua bola matanya.

“kita jelas sedarah tampan, jangan ragukan itu” Sahut Taehee yang sempat mendengar gumaman Myungsoo tadi dengan terkikik geli.

“kau sudah tidak punya keperluan? Keluarlah—kerjaanku masih banyak. Tolong jangan menggangguku lagi” Myungsoo berkata dengan memasang wajah memelasnya berharap Taehee bisa mengerti dan meninggalkannya sendiri, sungguh dia sangat tidak ingin berurusan dengan kakaknya itu—meskipun itu mustahil.

“ya ya, aku akan kembali ke ruanganku. Ck, aku masih saja heran mengapa kau begitu tertekan denganku? Bukankah kakakmu ini sangat cantik?” Celoteh Taehee sembari menggelengkan kepalanya, dalam pikirannya dia sama sekali tidak pernah berniat untuk menakuti Myungsoo tetapi sepertinya pria itu memang menanggapi segala sikapnya saat ini dengan cara yang berbeda.

“kau menakutkan noona” Gerutu Myungsoo dengan wajah yang tertekuk membuat Taehee terbahak mendengarnya, menakutkan? Sifat itu adalah sifat yang paling terakhir Taehee ingin miliki sekarang ini tetapi adiknya malah menganggapnya menakutkan? Benar-benar tidak bisa dipercaya.

“aku sangat baik Myungsoo, jangan mengatakan aku menakutkan. Itu melukaiku” Ucap Taehee sembari memasang wajah tersakitinya menatap Myungsoo.

“aku tau, keluarlah sekarang noona

“ck, dasar tidak sopan” Decak Taehee setelah beranjak dari tempatnya dan tanpa kata dia keluar dari ruangan itu membuat Myungsoo bisa bernafas dengan lega. Sudah berkali-kali dia mengatakan bahwa kakaknya itu sangat menakutkan, entah apa yang membuatnya bisa setakut seperti ini kepada kakaknya padahal selama ini Taehee selalu berkelakuan baik padanya, tidak pernah melakukan hal-hal yang lebih buruk dari sebuah bentakan.

Jang Mari. Kenapa gadis itu masih belum menghubungiku juga?

Myungsoo kembali gusar, jika Mari menolak untuk bergabung di perusahaannya sudah dipastikan saat itu adalah saat terakhir Myungsoo untuk bernafas. Jelas sekali kakaknya menginginkan Mari untuk menjadi pegawainya.

Tidak ingin membuang waktu dia akhirnya mengambil ponselnya dan segera menghubungi Jack yang memang sudah dia tugaskan untuk mengawasi Mari. Kalau-kalau gadis itu tiba-tiba saja menghilang tanpa meninggalkan jejak.

“Jack! Katakan apa yang dilakukan gadis kampung itu sekarang?”

“dia bekerja di cafe seperti biasanya tuan”

“sial! Apa dia tidak berniat untuk menghubungiku? Aku bahkan sampai memohon padanya!”

“maafkan saya, kalau masalah itu saya kurang tau”

“aissh! Keluar dari tempatmu dan segera temui dia, katakan dia akan bekerja di Taeyang Industries sekarang juga!”

Myungsoo membentak Jack dengan suara yang begitu keras kemudian tanpa mendengarkan jawaban Jack dia langsung memutuskan panggilannya secara sepihak. Myungsoo sangat kesal, mengapa gadis itu membuat semuanya jadi susah seperti ini? Bukankah dia ingin bekerja disini sebelumnya, dia telah menerima tawaran gratis untuk bergabung dengan Taeyang Group dan sekarang gadis itu ingin menolaknya? Astaga, harga diriku benar-benar direndahkan oleh gadis kampung itu!

*

Jack mengamati dalam diam gadis yang sekarang sedang berdiri di balik meja kasir, dia mengambil tempat yang cukup strategis agar bisa mengintai gadis tersebut tanpa harus mendapatkan kecurigaan yang berlebihan dari orang lain yang juga ada disekitarnya.

