My Lovely Mr. Gay Part 8

MY LOVELY MR. GAY

Author : elship_L || Cast : Bae Sooji, Kim Myungsoo, others.|| Genre : Romance || Rating : PG-19+ || Type : Chapter

My Lovely Mr Gay

Haeri menaikkan alisnya menatap wanita dihadapannya saat ini, matanya terus mengamati raut wajahnya yang sangat aneh hari ini. Tidak biasanya dia mendapati wanita itu berekspresi muram seperti sekarang ini, tapi melihat wajahnya seperti itu—mungkin saja dia sedang dalam masalah.

“ada apa Sooji?”

Sooji mengangkat wajahnya dan menatap Haeri sebentar, kemudian dia mengalihkan pandangannya lagi ke bawah dengan helaan nafas panjang.

“ada masalah? Apa datelinemu tidak terkejar?” Sooji menggeleng saat Haeri bertanya, mencoba menebak-nebak apa yang sedang terjadi padanya saat ini, “lalu kenapa?”

“aku sedang bingung” Gumamnya pelan kemudian mendesah pelan, “aku tidak tau harus bercerita dengan siapa—kau tau, Soojung sudah berangkat ke New York kemarin” Sambungnya lagi membuat Haeri mengangguk mengerti.

“kau bisa cerita padaku, seperti dulu aku selalu menjadi tempatmu berkeluh kesah sekarangpun sama. Jadi ada masalah apa?” Ucap Haeri tersenyum, mengingat dulu Sooji sering sekali mengeluh padanya saat awal bekerja. Sooji tidak terlalu terbiasa dengan jam kerja yang sangat padat sehingga membuatnya cukup sering kelelahan tapi Haeri selalu menyuntik kata-kata motivasi untuk memberinya semangat—dan hasilnya, Sooji tidak pernah lagi datang mengeluh padanya tentang pekerjaannya sampai saat ini.

Sooji menimbang, menatap Haeri sambil berpikir apakah dia harus bercerita dengan wanita itu atau tidak?

“kau terlihat enggan bercerita padaku?” Haeri mencebik pelan, melihat wajah Sooji yang sedikit berkerut pertanda bahwa wanita itu sedang tidak yakin untuk bersuara saat ini.

“tidak—aku hanya—”

“biar kutebak, ini masalah pria bukan?” Haeri tertawa saat melihat kedua bola mata Sooji mencelos, dia benar. Ini masalah pria, dan betapa mengejutkannya saat dia sadar bahwa Sooji sedang terganggu dengan sesuatu yang selama ini tidak pernah sekalipun terpikirkan olehnya.

“jadi siapa pria beruntung itu?”

Sooji memutar bola matanya melihat kerlingan menggoda dari Haeri, dia tau bahwa Haeri sudah pasti akan menggodanya jika dia bercerita tentang ini.

“Myungsoo—”

“ah Myungsoo? Aku bahkan melupakan kenyataan bahwa kalian berdua mengakui hubungan yang sama sekali tidak pernah ada di hadapan orang tua kalian, tsk tsk tsk” Haeri berdecak, saat itu dia ada disana—menyaksikan kebohongan yang digulir oleh Sooji tentang hubungannya bersama Myungsoo, entah karena apa dan dia sama sekali belum mendapatkan jawabannya sampai saat ini.

“jadi dia yang membuatmu bingung saat ini? Apa yang telah dilakukannya? Atau jangan-jangan hubungan kalian memang benar? Lalu mengapa kau menolak saat aku dan Jongsuk ingin menjodohkanmu?”

Sooji memijit pelipisnya dan mendesah panjang, “bertanya satu-satu, please” Gumamnya pelan, Haeri terkekeh saat menyadari pertanyaannya membuat Sooji kewalahan.

“oke, jadi kau bisa mulai dari—hmm” Haeri berpikir sejenak menatap Sooji yang masih mengusap pelipisnya, “tujuanmu berbohong kepada kita semua malam itu?”

“aku tidak tau—” Sooji menghela nafasnya panjang, dia menatap Haeri “aku juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba aku mengatakan itu—saat ibuku bertanya, aku hanya memikirkan kalimat itu dan aku mengatakannya. Jika kami memiliki hubungan”

“lalu Myungsoo? Apa yang kau lakukan padanya sehingga dia sama sekali tidak membantahnya?”

“entah—itu juga yang aku bingungkan. Dia tidak membantah—tapi, dia menolak untuk aku dekati”

Jawaban Sooji membuat Haeri mengerutkan keningnya, berusaha mencerna tiap penggalan kata yang diucapkan oleh wanita itu, hingga dia sadar makna dari kata terakhirnya—dia terkesiap.