Tubuh Jack otomatis beranjak dari kursinya saat melihat gadis itu meninggalkan meja kasir dan seorang pemuda lain menggantikan tempatnya. Karena tidak ingin kehilangan kesempatan, dengan gerakan cepat Jack mengikuti gadis itu masuk ke dalam sebuah ruangan yang diduganya adalah ruang ganti para pegawai.

“oh—astaga! Siapa kau?” Jack meringis saat telinganya langsung disambut oleh suara lengking dari gadis tersebut, dia sudah masuk ke dalam ruangan itu, dan bersyukur bahwa ruangan ini kosong. Hanya ada dirinya dan gadis yang kini sedang menatapnya takut.

“jangan takut nona, saya kemari hanya ingin menyampaikan pesan atasan saya” Ucap Jack dengan tenang dan memasang wajah datarnya yang membuat gadis itu semakin mengkeret ketakutan.

“si—siapa yang menyuruhmu? Apa maumu?” Pekiknya lagi namun kali ini suaranya tercekat hampir tidak bisa berkata apa-apa.

“CEO kami mengatakan bahwa mulai hari ini anda resmi menjadi pegawai dari Taeyang Industries. Jadi diharapkan anda bisa segera ke kantor dan memulai untuk bekerja” Jelas Jack tanpa intonasi membuat gadis itu mengernyit bingung.

“Taeyang? Kapan—ah! Aku lupa” Gadis itu menepuk dahinya saat mengingat sesuatu, matanya masih menatap waspada Jack saat dia berjalan menuju lokernya untuk mengambil tas miliknya.

“jika anda telah meningatnya, tuan Kim telah menunggu anda saat ini. Silahkan ikut saya—” Mata gadis itu langsung melebar mendengar ucapan Jack, dia bahkan belum memutuskan akan masuk ke dalam perusahaan itu atau tidak.

“aku belum memutuskan akan bekerja di sana atau tidak! Aku tidak akan ikut” Ucapnya bersikeras menolak tawaran Jack yang ingin mengantarnya ke kantor.

“Jang Mari—ssi, saya harap anda bisa bekerja sama karena saya hanya menuruti perintah dari atasan saya” Ucapnya penuh peringatan membuat gadis itu kembali gemetar karena merasakan aura yang begitu mendominasi dari Jack.

“tidak, katakan pada atasanmu itu beri aku waktu sehari lagi. Aku akan menemuinya besok, tidak sekarang” Ucap Mari dengan tegas tanpa ingin ada bantahan, segala rasa takutnya dia singkirkan dan menatap dengan tajam Jack yang berdiri menjulang dihadapannya ini.

“baik, akan saya sampaikan. Maaf mengganggu anda” Jack kemudian keluar dari ruangan itu bahkan tanpa menunggu jawaban dari Mari membuat gadis itu hanya bisa melongo atas kelakuannya yang tidak memiliki sopan santun tersebut.

***

Jinhyuk mengernyit saat gadis itu hanya datang sendiri keruang makan, bukankah dia sudah meminta adiknya itu untuk memanggil serta ibunya untuk makan malam bersama namun mengapa dia hanya datang sendiri?

“Noori, ibu di mana?” Tanya Jinhyuk saat gadis itu sudah duduk ditempat biasanya duduk untuk makan.

“ibu tidak ingin makan, aku sudah membujuknya tapi dia bersikeras ingin di kamar saja” Jelas gadis itu dengan wajah sendu, mengingat saat memanggil ibunya untuk makan bersama tadi dia malah menangis karena harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya sudah tidak akan ikut bergabung di meja makan untuk makan bersama lagi.

“seharusnya kau memaksanya Noori, ibu akan sakit jika tidak makan” Noori meringis pelan, dia tidak suka jika dimarahi oleh kakaknya seperti sekarang ini.