“kau mendekatinya? How can?” Haeri berseru dengan nafas tertahan, sebuah kenyataan yang benar-benar membuatnya terkejut—wajahnya bahkan menegang kaku saking tidak percayanya dengan apa yang baru saja Sooji sampaikan padanya.

I don’t know, a—ku hanya merasa perlu melakukannya—aku ingin membantunya lebih tepatnya” Sooji berbisik lirih, sampai saat ini dia memang sama sekali tidak mengerti apa yang dirasakannya pada Myungsoo—yang jelas itu bukanlah cinta seperti yang Soojung selalu todongkan kepadanya.

“kau mencintainya?”

“tidak! Tentu tid—” Sooji menatap horror Haeri yang berspekulasi seperti itu, sesaat seruannya terhenti “belum, mungkin kata yang lebih tepat” Lanjutnya dengan suara yang lebih pelan.

“jadi kau tidak mengelak jika suatu saat nanti kau akan jatuh cinta padanya?” Haeri memicingkan matanya menatap Sooji, dia tidak pernah melihat Sooji seputus asa ini. Entah apa yang telah dilakukan Myungsoo kepadanya.

“kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi nanti—yang jelas sekarang aku masih bisa dengan yakin mengatakan jika perasaanku bukanlah cinta. Aku hanya merasa simpatik padanya dan ingin membantunya, hanya itu—tidak lebih”

“tunggu—sejak tadi kau terus mengatakan ingin membantunya. Bisa katakan lebih detail lagi, kau membantunya dalam hal apa?”

Nafas Sooji tercekat saat mendengar pertanyaan itu, dia tidak mungkin mengatakan pada Haeri bahwa dia ingin membantu Myungsoo untuk terlepas dari trauma masa lalunya yang membuatnya menjadi seorang gay sampai saat ini. Jelas penyimpangan orientasi seksual Myungsoo bukanlah sesuatu yang bebas dia diskusikan pada orang lain, termasuk Haeri—calon ibu dari pria itu.

“aku tidak bisa mengatakannya—biarkan ini menjadi urusanku dan Myungsoo” Ucap Sooji meminta pengertian Haeri dan wanita itu hanya mengangguk, tau sampai mana batas dia bisa mengetahui sesuatu yang bersifat pribadi dari Sooji.

“baiklah—jadi sekarang apa yang sedang kau bingungkan?”

“dia tidak ingin dibantu olehku—dia mengusirku dan mengatakan untuk tidak mengganggunya karena dia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padaku” Jelas Sooji, mengeluarkan keluhannya yang sudah sejak kemarin dia tahan. Dia masih belum bisa menentukan tindakan apa yang akan diambilnya—meskipun sudah ada satu jalan yang sedang bercokol dalam pikirannya saat ini.

“lalu kau menyerah?”

“itu yang aku bingungkan—dia memaksaku untuk menyerah tapi aku tidak menginginkannya, dan tapi jika aku tidak menyerah—dia akan semakin menolakku dan—” Sooji mengusap dadanya dan menunduk, “sangat sakit saat mendengar penolakannya” Lirihnya.

Haeri menarik nafasnya dalam lalu meraih jemari Sooji, mengusapnya “lakukan apa yang hatimu ingin lakukan Sooji, jika dia memang bukan untukmu—ada saatnya dimana kau akan menyerah padanya tanpa paksaan”

Sooji tersenyum kecil mendengarnya, kalimat itu cukup membuatnya sedikit lega. Tapi tidak dengan hatinya—perlakuan Myungsoo masih terulang-ulang didalam otaknya saat ini, di mana pria itu menolaknya mentah-mentah tanpa memberinya kesempatan sedikitpun.

“terima kasih Haeri, kau memang selalu bisa kuandalkan”

my pleasure dear, lagipula aku senang jika kau berhasil dengannya—kau akan menjadi menantuku” Haeri mengerjapkan matanya senang.

“kalian benar akan menikah. Ini suatu berkah” Sooji berseru pelan, meskipun dia masih kurang yakin jika pernikahan Jongsuk dan Haeri yang akan diadakan tahun depan itu mendapatkan restu dari Myungsoo.

“berkah yang luar biasa—tapi aku tetap berat untuk melakukannya” Sooji menganggukan kepalanya mengerti, kini dia yang mengusap tangan Haeri.

“akan selalu ada keajaiban disetiap kebaikan yang kita lakukan—tunggulah sebentar lagi”

###

Kangjoon mengulum bibirnya, sudah beberapa hari ini dia tidak mengusik Myungsoo—bukan kemauannya sebenarnya, tapi dia lakukan itu sebagai bentuk protes pada pria itu karena telah memperlakukan Sooji dengan sangat buruk.

Dia tau apa yang Myungsoo lakukan pada wanita itu—karena pria itu sendiri yang mengatakannya, bagaimana dia dengan tidak berperasaan mengusir Sooji dari tempatnya. Menurutnya itu sudah sangat keterlaluan, dia bisa mengerti jika Myungsoo membenci seorang wanita—tapi, dia tidak seharusnya menganggap bahwa semua wanita itu sama. Terlebih menyamakan Sooji dan ibunya—yang bahkan tidak pernah peduli padanya.

“Kangjoon, akhir-akhir ini aku jarang melihatmu bersama Myungsoo. Kalian ada masalah?”

Kangjoon yang sedang melamun sedikit terkesiap saat mendengar teguran itu, dia segera menoleh pada Jongsuk dan tersenyum kecil.

“tidak paman—aku hanya merasa bosan selalu berada didekatnya”

really? Setelah puluhan tahun kalian selalu bersama—kau baru merasakan bosan saat ini?” Kangjoon tertawa, sementara Jongsuk berdecak.

“percayalah—aku sedang dalam fase terjenuhku untuk menatap wajahnya” Seru Kangjoon masih dengan tawa merdu yang mengiringinya, Jongsuk hanya menggelengkan kepalanya pelan.

“aku dengar anak itu sering ke rumah Yoorim, apa benar?” Jongsuk yang bertanya tiba-tiba membuat Kangjon tersedak kopi yang baru saja disesapnya, dia mengerjapkan matanya mendengar kabar itu.

“be—benarkah paman? Dia ke tempat ibunya Sooji?” Jongsuk mengangguk membuat raut tidak percaya semakin mengental di wajah pria muda dihadapannya.

“Haeri mengatakan bahwa hampir setiap hari Myungsoo ke sana”

“apa yang dilakukannya di sana?”

Jongsuk menggelengkan kepalanya, dia juga tidak mengerti bagaimana bisa Myungsoo bisa semudah itu dekat dengan Yoorim—dia tau masalah anaknya yang membenci wanita karena alasan tertentu, jadi saat pertama kali melihat pertemuan Myungsoo dan Yoorim dia sedikit terkejut karena melihat anaknya terlihat santai dengan wanita itu.

“aku juga tidak tau nak, maka dari itu aku bertanya padamu—kupikir kau mengetahui sesuatu” Kangjoon menggelengkan kepalanya, sejak hari di mana Myungsoo menceritakan apa yang telah dilakukannya pada Sooji di apartemennya—sejak itupula dia menjauhi Myungsoo. Dia sama sekali tidak mau repot-repot bertemu ataupun berbicara dengan pria itu.

“paman bisa bertanya dengan bibi Yoorim kalau begitu” Kangjoon mengusulkan membuat Jongsuk berdecak.

“jika semudah itu membuat Yoorim berbicara—aku tidak mungkin bertanya padamu. Kenyataannya Yoorim mengatakan Myungsoo hanya mampir kerumahnya beberapa kali” Jongsuk mendesah, “kupikir itu ada hubungannya dengan Sooji”

Kangjoon menggeleng, tentu itu tidak benar. Seandainya Jongsuk mengetahui seberapa besar kebencian putranya pada Sooji, dia jelas tidak akan berspekulasi segegabah itu.

“aku tidak tau paman” Gumamnya pelan sembari berpikir keras, kira-kira apa alasan Myungsoo selalu mengunjungi Yoorim—sementara dia sangat membenci putri dari wanita itu.

#

Myungsoo menggeram pelan, “sudah kukatakan aku membutuhkan laporan 3 bulan yang lalu—bukan bulan lalu” Dia menatap tajam asisten pengganti yang diberikan Kangjoon padanya seminggu yang lalu, baru satu minggu tapi dia yakin jika wajahnya sudah terlihat lebih tua 10 tahun.

Kinerja asistennya sangat buruk, tidak seperti Kangjoon yang sangat lincah dan tau apa kebutuhannya. Dia sama sekali tidak mengerti mengapa Kangjoon memberikannya asisten pengganti sementara pria itu kembali kepada ayahnya—bahkan selama satu minggu ini Kangjoon benar-benar tidak menampakkan batang hidungnya di dalam ruangannya ini. Benar-benar tidak biasa.

“ma—maaf tuan”

“kau hanya selalu minta maaf tapi tidak pernah memperbaiki kesalahanmu!” Bentak Myungsoo kesal, toleransinya sudah mencapai pada batas maksimal. Dia tidak bisa lagi membiarkan kesalahan lain terjadi di sini.

“keluar dan bereskan barangmu! Pergi ke Kangjoon dan katakan aku mengembalikanmu” Desisnya tajam, melihat tubuh wanita itu yang bergetar ketakutan dia hanya mencibir. Satu lagi yang tidak dia pahami, Kangjoon memberinya wanita yang jelas membuatnya semakin bingung.