“aku sudah memaksa oppa, jangan menyalahkanku. Ibu benar-benar sulit untuk kubujuk” Ujar Noori dengan wajah memelasnya, kini bibirnya sudah mengerucut menandakan bahwa dia sedang kesal karena kakaknya itu menyalahkan dirinya.

“heh, makanlah. Nanti aku yang akan mengantarkan makanan ke kamarnya” Jinhyuk menghela nafasnya panjang, dia tidak menyalahkan Noori sebenarnya hanya saja dia berharap bahwa Noori bisa membawa ibu mereka untuk makan karena semua ini juga demi kebaikan ibunya dan mereka berdua.

oppa, apa mulai sekarang yang akan menggantikan posisi ayah itu kau?” Tanya Noori setelah mereka cukup lama terdiam, Jinhyuk tidak menjawab melainkan hanya menganggukan kepalanya.

“lalu posisimu siapa yang akan menggantinya?” Tanyanya lagi dengan mata mengerjap membuat Jinhyuk mengalihkan pandangannya pada Noori, menatap adiknya itu dengan cermat.

“Noori, kau belum bisa masuk ke dalam perusahaan. Selesaikan kuliahmu setelah itu aku akan membantumu untuk magang di kantor, jika kau sudah cukup pengalaman, kau sudah bisa memilih akan bekerja di mana nantinya” Jelas Jinhyuk dengan tenang membuat Noori yang sedari tadi berharap besar bahwa kakaknya akan memanggilnya untuk mengurus perusahaan bersamanya hanya menekuk wajahnya.

“aku hanya tinggal menunggu jadwal sidangku, kenapa tidak kerja lebih dulu saja? Aku sudah punya pengalaman kok, kata dosenku aku sudah bisa bekerja di perusahaan dan mengelolanya dengan baik”

“Noori, perusahaan bukan tempat untuk mencoba-coba. Salah langkah sedikit kita bisa rugi, dan lagi kau harus punya pengalaman praktek yang banyak bukan hanya teori saja. Aku tau nilaimu di kampus sudah memuaskan tapi tanpa adanya pengalaman kerja praktek, kemampuan teorimu tidak akan berguna” Sanggah Jinhyuk lagi seolah menegaskan bahwa harapan Noori kali ini tidak akan dikabulkan olehnya, setidaknya setelah gadis itu menjalankan semua prosedur yang ada.

“yah, percuma punya kakak pemimpin utama perusahaan besar kalau tidak bisa bantu adiknya buat dapat kerja” Keluh Noori namun Jinhyuk lebih memilih diam dan menyantap makanannya kembali, meskipun Noori terus saja melemparkan sindiran-sindiran halus kepadanya tapi pria itu seakan tidak terganggu sedikitpun. Dia tau sifat Noori yang manja terkadang membuatnya meminta sesuatu yang berlebihan kepada dirinya ataupun ayah mereka, tapi Jinhyuk yang ingin Noori menjadi gadis mandiri itu juga tidak serta merta selalu memenuhi keinginan gadis itu. Adakalanya dimana dia harus berdebat dengan Noori untuk menolak permintaan gadis itu dan kadang juga dia dengan senang hati akan mengabulkan keinginan Noori, apapun itu.

“aku akan mengantar makanan untuk ibu. Habiskan makananmu, setelah itu istirahatlah” Ucap Jinhyuk setelah menghabiskan makanannya, dia kemudian beranjak dan memasuki dapur untuk mengambil makanan yang akan dibawanya ke kamar ibunya. Sementara Noori hanya mencebikkan bibirnya dengan kesal, impiannya untuk bekerja dengan posisi yang tinggi di perusahaan ayahnya sepertinya harus ditunda dulu. Setidaknya sampai dia bisa menerima ijazah strata satunya.

“bersabarlah sedikit lagi Bae Noori” Bisiknya pada dirinya sendiri seolah menguatkan pilihannya dan meyakinkan dirinya bahwa kakaknya akan membantunya jika sudah waktunya tiba.

***

Sooji meremas kedua tangannya saat dia duduk diruang tunggu, perasaan cemas dan gusar kini menerjang dirinya. Pikirannya bertanya-tanya apakah yang dilakukannya adalah sebuah kebenaran atau tidak, namun mengingat perbincangannya bersama dengan kakaknya semalam membuatnya kembali yakin dengan keputusan ini. Setidaknya dia bisa mulai mencari tau segala macam teka-teki yang dihadapinya mulai dari perusahaan ini.

Aku sebenarnya tidak mengerti dengan maksud Jinhyuk oppa untuk menyuruhku menerima tawaran bekerja disini, dia bahkan mendukungku untuk bekerja ditempat ini. Meskipun kita berdua tidak tau kapan tepatnya aku akan mengambil alih perusahaan peninggalan ahbeoji, tapi setidaknya aku bisa melakukan pergerakan awal dimulai dari perusahaan ini.

“Taeyang Industries, salah satu perusahaan yang masuk dalam catatan hitam ahbeoji. Dan sangat beruntung untukmu jika kau bisa masuk ke sana dan mencari tau maksud ahbeoji melakukan hal tersebut” Masih terngiang dengan jelas perkataan Jinhyuk oppa yang mengatakan mungkin saja perusahaan ini terlibat dalam kasus kematian ahbeoji dan jelas kesempatanku untuk mencari tau ada di depan mata dan aku tidak akan menyia-nyiakannya.

“kau harus menjaga dirimu disana, jangan sampai jati dirimu terungkap. Oleh siapapun dan bekerjalah dengan baik” Aku tersenyum saat mengingat pesannya, dia benar-benar kakak yang baik. Selama ini dia sudah membantu ahbeoji, menggantikan tempat yang seharusnya menjadi milikku dan sekarang aku akan melakukan semua yang harus kulakukan dan tidak akan kubiarkan lagi siapapun merenggut orang-orang terkasihku.

“Jang Mari—ssi?”

Mari mendongak dan menemukan pria yang mendatanginya kemarin sudah berdiri dengan wajah datar dihadapannya, pria itu mengangguk sebentar kemudian menghela Mari untuk masuk ke ruangan atasannya. Mari tersenyum kaku lalu beranjak dan merapalkan segala macam doa agar segalanya bisa dilancarkan dan tanpa menuai kecurigaan sedikitpun.

Mari memejamkan matanya sejenak saat Jack membuka pintu besar dihadapannya, dia mengintip ke dalam sedikit dan menahan nafas. Ruangan yang begitu luas dan entah mengapa dia merasa menciut saat kakinya melangkah memasuki ruangan tersebut.

Tak banyak yang bisa dilihatnya dalam ruangan itu selain sofa, dua buah lemari berwarna hitam dan meja kerja berukuran besar yang berada ditengah-tengah ruangan serta seorang pria yang duduk kaku di balik mejanya saat ini. Mari menelan salivanya, mengapa dia harus merasakan kegugupan seperti ini? Dimana semua keberaniannya seperti saat pertama kali dia bertemu dengan pria itu.

“tuan, nona Jang telah tiba” Lapor Jack membuat Myungsoo menghentikan aktifitas membacanya dan mendongak untuk menatap langsung tepat di manik Mari, merasakan aura yang begitu mencekam, Mari berjingkat kaget dan mengalihkan pandangannya kemanapun asal tidak ke pria tersebut.

“kau bisa keluar dan nona Jang Mari, silahkan duduk” Ujar Myungsoo dengan datar, Jack mengangguk kecil lalu keluar dari ruangan tersebut menyisahkan Mari dengan segala kegugupannya bersama dengan pria yang baru disadarinya bisa sangat mengintimidasi hanya dengan melalui tatapan matanya saja.