“sa—saya permisi tuan”

Hanya gumaman kasar yang diberikan oleh Myungsoo sebelum wanita itu keluar, dia menghempaskan tubuhnya lalu menyandarkan kepala dikursi kebesarannya. Matanya terpejam, berusaha meredakan emosi yang kini menyelimutinya—tiba-tiba wajah wanita itu muncul dalam benaknya.

“ah sial!” Myungsoo langsung membuka matanya, menghilangkan bayangan wanita yang beberapa kali kerap mengganggunya.

Dia merasa tenang, karena akhirnya wanita itu mendengarkannya—Sooji sudah tidak mengganggunya lagi semenjak pengusirannya terakhir kali. Ini yang diinginkannya—tentu saja dan dia sangat senang, tapi ada saat dimana dia berpikir bahwa bukan seperti ini seharusnya.

Ada kalanya, wajah Sooji tiba-tiba muncul dalam kepalanya—seperti sekarang ini. Tidak—dia tidak memikirkan wanita itu sepanjang waktu, hanya pada waktu-waktu tertentu di mana dia merasa sangat lelah dengan pekerjaannya atau sangat marah karena kesalahan yang dilakukan oleh asistennya.

Myungsoo menghitungnya, Sooji muncul 3 kali dalam pikirannya selama satu minggu belakangan—dan ini adalah yang keempat kalinya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya sekarang, dia bahkan mengabaikan informasi yang mengatakan bahwa Wonho baru saja pulang dari liburan bersama calon istrinya.

Dia menggeram, tentu perasaan tidak terima itu masih ada—hanya saja, dia merasa jika perasaan itu tidak sekuat dulu, di mana Wonho memutuskannya demi menikah dengan pilihan ibunya. Dia merasa perasaan tidak suka itu perlahan memudar entah karena apa. Mungkin karena tau jika Wonho juga sudah memulai membuka hatinya untuk tunangannya saat ini, apalagi pernikahan mereka sudah semakin dekat—hanya tinggal menghitung hari.

“apa aku benar-benar harus merelakan Wonho?” Gumam Myungsoo mengusap wajahnya kasar, “tapi dia yang terbaik” Lirihnya pelan.

###

Sooji memutar bola matanya sambil mengunyah potato chipsnya, “aku bosan mendengarnya Soojung—sudahlah”

“tapi aku benar-benar menyesal—kau pasti sangat sedih saat itu” Ucap Soojung memelas, dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Sooji saat ditolak oleh Myungsoo dan parahnya dia tidak berada disisi wanita itu untuk menghiburnya.

“aku tidak separah itu, tenang saja. Ada Haeri yang menjadi tempat keluh kesahku” Sooji tersenyum lebar—dia sebenarnya lebih senang mendengar cerita tentang liburan Soojung kemarin dibandingkan harus membahas tentang pria sialan itu.

“ngomong-ngomong, thank buat oleh-olehnya. Katakan pada Wonho dia yang terbaik!” Sooji berseru, membayangkan barang-barang yang dibawa oleh Soojung kemarin ke apartemennya—semuanya benar-benar asli dan langka. Dia tidak percaya jika dia memiliki salah satu koleksi Summer dari Channel yang diproduksi limited dan hanya tersebar di negara tertentu saja.

“dia tau cara menyogokmu” Soojung berdecak.

“jadi bagaimana? Bulan madu kalian lancar?” Sooji langsung menyerang Soojung, kemarin Soojung hanya bercerita tentang dimana saja dia membeli oleh-oleh yang dibawanya dan mereka kemana saja, tidak dengan perkembangan hubungan mereka.

“bisakah itu disebut lancar?” Gumam Soojung dengan wajah memerah membuat Sooji memicingkan matanya, mengamati perubahan dari wanita itu—tiba-tiba dia berseru.

oh my god! You did it? God!” Soojung semakin menyembunyikan wajahnya yang merah saat mendengar teriakan tidak percaya Sooji.

“how?”

“we just did” Gumam Soojung pelan, Sooji berdecak dengan mata yang melebar.

“bagaimana rasanya? Apakah menyenangkan?” Sooji bertanya lagi, sumpah demi apapun—dia sangat penasaran dengan semua yang mereka lakukan selama satu minggu itu, Sooji berteriak histeris saat melihat Soojung mengangguk malu-malu. Dia mengepalkan tangannya dan memejamkan matanya erat.

“oh my god! He’s not a gay anymore! May god bless him”

“Sooji—pelankan suaramu” Soojung tidak sanggup mengangkat wajahnya—bahkan dihadapan Sooji dia sangat malu, mengakui apa yang dilakukannya bersama Wonho seperti membuat pengakuan dosa dihadapan pastur. Dia masih belum terbiasa dengan hal itu.