“tidak mendengarku? Anda bisa duduk” Sahutan itu lagi-lagi membuat Mari berjingkat. Dalam ruangan ini dia seolah seekor rubah kecil yang sedang berhadapan dengan singa buas yang mungkin sebentar lagi akan segera memangsanya hidup-hidup. Mengambil langkah pelan untuk menghampiri kursi yang berada di depan meja kerja pria itu, dia kemudian mendudukan tubuhnya masih dengan perasaan yang gugup.

“saya senang anda menerima penawaran saya” Myungsoo mengangkat suaranya saat melihat Mari sudah duduk manis dihadapannya, dia bukan tidak sadar dengan keadaan Mari saat ini. Dia jelas tau bahwa gadis itu sedang merasa tertekan atas aura yang keluar dari ruangannya ini dan dia tidak akan menyalahkan siapapun apalagi dirinya atas perasaan yang dialami oleh gadis tersebut.

“sa—saya membutuhkan pekerjaan” Cicit Mari dengan suara tertahan, melihat itu Myungsoo tersenyum miring lalu memajukan sedikit tubuhnya dan memperhatikan Mari dengan lebih teliti.

“tidak perlu takut, anda tidak akan bekerja pada saya. Anda akan bekerja pada orang yang tepat” Ujar Myungsoo sarat akan peringatan, matanya menajam saat melihat Mari gelagapan atas kalimatnya tersebut. Dia tersenyum, dengan dirinya saja Mari sudah kelihatan ketakutan seperti ini bagaimana caranya dia bisa menghadapi Taehee yang sejujurnya adalah manusia yang paling Myungsoo takuti di dunia ini setelah ibunya.

Myungsoo tertawa dalam hatinya, gadis pemberani yang ditemuinya beberapa pekan lalu sekarang sudah menghilang tanpa jejak. Dihadapannya hanya ada seorang gadis lemah yang bahkan mengangkat kepalanya saja dia tidak berani. Ckck, Myungsoo menggeleng, sepertinya dia salah karena sempat mengagumi keberanian gadis itu dulu karena sekarang nyatanya semuanya tidak berlaku semenjak gadis itu memasuki ruangnanya.

“Jiyeon! Panggil wakil direktur keruanganku” Perintah Myungsoo melalui interkom saat dia sudah tidak mempunyai alasan lagi untuk menampung gadis itu diruangannya, tadi dia hanya ingin memastikan jika Mari benar-benar datang ke kantornya atau tidak.

“orang yang akan jadi atasanmu segera tiba di sini, saya harap anda betah bekerja bersama kami” Myungsoo melirik Mari dan berharap gadis itu merasa terintimidasi kepada kakaknya yang akan segera datang tersebut, entah mengapa semenjak pertama kali bertemu dengan gadis itu dia sangat tidak menyukai kehadirannya. Merepotkan dan sanggup membuatnya kewalahan untuk menghadapi sikapnya yang urakan.

“Myungsoo—oh, kau punya tamu” Taehee berhenti sejenak di ambang pintu dengan wajah penuh Tanya, mengapa Myungsoo harus memanggilnya ke ruangan ini sementara adiknya itu memiliki tamu.

“oh noona, masuklah—Jang Mari telah menunggumu” Sahutan Myungsoo itu sekilas membuat Taehee terkejut, namun sedetik kemudian wanita itu melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri meja Myungsoo.

“Mari?” Taehee bergumam sembari menatap gadis yang duduk di depan meja Myungsoo, Mari mendongak dan memandang kearah Taehee. Alisnya berkerut sejenak, kemudian matanya melebar saat mengingat Taehee.

“eonni!” Seru Mari dengan wajah berbinar antusias, melihat itu Myungsoo mendengus. Niatnya membuat Mari tertekan berkerja di bawah naungan Taehee, tapi sepertinya itu gagal karena Mari bahkan terlihat bahagia saat bertemu dengan kakaknya. Berbeda saat bertemu dirinya.

“astaga! Aku sudah menunggumu lama, akhirnya kau datang juga” Ucap Taehee menghembuskan nafas lega, Mari tersenyum kemudian mengangguk kecil.