“kau tidak tau bagaimana perasaanku saat ini Soojung! Kau berhasil, Wonho berhasil—kalian bahkan bercinta! Demi tuhan, you had sex with him! Jika ada kata yang melebihi bahagia, maka itulah yang kurasakan saat ini” Sooji berujar cepat, dia kembali duduk disamping Soojung dan mengangkat kepala wanita itu untuk menatapnya.

“kau akan menjadi pengantin yang paling bahagia dua minggu lagi—ini luar biasa!”

Soojung tersenyum lebar, dia tau sebesar apa harapan Sooji akan hubungannya dan Wonho—meskipun dia sempat mengalami beberapa rintangan, tapi dia tidak menyerah untuk berusaha. Mencintai pria itu adalah pilihan yang sangat tepat.

“bagaimana kau merayunya untuk menidurimu?” Tanya Sooji frontal membuat wajah Soojung kembali memerah.

“aku tidak merayunya—sudah kukatakan, itu hanya terjadi begitu saja”

“aku tidak percaya. Pasti kalian telah melakukan sesuatu” Sooji menggeleng tidak percaya, membuat Soojung mendesah.

“aku memang tidak bisa membohongimu” Gumamnya, Sooji berseru.

“jadi katakan yang sebenarnya!”

“itu terjadi saat malam sebelum kepulangan kami” Soojung memulai, meskipun dengan sangat malu tapi dia tetap harus bercerita—bagaimanapun dia memang ingin membagi kebahagiaannya bersama Sooji.

“awalnya kami hanya bercerita tentang pernikahan kami—sampai aku menyinggung tentang orientasi seksualnya, apakah dia masih merasa tertarik dengan sesamanya atau sudah tidak lagi—” Soojung menarik nafasnya, melirik Sooji yang memasang wajah tidak sabar untuk mendengar kelanjutan ceritanya.

“dia hanya menjawab, kita bisa membuktikannya bersama-sama—dan setelah itu kami melakukannya”

“hanya itu?” Soojung menganggukan kepalanya.

“hanya itu, awalnya aku bingung dengan apa yang diakatakannya tapi—dia menciumku, setelahnya—kau tau apa yang terjadi” Soojung menutup wajahnya dengan suara yang mengecil diakhir kalimat.

“demi tuhan! Wonho yang mengajakmu lebih dulu? Pria itu benar-benar pria sejati!” Sooji tersenyum lebar, “kau pasti senang?”

Soojung mengangguk menatap Sooji,”tentu, aku merasa cintaku semakin besar kepadanya—aku tidak bisa membayangkan jika sampai saat ini dia masih seperti dulu”

Sooji mendesah, betapa menyenangkannya menjadi Soojung “apa aku juga bisa sepertimu?” Tanya Sooji pelan, Soojung mendekatinya lalu mengusap lengannya.

“aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu Sooji. Jika Myungsoo memang yang terbaik, kalian akan bersama. Percayalah” Sooji tersenyum kecil, meragukan perkataan Soojung. Dia tidak yakin—bahkan sampai saat ini Myungsoo tidak terlihat membutuhkannya, dia hanya menunggu seperti orang bodoh. Bagaimana Myungsoo mau mendatanginya? Disaat pria itu mungkin telah bahagia karena sudah tidak mendapat gangguan darinya lagi.

“yeah, I hope”

###

Pria itu mengetukkan jarinya di atas meja kayu bundar, matanya menatap segelas kopi yang masih sedikit mengepulkan asap dari dalamnya—sesekali pandangannya melirik ke arah pintu masuk, dan sesaat dia bernafas lega saat melihat sosok yang dinantinya memasuki café dengan langkah yang tergesa.

“maaf aku terlambat—dateline benar-benar membunuhku”

Sooji terengah lalu duduk dihadapan pria itu, merasa tidak enak karena harus membuatnya menunggu sementara dia yang telah mengajak pria itu untuk bertemu siang ini.

“tidak masalah Sooji—pesanlah makananmu, aku tau kau belum makan siang” Sooji tersenyum mendengarnya, dia kemudian memanggil pelayan untuk mencatat pesanannya.

“kupikir kita memang ditakdirkan untuk menjadi soulmate, Kangjoon?” Canda Sooji membuat pria itu mengangguk setuju, “kau selalu tau apa yang kuinginkan” Sambungnya lagi.

“aku hanya berusaha bersikap manis padamu, cantik” Sooji tertawa, diikuti oleh Kangjoon, “jadi apa yang bisa kubantu?”

“kau memang terbaik” Sooji mengangguk puas, dia baru beberapa kali bertemu dengan Kangjoon—tapi dia tidak tau jika bisa seakrab ini dengan pria itu, mungkin karena pembawaan pria itu yang supel jadi dia merasa nyaman padanya. Bahkan pria itu sudah tau maksud ajakannya siang ini, benar-benar pria yang sangat peka.

“jadi?”

“aku sudah berpikir selama dua minggu terakhir—” Sooji memulai, Kangjoon menyesap kopinya yang sudah menghangat dengan tatapan yang masih tertuju padanya.

“dan mungkin sekarang saatnya?” Sooji mengangkat alisnya, Kangjoon terdiam. Dia meletakkan gelasnya di atas piring kecil lalu menghembuskan nafasnya pelan.

“kau serius ingin melanjutkannya?” Sooji mengangguk pasti, “kau tau resikonya?”

“tentu—maka dari itu butuh waktu selama ini untuk mempersiapkan hatiku” Jawab Sooji yakin, namun Kangjoon masih memberinya tatapan yang meragukan.

“ayolah—kau bilang akhir-akhir ini dia kacau bukan? Bukankah itu waktu yang tepat?”

“kau memanfaatkan keadaannya” Kangjoon mencibir membuat Sooji tertawa pelan.

“terkadang—dibutuhkan strategi yang tepat untuk memulai sesuatu, lagipula apa yang kulakukan tidak sepenuhnya salah” Sooji menyeringai.

“aku tidak tau kau melakukan ini karena mencintai Myungsoo atau hanya terobsesi dengan orientasi seksualnya—” Kangjoon menghela nafasnya panjang, “tapi selama itu tidak merugikannya dan bisa membuatnya kembali normal—aku akan mendukungmu”

Sooji tersenyum puas, dia memang benar meminta bantuan Kangjoon untuk memuluskan rencananya. Setelah dua minggu berpikir keras—akhirnya dia berniat untuk kembali mendekati pria itu. Kali ini dengan hati yang benar-benar kuat, tidak rapuh seperti dua minggu yang lalu, dia bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa segala bentuk penolakan yang diberikan oleh Myungsoo tidak akan sampai melukai hatinya—bahkan yang terburukpun.

“jadi? Bagaimana jika kau pertemukan aku dengannya?”

Kangjoon berdecak, “selalu tidak sabar nona?” Sooji menyengir pada pria itu dan mengangguk kecil, menyampaikan betapa tidak sabarnya dia untuk bertemu dengan Myungsoo.

“aku hanya penasaran—sekacau apa dia? Kau benar-benar tega menyiksanya” Sooji terkekeh pelan, membayangkan bagaimana Myungsoo kewalahan menghadapi asisten-asisten yang diberikan Kangjoon padanya. Bayangkan saja, 5 kali mengganti asisten dalam dua minggu—jelas sekali jika pria itu sangat frustasi dengan para wanita.

“dia pantas mendapatkannya” Kangjoon mencibir, sesaat obrolan mereka terhenti karena pesanan Sooji tiba.

“kau tidak makan?” Kangjoon menggeleng dan menunjuk gelas kopinya yang sudah sisa setengah.

“hanya butuh kopi”

“terlalu banyak kafein tidak baik untuk tubuhmu, seharusnya kau makan” Sooji menggerutu membuat Kangjoon tertawa.

“terima kasih atas sarannya ma’am” Sooji memutar bola matanya, mengabaikan ejekan Kangjoon dan langsung menyantap pasta miliknya, Kangjoon hanya tersenyum mengamati Sooji.

Mereka memilih diam setelahnya, Sooji sibuk dengan makanannya sementara Kangjoon sibuk memperhatikan seisi café untuk membunuh waktu bosannya, “Sooji—”

“hmm?”

“Sooji lihat aku”

“apa?” Sooji tertegun saat mengangkat wajahnya dan dia merasakan jemari Kangjoon mengusap sudut bibirnya, pria itu tersenyum padanya—entah mengapa dia merasa senyumnya sedikit berbeda.

“ap—”

“sstt, just enjoy” Bisik Kangjoon pelan berusaha untuk tidak menggerakkan bibirnya, “he’s here. Right now” Sambungnya membuat tubuh Sooji menegang, dia tau siapa maksud Kangjoon.

“di mana?”

“hei—” Pria itu langsung menyentuh wajahnya saat dia hendak berbalik, lebih tepatnya mencegahnya untuk tidak melakukan pengamatan kemanapun, “you know the fun fact?”

Sooji mengerutkan keningnya bingung—dia sungguh tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Kangjoon saat ini, tingkah lakunya bahkan luar biasa aneh.

“what?”

Kangjoon tersenyum, lebih mengarah ke menyeringai—masih menatap mata Sooji membuat wanita itu tidak memalingkan pandangannya kemanapun, dia berdehem pelan lalu memajukan sedikit tubuhnya agar bisa mendekat pada wanita itu untuk membisikan seuntai kalimat yang ada dipikirannya saat ini.