“pama—eh tuan, apa saya akan bekerja pada Taehee eonni?” Mari memandang Myungsoo dengan wajah penuh antusias, dia sangat senang saat berpikir bahwa dia akan berkerja bersama Taehee bukan pada pria arogan yang ada dihadapannya itu. Setidaknya lebih memudahkannya bekerja dengan orang yang telah dikenalnya.

“ya, dan kalian keluarlah—urusanku sudah selesai” Jawab Myungsoo dengan ketus, moodnya benar-benar rusak melihat kedekatan Mari dan kakaknya, sementara Taehee hanya mencibir kepada adiknya kemudian menarik lengan Mari agar berdiri dari tempatnya.

“ck, ayo Mari kita ke ruanganku—ehm, Myungsoo terima kasih sudah membawa Mari kembali, aku berutang padamu, oke” Ucap Taehee kemudian menggerling pada Myungsoo sebelum keluar dari ruangan pria itu.

Selepas kepergian dua wanita tersebut Myungsoo menghela nafasnya panjang, rasanya menyebalkan! Kakaknya sekarang bahkan memiliki sekutu yang berpontensi untuk mengacaukan kehidupannya.

“ah, sialan Jang Mari!”

***

Mari tersenyum puas, pasalnya sudah hampir sebulan dia bekerja di tempat ini dan sama sekali tidak ada kendala apapun. Besok Taehee akan memberikan jabatan yang paten untuknya, mengingat selama beberapa minggu belakangan dia hanya bekerja membantu Taehee di ruangannya tanpa jabatan apapun dan setelah melewati masa tes dari Taehee akhirnya dia bisa menjadi pegawai tetap di perusahaan ini.

“apa kau yakin akan menempatkanku di sana? Bagaimanapun juga aku masih baru disini” Mari meskipun senang tapi dia sedikit ragu dengan jabatan yang akan diterimanya, Manager Pengembangan Operasional bukanlah jabatan yang mudah didapatkan dan butuh kualifikasi tinggi agar bisa berada di tempat itu. Mari bahkan belum genap sebulan diperusahaan ini tapi sudah mendapatkan jabatan itu, Bukankah ini terlalu berlebihan untukku?

“Mari, aku tau kemampuanmu dan aku sudah berpikir ini secara matang. Kau memang pantas mendapatkannya, aku juga sudah berbicara pada predir dan dia menyetujuinya” Ucap Taehee santai menanggapi Mari.

“tapi aku tetap saja merasa ini berlebihan, bagaimana dengan karyawan yang telah lama mengabdi di sini? Banyak dari mereka yang lebih pantas untuk mendapatkan jabatan ini dibandingkan denganku, lalu bagaimana dengan Manager yang sekarang ini menjabat? Tidak mungkin dia dipecat dan aku menggantikannya”

Taehee tertawa kecil melihat Mari mengoceh panjang lebar dengan wajah yang gusar, gadis itu benar-benar murah hati menurut Taehee.

“jangan khawatir, aku sudah menempatkannya di cabang lain dan masalah karyawan yang lain aku rasa tidak ada satupun dari mereka yang lebih pantas darimu. Kau memiliki kualifikasi lebih tinggi dari mereka Mari” Jawab Taehee, sudah lama dia menginginkan Mari mengambil jabatan itu. Dalam pikirannya jika Mari menjadi manager operasional di perusahaan ini sudah dipastikan jika mereka akan mendapatkan keuntungan yang banyak. Mari tau bagaimana cara berbisnis.

“tapi eonni—”

“Kim Taehee!”

Kedua wanita itu berjengkit kaget di tempat duduknya, melihat pintu ruangan itu menjeblak terbuka dengan kasar dan Myungsoo berdiri di ambang pintu dengan wajah memerah menahan amarahnya.