“I think I see a jealously when he saw us”

#

“ada apa denganmu belakangan ini Myungsoo?”

Jongsuk menatap anaknya penuh selidik, dia tidak bisa membiarkan masalah ini lebih lama lagi—sudah dua minggu kinerja Myungsoo menurun, dua hari yang lalu bahkan mereka hampir saja kehilangan tender besar akibat kelalaian putranya yang tidak berkonsentrasi di dalam ruang rapat.

“tidak ada apa-apa” Jawabnya ketus, sejujurnya hubungan mereka berdua masih belum bisa dikatakan baik semenjak acara ulang tahun Jongsuk kemarin—Myungsoo masih mengeluarkan aura permusuhannya pada ayahnya itu, dia hanya akan menanggapi Jongsuk jika ditanyai mengenai pekerjaan. Tidak lebih.

“jangan berbohong nak, jangan ragu untuk membagi masalahmu pada ayahmu ini” Ucap Jongsuk membuat Myungsoo mencibir melirik ayahnya tajam.

“apa pedulimu dengan masalahku? Urus saja calon istrimu tuan!”

Dia berseru lalu beranjak dari kursinya lalu meninggalkan ruangan Jongsuk, dia memang salah mengikuti permintaan ayahnya untuk datang ke ruangannya.

Myungsoo melangkahkan kakinya lebar-lebar untuk meninggalkan kantor, dia sudah sangat penat untuk melanjutkan pekerjaannya. Belum lagi masalah Kangjoon yang sama sekali tidak mau berbicara ataupun bertemu dengannya sampai hari ini, sekarang ayahnya lagi datang merecoki urusannya.

Dua minggu ini dia benar-benar merasa kacau, bukan hanya karena kerjaannya yang menumpuk—tapi karena Kangjoon tidak ada dan membantu pekerjaannya dia semakin tertekan ditambah lagi dengan asisten sialan pengganti Kangjoon—mereka benar-benar wanita bodoh.

“aku membutuhkan asupan kafein” Gumamnya kasar, dia masih merasa marah tapi sama sekali tidak tau marah pada siapa, ayahnya kah, Kangjoon kah, atau pada dirinya sendiri. Myungsoo tidak tau, yang jelas sekarang dia membutuhkan kopi hitam untuk menjernihkan otaknya yang sudah terlalu kacau.

#

Menghela nafas panjang, Myungsoo turun dari mobilnya dan menatap pintu café. Ini adalah tempat langganannya bersama Kangjoon, mereka sering nongkrong di sini—ah, dulu dia juga sering datang bersama Wonho.

Mengingat Wonho, rahangnya mengeras—dia masih sangat ingat kejadian beberapa bulan yang lalu di mana pria itu memutuskannya secara sepihak ditempat ini. Myungsoo tidak percaya jika dia bisa kembali ke sini setelah mati-matian berusaha untuk tidak pernah kembali lagi ke tempat di mana kesialannya bermula.

Dia membuka pintu café, dan seolah mengalami déjà vu—rekaman di mana Wonho dan dirinya sedang duduk berdua disebuah meja terlintas dimemorinya, sampai di mana Wonho mengucapkan kalimat sialan itu.

“kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini, maaf— Maafkan aku”

Myungsoo menggelengkan kepalanya, dia ke tempat ini untuk menenangkan pikirannya bukannya semakin membuatnya kacau dengan memikirkan mantan sialannya itu. Dengan helaan nafas panjang dia melangkah menuju counter untuk memesan kopinya, tapi baru saja dia melangkah tiba-tiba pemandangan itu membuat kakinya berhenti.

Alisnya berkerut melihat kedua orang yang sepertinya sedang menikmati waktu istirahat mereka, “apa yang mereka lakukan di sini?” Myungsoo bergumam pada dirinya sendiri, mengabaikan bahwa dia masih berdiri tak jauh dari pintu masuk, mengamati dua orang yang dikenalnya.

“sedekat apa Kangjoon dan Sooji sampai mereka menghabiskan waktu bersama?” Desisnya penasaran, matanya seketika memicing saat melihat aksi tidak terduga Kangjoon.

“apa-apaan” Myungsoo mendesis pelan saat melihat tangan Kangjoon menyentuh wajah Sooji, mereka bahkan terlihat sangat dekat saat berinteraksi, dia lagi-lagi mengumpat pelan melihat Kangjoon mendekati wanita itu.

Seharusnya dia melangkah menuju kedua orang itu, dia yakin jika tadi Kangjoon sempat melihatnya—jadi seharusnya dia menghampiri mereka tapi yang terjadi adalah sebaliknya, tanpa sadar dia berbalik dan melangkah keluar dari café dengan wajah yang mengeras

“sial!” Myungsoo kembali mengumpat saat masuk ke dalam mobilnya, dia mengurungkan niatnya untuk membeli kopi di sana. Sekarang bukan kopi yang dia butuhkan tapi air dingin untuk mengguyur seluruh tubuhnya yang tiba-tiba saja merasa panas. Dia tidak tau mengapa bisa merasa emosi saat melihat dua orang itu bersenang-senang sementara dirinya sedang kacau.

“dasar wanita sialan!”

###

TBC.

22 responses to “My Lovely Mr. Gay Part 8

  1. Rasain tu myungsoo, biar dia tau rasa hahahhaaa… Tp tdi s4 deg2an jg, kupikir kangjoon tb2 ada rasa gt tyt krn mau bkin myung cemburuuuu..hihihiii… Tambah kacau aja ni pikiran mr. Gay ☺… Next fighting…

    Liked by 1 person

  2. Antara 2 dugaanku ,myung nulai jealous lihat kangjoon sm suzy, atau dia kesal sama suzy dan semakin bener beranggapan smua wanita sama dgn ibunya. Semoga dugaanku yg pertama yg bener yg mulai jealous, klo iya kayanya kangjoon sm suzy hrs sering berpura2 pacaran di dpn myungsoo kkk biar tmbh panas lol , tp aku sempet pengen kangjoon jg suka ke suzy hihi..biar cinta segitiga lol ,ditunggu nextnya ya thor..

    Liked by 1 person

  3. Oho masih belum jelas kenapa myungsoo merasa kesal. Karna tau sooji bersama kangjoon kah atau karna kangjoon yang bersenang2 di saat dia merasa susah? 😂😂

    Liked by 1 person

  4. Dengan kejadian seperti itu apa tidak membuat myungsoo makin bertambah membenci yg namax wanita ya..
    Semoga renca suzy lancar..
    Kesel juga sama myung kalau tiap hari dia marah marah mulu.

    Liked by 1 person

  5. Hayoo myung kesel kan suzy sama yabg lain
    Tapi ini myung marah karna cemburu atau karna yang lain?
    Takutnya myung semakun benci sama suzy…
    Ditunggu part selanjutnya thor

    Liked by 1 person

  6. So … You feel it myungsoo 😅
    Cemburu gak enak kan 😂 apalagi sama temen sendiri
    Dan tinggal menunggu waktu aja … Wonho aja sembuh masa Myung mau kalah saing 😂
    Dan selamat berjuang uri unnie #mainmata ke suzy

    Liked by 1 person

  7. Kereen kak
    Terbawa ke dalam ceritanya banget berasa tersayat2 hehehe
    Gomawo sdh update. Ditunggu update selanjutnya,hwaiting^^

    Liked by 1 person

  8. Hhahahhahahha myung uring2n krna suzy kn….
    Makany jg batu myung kn nyssel jdny….
    Myung kesel krna suzy kn makang dy blg dasar wanita sialan..
    Aaaaaas gak sabar ma kelanjutanny

    Liked by 1 person

  9. Myungsoo cemburu bilang! Jgn alasan pke bilang suzy wanita sialan😂😂😂😂. Bilang aja cemburu sama kangjoon😜, tau gtu terus aja suzy sama kangjoon dketan klo ada myungsoo biar dia cemburu dan akhirnya luluh😄

    Liked by 1 person

  10. Wkwkw, entah kenapa aku ngerasa seneng ngeliat myungsoo emosi begitu, apalagi myungsoo emosi karena ngeliat kedekatan antara suzy sma kangjoon yg di satu sisi berarti myungsoo cemburu kan.. Hehehe #soktaunihanak, ahhh, perfect bgt deh buat cerita eon yg slalu kutunggu ini, semakin lama makin menarik bikin penasaran sma ceritanya, aku menanti hal apa yang bakal di lakuin suzy untuk meluluhkan hati seorang myungsoo, kekeke lanjut lagi yah eon, fighting!!

    Liked by 1 person

  11. Kangjon hhang (Y) hihi aku gak nyangka dia akan membuat myungsoo cemburu😀 aku sempt takul awalnya, jangan2 kangjon malah mulai tertarik dengan sooji. Ternyata dia punya maksud lain. Dan itu berhasil…… Myungsoo pergi dengan emosi yg membara haha😀 apa itu artinya myungsoo mulai merasakan rasa tidak suka melihat sooji bersama namja lain? Next part yah thor… Makin keren (Y)

    Liked by 1 person

  12. Myungsoo Jealous eoh?????
    WOW…. It’s a good news and finally…. Makin penasaran apa Чá♌ƍ direncanakan kangjoon-suzy ke myung yah…..
    I hope Myung’s feel is jealous… Нaнaɑº°˚=Dнaнaɑº°=D=D

    Liked by 1 person

COMMENT FOR WHAT YOU HAVE BEEN READ!!!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s