“apa-apaan kau? Memecat pegawaiku tanpa izinku? Dan apa maksudmu dengan manager PO yang baru hah?” Pekik Myungsoo kesal, dia bahkan sudah menanggalkan segala formalitasnya. Melupakan bahwa wanita yang sedang diteriakinya ini adalah kakaknya yang berumur 3 tahun di atasnya.

“tenang dulu Myungsoo—lagipula aku tidak memecatnya, hanya aku pindahkan di cabang lain” Ucap Taehee tenang, Myungsoo mendengus lalu mengusap kasar rambutnya hingga berantakan. Mari yang kebetulan berada di dekat Myungsoo hanya terpana saat melihat kejadian itu. Dia sangat tampan bukan? Ah apa yang kau pikirkan Mari!

“kau tau Dongsuk itu manager terbaikku! Kita bahkan belum memulai proyek di Jeolla–do dan kau malah memindahkannya? Apa yang ada dikepalamu sebenarnya hah?” Taehee menggelengkan kepalanya menghadapi emosi adiknya yang meledak-meledak itu. Dia hanya mengetuk mejanya menunggu Myungsoo selesai dengan segala teriakannya itu dan mulai angkat bicara.

“dengarkan aku! Ini adalah perusahaanku jadi jangan mencoba-coba untuk mengacaukannya! Kembalikan Dongsuk sekarang juga!”

“sudah selesai?” Myungsoo mengatur nafasnya tenang, menatap horror pada Taehee yang hanya tersenyum kecil sembari menaikkan alis padanya.

“sekarang giliranku bicara bukan?” Taehee tersenyum saat Myungsoo hanya terdiam, “dengar, aku tau Dongsuk orang yang cekatan dan selama ini pekerjaannya tidak mengecewakan tapi seperti yang kau tau—sejak awal aku sudah ingin merekrut Mari dalam pengerjaan proyek di Jeolla–do dan aku pikir posisi yang terbaik untuknya adalah menjadi manager pengembangan operasional ini. Dia sudah ahli” Jelas Taehee dengan begitu tenang.

Myungsoo menarik nafasnya kasar, lagi-lagi Mari. Entah mengapa kakaknya begitu terobsesi dengan gadis itu! Bahkan selama sebulan ini dia belum melihat progress kerja Mari, gadis itu hanya mendekam di dalam ruang kerja Taehee.

“apa hebatnya gadis itu? Aku tidak ingin Dongsuk digantikan oleh siapapun! Carikan posisi lain untuknya” Seru Myungsoo dengan tegas, Taehee menggeleng melirik Mari yang hanya diam saja ditempatnya. Sepertinya sejak tadi Myungsoo tidak menyadari keberadaan gadis itu.

eonni, sudah kukatakan ini berlebihan—aku bisa berada di divisi keuangan atau bagian HRD” Ucap Mari menatap Taehee sungkan, tiba-tiba Myungsoo menoleh dan menatap Mari yang sedang duduk tenang di depan kakaknya itu. Dia berdecak kemudian.

see? Dia menolaknya, jadi sekarang sudah jelas! Kembalikan Dongsuk dan bawa gadis kesukaanmu ini ke Human Resource atau dimanapun!”

Mari memutar bola matanya mendengar penuturan Myungsoo, astaga! Jika pria itu bukanlah pemegang jabatan tertinggi ditempat ini sedari tadi dia sudah menyemburnya dengan segala makian andalan miliknya. Tetapi dia masih tau diri, dia bekerja di sini dibawah naungan pria itu jadi setidaknya dia harus bersikap sopan jika masih dalam lingkungan kantor.

“tidak Myungsoo, aku sudah menetapkan Mari yang akan memegang proyek ini. Aku bisa bertanggung jawab jika hasilnya tidak sesuai dengan keinginanmu” Ucap Taehee final, Myungsoo menatapnya tajam dan Mari hanya bergidik saat menyaksikan adegan saling tatap menatap kedua kakak beradik itu.

“kau akan bertanggung jawab dengan apa?” Tanya Myungsoo ketus.

“jabatanku. Bukankah itu yang kau inginkan? Aku akan meninggalkan kursi ini jika hasil kerja Mari tidak memuaskanmu” Ucap Taehee dengan sangat yakin membuat Myungsoo beserta Mari menatapnya tidak percaya.

“kau yakin bisa memegang kata-katamu?” Myungsoo menyipitkan matanya, melihat Taehee mengangguk tegas dia melirik Mari yang hanya memasang wajah shocknya saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun, “baiklah, kali ini kita ikuti permainanmu noona” Ucap Myungsoo akhirnya menyetujui. Taehee tersenyum dengan penuh percaya diri membalas senyuman sinis dari Myungsoo.

“Mari! Setelah ini keruanganku!”

Dengan kalimat bentakan itu Myungsoo keluar dari ruangan Taehee, Mari bahkan belum sempat untuk membalasnya. Dia menatap Taehee histeris.

“aku akan melakukan proyek ini bersamanya?” Tanya Mari tidak percaya, Taehee meringis pelan kemudian menganggukan kepala membenarkan pertanyaan Mari, “eonni—kenapa kau melakukan ini padaku?” Rengek Mari dengan wajah memelasnya pada Taehee, terlibat dalam pekerjaan yang sama dengan pria itu adalah keinginan terakhir Mari selama dia hidup.

“maafkan aku, tapi proyek ini memanglah miliknya. Bekerjalah dengan baik dan buktikan padanya kalau kau adalah yang terhebat” Mari hanya bisa menghela nafasnya panjang. Dia sudah menandatangani kontrak jadi tidak bisa melakukan apapun selain menerima nasibnya.

Sepertinya dia tidak akan bisa hidup dengan tenang beberapa hari ke depan, setidaknya sampai proyek pertama yang dipegangnya saat bekerja di sini rampung.

***

CONTINUED.

Sudah ada sedikit titik pencerahan kan? Meskipun aku yakin kebingungan kalian semakin bertambah setidaknya dengan melihat tebakan-tebakan kalian kemarin–sudah ada sedikit yang hampir benar tebakannya 😁😁😁 tapi banyakan yang salahnya sih 😅

Stress kan karena cerita ini terlalu banyak mengandung rahasia ? Sama, aku juga stress ahaha maunya langsung ke klimaks aja tanpa opening macam gini 😆

Btw, aku baru bikin ig 😀 ayo di follow akunnya ➡ @elship_l yaa 😉😉😉😉

Nah sekarang—tebak-tebakan lagi hayoo 🙆🙆🙆🙆

Thankyou.xoxo
elship_L
.
.
September, 25th 2016

7 responses to “VENGEANCES – The Beginning Of Me

  1. Apa keluarga kim adalah salah satu penyebab meninggal.a tn bae?
    Jadi masud.a suzy menjadi mata” di perusahan milik keluarga kim? Dan dapatkah suzy menyelesaikan proyek.a dgn baik dan mampu membuat myungsoo terkesan?

    Liked by 1 person

  2. hihihi aku jga rada rada stres nebaknya =D
    tuh kan bener, tn. bae gak mungkn meninggal hanya karena serangan kantung. bagimna bisa dokter mengatakan tn. bae meninggal karena serangan jantung tpi tn. bae sendiri tdak memiliki riwayat penyakit jantung???? dan perusahaannya myungsoo (aku lupa namanya) ternyata masuk dalam catatan hitamnya tn. bae… padahal tn. kim dan t. bae berteman sejak lama. tpi bukankah musuh yg paling berbahaya adlah teman sendiri??
    okedeh segityu dulu ajah yah…. ditunggu next chapternya….

    Liked by 1 person

  3. Haha, bikin ngakak kalau liat myung frustasi gitu hadapin kakak x..
    Buktikan pda myungsoo mari kalau kamu memang layak.
    Semangat bikin kelanjutan x ya.

    Liked by 1 person

COMMENT FOR WHAT YOU HAVE BEEN READ!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s